kelebihan hammering pile itu apa ya ?

Ada beberapa mahasiswa UPH yang mengambil program dual-degree, International Civil Engineering Management, kerja sama dengan Hanze University Groningen di Belanda. Pada program tersebut, mahasiswa UPH selama semester 6 dan 7, yaitu satu tahun, belajar di sana (Groningen Belanda). Selain UPH, universitas lain di Indonesia yang melakukan kerja sama dengan Hanze ada beberapa, yaitu Universitas Trisakti (Jakarta), UNPAR (Bandung) dan PETRA (Surabaya).

Program tersebut merupakan opsi lain dari kurikulum pendidikan yang diberikan di Jurusan Teknik Sipil UPH. Disebut opsi, karena pilihan saja, untuk mengikutinya perlu biaya khusus, yang berbeda dengan reguler. Oleh karena itu, tidak pada setiap angkatan ada mahasiswa yang tertarik mengikutinya. Setelah lama kosong, ternyata tahun ini cukup banyak mahasiswa yang tertarik mengikuti program tersebut, salah satunya adalah Ardhika.

Meskipun sudah di negeri keju, Ardhika ketika ada yang mau ditanyakan, ternyata lebih suka tanya dosennya di Indonesia. Coba perhatikan emailnya berikut.

Selamat malam Pak WIr, apa kabar ?
 
Pak, mau nanya nih, kelebihan dari hammering pile itu apa ya ? Soalnya kami dapat project buat bangun underground parking gt. trus musti tentuin metode pondasinya. Jadi perlu tahu keuntungan dan kekurangannya gitu.
Makasih banyak Pak Wir.
GBU.
 
regards,
ardyka

Itulah dampak internet, karena tersedia email maka bertanya via email ternyata lebih mudah daripada harus ke dosen barunya di Groningen. Begitu ya Ardhika. 🙂

Tetapi adanya email tersebut pada satu sisi lain juga menunjukkan bahwa dosennya Ardhika yang di Indo masih mendapat kepercayaan, meskipun Ardhikanya sudah di Belanda. Nggak kalah gitu.  He, he, he GR. 😉

Oleh karena itulah, maka dengan senang hati aku berusaha menjawabnya.  Tapi di blog ini aja ya, sekaligus buat teman-teman yang lain yang mungkin memerlukannya, sekaligus kalau ada yang kurang tepat dapat dikoreksi atau menambahi jika ada ahli lain yang membacanya.

Untuk dapat menjawab secara tepat pertanyaan Ardhika, maka perlulah memahami arti istilah hammering pile, apakah itu sama dengan driven pile atau pile driver atau tiang pancang yang biasa kita kenal. Terus terang saya sendiri tidak familier dengan istilah tersebut.

Tidak ada pernyataan jelas yang menyebutkan bahwa hammering pile tidak sama dengan driven pile. Jadi dengan demikian, dianggap keduanya mengacu pada suatu sistem pondasi yang sama, yaitu pondasi yang pemasangannya dengan alat tekan/pukul atau pancang.

Jika mengaitkan istilah hammering pile dengan underground parking, maka itu tentu tidak saja membahas tentang pondasi, tetapi juga bisa dikaitkan dengan retaining wall, itu lho dinding penahan tanah. Padahal jika dinding penahan tanahnya adalah steel sheet pile, maka jelas satu-satunya cara pemasangannya adalah dengan hammer (pemukulan / penekanan).


Pemasangan steel-sheet-pile dengan vibro hammer

Saya kira pemakaian sheet-pile atau sistem penahan tanah kedap air di sana (Belanda) adalah mutlak khususnya untuk proyek underground seperti yang akan dibahas Ardhika. Dari sisi kecepatan maka jelas ini lebih menguntungkan jika dibanding cast-in-situ concreting system, seperti contiguous bore pile atau diaphragm walls. Ke dua sistem tersebut tidak memakai hammer tetapi auger untuk pelaksanaannya.


Pelaksanaan contiguous-bore-pile (Sumber : Land Transport Authority)


Pelaksanaan system diaphragm walls (sumber : Soletanche Bachy)

Bisa juga sih digunakan precast sheet pile, tetapi kalau masalah kekedapan terhadap air, rasanya steel sheet pile lebih baik karena interlocking-nya yang kuat dan presisi, dari besi baja sih buatnya.

