• Tidak terasa, semenjak selesai studi S3 ternyata dijumpai juga beberapa penelitian yang dilaksanakan bukan atas kemauan sendiri, alias atas permintaan pihak tertentu. Jadi bisa juga dikatakan bahwa apa yang saya lakukan tersebut adalah penelitian pesanan.

    Nah lho, seorang Wiryanto saja mau melakukan penelitian pesanan, apalagi yang lain ya. He, he . . . .   Eh, emangnya ada yang salah dengan yang dimaksud pesanan itu. 😀

    (lebih…)

  • Untuk menjadi ahli, maka syaratnya sederhana yaitu mau konsisten untuk terus belajar. Bagaimana jika telah lulus atau tepatnya jika telah tuntas menyelesaikan pendidikan formal, S3 misalnya. Ya kalau  begitu, tentunya adalah belajar mandiri. Lalu bagaimana jika teman-teman di lingkungannya sudah nggak ada lagi yang bisa diajak diskusi, khususnya untuk tema ilmiah yang sedang digeluti. Jika tidak bisa atau tidak tahu terhadap suatu kasus atau masalah, maka satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah dengan membaca literatur ilmiah bermutu.

    (lebih…)

  • Saya merasa tergugah untuk memberi tanggapan terhadap “curhat” seorang sarjana teknik listrik yang meskipun pernah mendapat pendidikan yang baik, mulai dari tingkat dasar sampai menyelesaikan tingkat sarjananya, tapi masih merasa belum apa-apa.

    (lebih…)

  • Judulnya nggak usah panjang-panjang, tetapi saya yakin prediksi awal anda tentang apa maksudnya, pasti akan banyak benarnya. Betul, tulisan ini memang akan membahas tentang gonjang-ganjing politik yang berujung nanti pada pesta demokrasi 2014. Bagaimana lagi, tahun depan bukankah yang ditunggu-tunggu adalah itu khan. Maklum dengan kepemimpinan seperti sekarang ini, kelihatannya terkesan banyak jalan di tempat. Itu lho penyelesaian tentang kasus-kasus korupsi yang beritanya sudah kemana-mana tapi koq kesannya belum ada ujungnya. Kesannya menunggu sesuatu gitu lho.

    Menunggu apa pak Wir. Bapak khan biasanya banyak memprediksi tentang perilaku struktur, yang memang merupakan keahlian profesional Bapak selama ini. Kenapa sekarang menulis tentang hal-hal politik ?

    Kenapa tidak. Bidang politik kelihatannya mempunyai kondisi berbeda dibandingkan bidang rekayasa. Bidang kita ini (rekayasa) kelihatannya selain fokus juga memerlukan ketekunan menggeluti bidang tersebut untuk menjadi ahli atau agar sukses. Belum pernah saya jumpai, teman yang ahli bidang rekayasa tetapi berasal dari luar keilmuan yang dipelajari disekolahnya. Kalau ilmu politik atau mungkin tepatnya, pelaku politik, maka latar belakang keilmuan bisa macam-macam,  yang bergelar insinyur juga banyak bukan. Kalau masih belum yakin, kenali saja ketua Golkar, juga DKI-1 mereka latar belakang pendidikannya adalah insinyur juga bukan.

    Intinya, untuk menjadi pelaku politik maka latar belakang bidang pendidikan yang ditekuninya tidak harus ilmu sosial. Jadi kalau seperti aku, yang punya pengalaman memprediksi perilaku struktur, kemudian mencoba peruntungan untuk membuat prediksi politik negeri ini, rasa-rasanya bukan sesuatu yang aneh bukan. Yang jelas, kita selaku warga negara pasti punya kecenderungan, kepada siapa sebaiknya pilihan kita. Kalau tidak setuju dengan pendapat ini, pasti anda golput. Betul nggak.

    O ya, membaca prediksi politik dari orang awam seperti aku ini bahkan kadang penting juga. Maklum ini khan bisa menjadi gambaran, bagaimana citra politikus diterima oleh masyarakat banyak (awam) seperti aku ini. Jika aku, yang pada dasarnya tidak terlalu tertarik politik, tetapi bisa punya argumentasi kepada siapa hak-hak suaranya kira-kira dapat diberikan, maka itu jelas berita bagus bagi para politikus. Maklum, saat ini khan para politikus kelihatannya sangat percaya sekali dengan hasil survey bukan. Nah tulisan ini khan lebih dari sekedar survey, bisa ditelaah secara lebih rasional dan logis.

