Strut-and-tie models atau s.t.m merupakan suatu metode perencanaan struktur beton bertulang / prategang yang relatif baru. Metode tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan cara penulangan yang konsisten untuk bagian-bagian struktur beton yang dahulu hanya diketahui berdasarkan aturan-aturan empiris sebelumnya, misal : kenapa tulangan lapangan harus diteruskan ke bagian tepi yang notabene momennya adalah nol , bagaimana suatu lobang (opening) pada balok harus diberi tulangan saling silang membentuk pigura, dsb.
Intinya bahwa dengan memahami s.t.m maka berbagai detail penulangan struktur beton yang dahulu tidak dapat diselesaikan dengan analisis penampang akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan pemakaian s.t.m dapat secara mudah menyelesaikan problem yang secara rumit diselesaikan dengan f.e.m (finite elemen method).
Metode tersebut mula-mula berkembang dari Eropa (Swiss dan Jerman), sedangkan istilah s.t.m dibakukan oleh Prof. Schlaich dari Uni-Stuttgart sekitar tahun 1986 . Setelah itu cara tersebut populer dan menjadi bahan penelitian di seluruh dunia khususnya di USA dan Kanada.
Banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa teori s.t.m mendekati hasil laboratorium akhirnya metode tersebut diadopsi oleh ACI 318 pada tahun 2002.
Meskipun peraturan beton kita yang terbaru bertahun 2002 juga tetapi sebenarnya masih mengacu pada peraturan ACI sebelum 2002 , sehingga belum ada.
Sejak tahun 2002 sampai sekarang, peneliti Indonesia jarang yang membahas metode tersebut. Sepengetahuan penulis hanya teman-teman ITB, UGM, Petra dan UPH yang pernah menulis makalah tentang itu (termasuk pak Steffie di luar lingkungan tersebut). Sedangkan UPH ternyata telah lebih jauh lagi, karena sebuah buku telah diterbitkan secara khusus membahas s.t.m oleh Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra.
Jika mengacu pada publikasi tentang s.t.m, maka terbukti UPH lebih di depan dibanding teman-teman yang lain tersebut. Wah mosok? Ah, yang benar?
Yah memang, bagi masyarakat awam tentu mengherankan. Tetapi kalau dilacak lebih ke dalam, maka hal tersebut tentu tidak mengherankan. Kenapa ?
Ya itu tadi, ternyata Prof. Harianto adalah alumni Uni Stuttgart dan merupakan murid langsung Prof. Schlaich penemu s.t.m . Bahkan beliau adalah satu-satunya doktor dari institut tempat Prof. Schlaich yang menekuni dunia pendidikan di Indonesia yaitu di UPH (Universitas Pelita Harapan). Jadi wajar, jika beliau mempunyai ketertarikan yang lebih pada s.t.m tersebut.
Apa hubungannya dengan Wiryanto ? Apa ya ? Ya jelas ada, sebagai engineer yang mengikuti beliau sejak muda (dibawah 30 an) sehingga sampai sekarang, sejak dari PT. W&A , PT. Pdw , UNTAR dan sekarang yaitu UPH. Termasuk juga dengan membantu beliau untuk berbagai proyek-proyek yang cukup strategis, tentu mendapat cukup banyak ilmu yang dapat diserap dari beliau. Termasuk s.t.m tersebut. Bahkan atas jasa beliau, saya mendapat kesempatan magang selama tiga bulan di Uni-Stuttgart meneliti masalah s.t.m, dibawah dibawah bimbingan Prof. Reineck, teman senior Prof. Harianto yang mengembangkan s.t.m setelah Prof. Schlaich pensiun. Jadi sedikit-sedikit bisa lhah.
Meskipun sejak penelitian di Uni-Stuttgart (2002), belum ada makalah yang saya buat tentang s.t.m, tetapi itu bukan berarti saya sudah melupakan s.t.m (strut-and-tie models). Kebetulan beberapa minggu lalu, teman lama yang menjadi direktur di konsultan struktur menghadapi permasalahan perencanaan balok transfer. Selanjutnya kesempatan tersebut saya gunakan untuk ber-nostalgia kembali dengan s.t.m . Menyadari bahwa s.t.m tidak banyak yang menggelutinya maka aku tertarik untuk mempublikasikan masalah tersebut secara luas. Kebetulan ada seminar nasional di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang pada hari Rabu tanggal 20 Desember 2006 ini. Adapun judul makalah yang akan aku bawakan adalah:
Metode s.t.m untuk Perencanaan Struktur Transfer-Wall Proyek ‘Kota Kasablanka’ Jakarta
Abstrak : Arsitektur mensyaratkan bahwa ada satu kolom yang mendukung banyak lantai di atasnya tidak bisa diteruskan ke pondasi, sehingga harus dialihkan menjadi dua kolom lain di bawahnya. Besarnya gaya reaksi kolom yang dialihkan memerlukan sistem struktur khusus yaitu transfer-wall. Akibat rasio bentang terhadap tinggi transfer-wall yang tidak memenuhi kriteria balok lentur, maka perlu perencanaan khusus sesuai persyaratan balok tinggi. Karena prosedur perencanaannya yang detail belum ada di SNI 03-2847-2002 maka dipakai metoda strut-and-tie model (s.t.m) dari ACI 318-02. Metoda s.t.m awal mulanya adalah hasil penelitian di Uni-Stuttgart, Jerman, oleh Schlaich et. al. (1987), kemudian berkembang pesat (Adebar et. al. 1990; Jirsa et. al. 1991; K.H. Reineck 1996, 1999, 2002), sampai akhirnya diadopsi oleh ACI 318-02. Makalah ini menyajikan aplikasi s.t.m versi ACI 318-02 untuk perencanaan transfer-wall pada Proyek “Kota Kasablanka”, Jakarta.
Kata kunci : strut-and-tie model, sistem balok tinggi, struktur transfer-wall
Tertarik mempelajarinya juga, silahkan aja di down-load di KARYA TULIS saya.







Tinggalkan komentar