Bagi penulis kadang-kadang tidak mengenal adanya hari libur. Maklum di kampus menulis, sekarang ini di rumah (hari Minggu) juga menulis. Bedanya  kalau di kampus ketemunya sama murid-murid, sedangkan di rumah sama keluarga. Maklum, menulis itu telah menjadi suatu hiburan juga sih.
-
Ukurannya relatif kecil, hanya 6.5 Mb, yaitu buku tentang beton pracetak dari negara Inggris. Buku tersebut banyak berisi foto-foto dari praktisi. Ini sampul depannya :
Jika belum punya dan tertarik bidang pracetak, silahkan download di sini.
Note : informasi teman yang lain ya, maklum gak jamin ada terus. 😀
-
Setiap mata kuliah yang aku berikan, aku evaluasi berdasarkan dua kriteria [1] kriteria kompetensi, disini hasil ujian aku cocokkan dengan jawaban yang aku buat, jika tidak ada keselarasan maka bisa-bisa nilainya dikasih nol, tetapi jika aku anggap selaras nilainya seratus. Kriteria tersebut kadang ada yang menganggap mengerikan, oleh karena itu ada lagi kriteria yang lain, yaitu [2] kriteria kerajinan. Jadi nilai itu dibuat berdasarkan kerajian mahasiswa membuat PR atau tugas yang diberikan.
-
Catatan : ini opiniku mengapa konstruksi baja di Indonesia relatif lebih mahal dibanding beton bertulang. Silahkan direnungkan dengan baik, kebenarannya tentu saja tergantung data yang digunakan, yaitu yang aku ambil dari data Worldsteel Association. Jika ditunjang data yang lebih valid dari dalam negeri, tentu akan lebih mendekati kebenaran. Apa yang aku tulis ini memang keluar dari bidang keahlianku, tetapi saya kira bermodal nalar dan logika sederhana anda pasti mampu untuk mengikutinya. Moga-moga.
Tingginya peradaban bangsa (negara) pada jaman dahulu dapat diketahui dari bangunan fisik yang ditinggalkan. Lihat saja bangsa Mesir (juga bangsa Inca) dengan piramida, bangsa Cina dengan tembok besarnya, adapun Indonesia dengan candi-candi besarnya, candi Prambanan dan Borobudur. Itu tadi adalah jaman dahulu, dalam era kemajuan seperti sekarang ini dimana komunikasi dan transportasi telah menjadikan batas samudra tidak lagi menjadi halangan, maka keberadaan suatu bangunan yang istimewa dapat ditemui dimana saja, tidak tergantung dari kemampuan rekayasa bangsa itu sendiri. Bahkan jika keadaan itu digabung dengan adanya kebijakan politik mercu-suar suatu negara, maka jelas saja pemilihan bangunan fisik sebagai indikator tingginya peradaban bangsa sebagaimana di jaman dahulu, tentunya bisa menyesatkan. Jadi sekarang ini perlu indikator lain sebagai petunjuk tingginya peradaban atau kemajuan bangsa.
-
Adakah yang masih merasa heran mengapa iklan Coca-cola terus menerus disiarkan, juga posternya menempel dimana-mana, padahal sejak kecil kita juga tahu bahwa itu adalah merek minuman terkenal dan rasa-rasanya tidak ada dari kita yang tidak tahu. Bukankah membuat iklan itu mahal, jika demikian apa itu tidak membuang duit saja.
-
Kemajuan peradaban umumnya selalu dikaitkan dengan pembangunan fisik. Lihat saja keberadaan bangunan piramida besar di Mesir dan juga candi Borobudur di Indonesia.