    Baik kita mulai prediksinya.

    (lebih…)

  • Kompas, Sabtu, 31 Agustus 2013, halaman 12 : “Unsrat Wajibkan Naskah Akademik Ditulis Tangan“.

    Berita kecil tentang dunia pendidikan di Indonesia, khususnya dari kampus Universitas Sam Ratulangi, Menado. Pada berita tersebut disebutkan bahwa dalam rangka mencegah plagiarisme yang mewabah di sana, maka pihak kampus mewajibkan mahasiswa S-1 dan S-2 menulis tangan untuk setiap naskah akademik mereka.

    Itu tadi sedikit rangkuman dari berita di Kompas Sabtu ini. Tidak tahu kenapa, mengapa aku tertarik sekali untuk mengulas hal di atas.

    OK, sebelum mengemukakan apa pendapatku, maka ada baiknya aku tanyakan dahulu kepada anda sekalian. Apakah berita di atas dapat dianggap sebagai suatu terobosan baru di dunia pendidikan di Indonesia atau bahkan suatu kemunduran. Apakah pendapat anda ?

    Bagi Rektor Unsrat, Bapak Donald A. Rumokoy tentu tidak perlu ditanya lagi. Maklum beliau pada berita tersebut sangat yakin sekali bahwa kebijakan menulis tangan tersebut akan memutus mata rantai plagiarisme. Bahkan beliau juga menyajikan data bahwa ada sekitar 50% tugas akademik mahasiswa dilakukan dengan menjiplak naskah temannya atau materi akademik lain melalui internet. Kebijakan Rektor mendapat dukungan di bawah, bapak Jeffery Kindagen, Dekan FT Unsrat mengamini dan menyatakan juga bahwa hal itu telah diberlakukan di fakultasnya.

    (lebih…)

  • Hari Selasa, Rabu dan Kamis tanggal 20 – 22 Agustus 2013, bertempat di Hotel Borobodur, Jakarta Pusat, berlangsung perhelatan besar para civil engineer dunia di Jakarta.

    Dunia, karena seminar tahunan HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia) ini, bergabung bersamaan dengan seminar tiga-tahunan CECAR (Civil Engineering Conference in The Asian Region) ke-6. Jadi, jika biasanya seminar HAKI hanya berlangsung selama dua hari, maka kemarin itu menjadi tiga hari lamanya (belum termasuk work-shop lho).

    Meskipun berlangsung selama tiga hari, tetapi karena banyaknya pemakalah maka acaranyapun dibagi-bagi lagi dalam beberapa kelas paralel. Hebat, hebat, hanya sayangnya saja matanya hanya dua, jadi terbatas untuk bisa mengikuti semua. Oleh karena itu kadang bingung sendiri materi apa yang akan diikuti. Maklum, judul-judul makalahnya bervariasi, mulai dari jembatan bentang panjang, bangunan tinggi tahan gempa, BIM (Building Information Modelling), bahkan ada juga yang membahas soal anti korupsi.

    Bingung ya. Koq sampai anda sesion anti korupsi diacara para civil engineer. Saya juga bingung, tetapi yang jelas kebanyakan yang menyampaikannya adalah tamu manca negara. Logikanya sih, proyek-proyek konstruksi itu khan menyedot dana publik yang begitu besar, jadi strategi menghindari korupsi perlu diupayakan agar dana yang dikeluarkan benar-benar untuk proyek konstruksi (tidak bocor). Jika demikian maka mutu pekerjaan bisa terjaga.

    (lebih…)

  • Memang benar nasehat orang bahwa adanya masalah jika disikapi dengan baik, dapat menjadikan kita semakin berkembang. Tentu itu akan terjadi jika masalah tersebut telah mendapat penyelesaian, jika tidak dan masalah tersebut dibiarkan menumpuk maka kita bisa “mengkeret” ( mengecil, lawan dari berkembang) jadinya.