Jaman berganti jaman, waktu berganti waktu, semakin maju peradaban maka pembangunan fisik tidak hanya mengarah pada bangunan monumental atau sekarang adalah bangunan gedung tinggi saja (ini ada materi kuliahnya dari aku), tetapi selanjutnya juga mengarah pada bangunan jembatan. Semakin panjang bentang jembatannya, maka semakin tinggi tingkat peradaban yang diperlukannya. Maklum untuk  bentang yang semakin meningkat, dukungan ilmu pengetahuan dan dana yang semakin besar juga semakin meningkat. Ingat bahwa hanya bangsa yang tinggi peradabannya, yang punya kekayaan dan akses ke ilmu pengetahuan yang diperlukannya.
-
Ada pertanyaan :
Doddy Tan pada 3 Mei 2013 pada 20:23 berkata:
Salam kenal pak. Saya Doddy. Mohon berkenan memberikan sedikit pencerahan kepada saya. Saya bukan dosen tidak tetap, tetapi diminta untuk menjadi dosen tetap, tetapi pada saat yang sama saya juga diminta menandatangi kontrak kerja berupa ‘perjanjian kerja waktu tertentu’ selama setahun yang kemudian akan dievaluasi dan atau saya yang mengajukan untuk mau melanjutkan kontrak lagi. Tidak ada jaminan dalam isi kontrak pkwt tersebut setelah habis masa kontrak saya pasti akan dijanjikan jabatan yang sama kembali.
Saya kuatir nasib saya seperti seorang teman dosen yang sudah rela meninggalkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan dan bergabung menjadi dosen tetap tapi dikontrak pkwt selama dua tahun, yg kemudian beliau dinilai tidak baik kinerjanya dan kontrak tidak disambung, sementara nama dia masih tercantum sebagai dosen tetap selama 4 tahun (artinya masih ada 2 tahun lagi).
Saya bingung, kenapa bisa ada dua pengangkatan, yang satu sebagai dosen tetap, satunya lagi ada pkwt?
apakah pekerjaan dosen termasuk ke dalam pekerjaan yang boleh di outsource? apakah ini berarti juga sebuah mannipulasi outsourcing terhadap profesi dosen ?terimakasih sebelum dan sesudahnya.
Tanggapan :
lho koq begitu ya ?
-
Akhirnya, setelah usaha begitu lama, sejak penerbitan buku saya yang terakhir, tahun 2007, Â yang berarti setelah lima tahun berlalu akhirnya terbit juga buku yang ditunggu-tunggu. Lihat penampakannya : Â

Ada dua versi yang berhasil dibuat yaitu hardcover (buku kiri) yang dicetak sebagai edisi terbatas yang awalnya sebagai hadiah kepada para sponsor yang terlibat, dan juga edisi softcover (buku kanan) ini yang akan direlease ke masyarakat teknik sipil dengan biaya Rp 180 ribu. + ongkos kirim.
Buku ini rencananya didistribusikan melalui on-line saja, melalui situs http://lumina-press.com, belum ada pemikiran untuk diedarkan melalui toko buku. Maklum pembelinya dianggap lebih banyak yang berbasis dari pembaca blog. Jadi jika melalui toko buku dianggap tidak efektif. Itu tentu saja hipotesis yang perlu dibuktikan.
Buku tersebut telah diusahakan yang terbaik yang dapat dibuat. Mohon masukan dan kritikan agar buku-buku berikutnya dapat lebih baik.
O ya diucapkan banyak terima kasih telah menunggu buku tersebut.
salam dari penulis
-
Baru dapat email dari teman sejawat, Bapak Dr. Sholihin Asad, dosen senior di UNS Solo, yang meminta untuk menginformasikan rencana akan adanya Konferensi Nasional Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7), pada hari Kamis tanggal 24 – 25 Oktober 2013 di Kampus UNS, Solo. Ini alasannya : “Setahu saya, blog pak Wir sangat populer di pembelajar struktur, mahasiswa dan dosen“. Nggak tahu kenapa, mungkin karena sepotong komentar pak Asad tersebut maka langsung tidak jadi tidur (siang), ngantuknya hilang, dan jadi semangat untuk menulis.