    Pada bidang engineering, juga sama saja. Adanya masalah rekayasa yang dapat disenyelesaikan atau dicari penyelesaiannya secara memuaskan, membuat kita akan semakin pede. Ke depannya tentu akan menjadi semakin baik. Untuk itulah maka penting bagi kita, agar selalu menjaga kesehatan, tidak hanya fisik saja, tetapi juga kemampuan rohani sehingga ketika ada masalah masih tetap mampu bertahan, berjuang dan memikirkan solusinya secara elegan dan berhikmat, untuk akhirnya dapat menemukan jalan keluarnya. Salah satu usaha yang membantu pikiran, dalam rangka mendapatkan jalan keluar bisa saja mulai dari membaca blog ini. He, he, … 😀

    Wah pak Wir sekarang sudah jarang menulis ya ?

    Nggak juga. Frekuensi menulis bahkan akhir-akhir ini semakin banyak, maklum buku struktur baja in progress khan. Tahu sendiri, menulis itu seperti menyelami dunia dengan banyak pikiran. Maksudku bahwa dalam menulis, khususnya yang berbasis ilmu pengetahuan (makalah ilmiah) maka proses membaca tulisan orang lain adalah mutlak adanya. Dengan banyak membaca dan dapat menuliskannya lagi, pikiran kita bekerja. Dari sana kita bahkan dapat membandingkannya dengan hasil pikiran (tulisan) orang lain. Kita bisa menjadi kritis. Sehingga pada akhirnya akan tahu apa yang sebaiknya ditulis, yaitu memahami yang selaras dengan pikiran-pikiran sebelumnya yang sudah diyakini kebenarannya.

    Kebenaran bagaimana pak ?

    Ya itu tadi, kalau sedang menulis tentang struktur baja, maka tentunya kebenaran tentang struktur baja itu sendiri.

    Eh, lagi asyik-asyik menulis buku (jadi sebenarnya nggak ada minat menulis di blog), tahu-tahu ada kiriman link dari pak Sanny Khow tentang adanya masalah di proyeknya (di California, USA), yang menyangkut tentang struktur baja. Wah peminatan yang sama.Bagus sekali ternyata, bahkan dapat dijadikan contoh kasus bagaimana suatu perkembangan ilmu pengetahuan itu selalu dimulai dari masalah, sebagaimana yang aku ungkap di atas.

    Mau tahu ?

    (lebih…)

  • Buku SAP2000 ya pak ?

    O ya jelas bukan tho dik. Kalau buku yang itu khan sudah lama dipasarkan via on-line di http://lumina-press.com . Memang sih baru melalui sarana itu dulu, tetapi saat ini sedang dijajaki koq untuk di pasarkan via toko buku. Sudah punya belum hayo ?

    (lebih…)

  • Yah betul, ini terkait dengan kelelahan logam (fatigue). Terus terang saya masih belum mantap dengan terjemahan bahasa Indonesia-nya, yaitu  fatik. Secara pribadi, saya merasa lebih mantap jika memakai kata fatig. Konsonan “g” terasa lebih berat dibanding “k”.

    (lebih…)

  • Ada komentar masuk, menarik juga. Ini yang aku maksud :

    pak wir, oot ya.
    menurut bapak apakah penting transfer knowledge mengenai advanced science bagi para mahasiswa mengingat perkembangan ilmu yang pesat ? karena saya liat dosen2 hanya memberikan fundamental saja, tapi ada juga yang sudah memberikan sekilas video dan gambar namun sebatas mengulang penjelasan dari yang membuat konten tersebut, ya mungkin terbatas pada patent jadi tidak tau persis gimana cara kerjanya. Kadang saya pikir, kalo universitas-universitas di Indonesia hanya fokus pada fundamental saja, apa nantinya kita semakin ketinggalan gitu.

    Menurutku ini cukup menarik, maklum yang bersangkutan telah membuat dikotomi antara advance science dan yang fundamental saja. Padahal kalau mau ditanyakan bahwa yang dimaksud dengan advance science saja maka interprestasinya bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Betul nggak.

    (lebih…)