Dari gambar juga terlihat bahwa steel-sheet-pile yang dipasang dengan hammer, mempunyai ketebalan yang relatif tipis, dan karena tidak ada tanah yang dibor ke luar jika memakai auger (mesin bor) maka jelas proyek yang memakai hammer relatif lebih bersih. Ini tentu faktor penting jika proyek yang dilaksanakan berada di daerah perkotaan atau ramai. Hal-hal seperti ini juga penting lho dipikirkan dan tidak hanya berkaitan dengan kekuatan dan kekakuan. Otomatis biaya yang diperlukan untuk pembersihan relatif lebih kecil.

Bising. Ini salah satu kelemahan jika digunakan metode pelaksanaan yang memakai hammer, yaitu relatif lebih bising. Apalagi jika memakai diesel hammer tipe impact. Nggak bisa tidur lho. Bayangin jika proyeknya dekat dengan tempat ibadah, misalnya mesjid. Jelas nggak bisa dilakukan pelaksanaan pada hari jumat, tahu khan. 🙂

Dalam perkembangannya, dibuat berbagai macam tipe hammer, selain terjadi peningkatan dari sisi efisiensi pemancangan, tetapi kebisingan yang dihasilkan berkurang. Type-type hammer yang ada sekarang antara lain adalah:

Sistem yang terakhir memberikan tingkat kebisingan yang rendah. Tapi tentu kapasitasnya atau daya tekan yang dapat diberikan lebih rendah dari yang lain. Sistem ini juga efektif digunakan pada tanah yang terpadatkan, baik clay, sand atau gravel. Juga jika tidak mau terjadi getaran yang merusak kepada bangunan-bangunan disekitarnya. 

Kita tadi telah membahas hammer untuk retaining wall. Selanjutnya kita akan membahas hammer pada pondasi. Pondasi dalam yang tidak memakai hammer , adalah pondasi tiang bor, untuk pelaksanaannya memakai auger atau mesin bor. Ini bentuk salah satu mesin bor yang cukup modern dari Hammer & Steel.


Mesin bor modern

Selanjutnya, sistem pondasi dalam yang memakai hammer kita sebut tiang pancang, sedangkan yang pakai bor, kita sebut tiang bor saja. Untuk membahas perbedaan antara kedua jenis tersebut tentu perlu dipandang dari sudut mana dulu. Jika dari segi pelaksanaannnya maka perbedaan kira-kira sama jika diterapkan pada struktur retaining wall, misal dari segi kebisingan, getaran.

Jika dari sisi kekuatannya, maka tiang pancang dapat digolongkan sebagai displacement pile, dimana rekatan pada sepanjang tiang cukup efektif untuk diperhitungkan, sedangkan tiang bor termasuk sebagai non-displacement pile, rekatan disekeliling tiang kurang efektif. Bayangkan saja jika anda memasang paku pada kayu, bandingkan jika langsung di palu atau dibuat lobang dengan bor terlebih dahulu. Beda khan. Ya seperti itulah prinsipnya.

Jadi tiang pancang dapat secara efektif memanfaatkan end-bearing dan friksi, tentu saja ini tergantung dari jenis tanahnya bukan. Sedangkan tiang bor maka kekuatan utama didasarkan pada end-bearing. Jadi kalau tanah keras sangat jauh di bawah tanah atau bahkan tidak ada sama sekali tanah kerasnya (SPT > 40) sehingga hanya bisa memanfaatkan kekuatan lekat (friksi) tanah maka jelas sistem pondasi yang dapat digunakan adalah tiang pancang. Kalau memaksa memakai tiang bor, bisa-bisa hilang itu pondasinya masuk ke bawah karena berat sendirinya.

Sistem pondasi tiang pancang mempunyai keterbatasan, baik akibat dimensi tiangnya agar dapat diangkat, maupun kemampuan alat pancang itu sendiri dalam memancang tiang. Oleh karena itu pondasi tiang pancang ukuran dan kapasitasnya terbatas. Sehingga jika diperlukan suatu tiang pondasi dengan kapasitas besar maka dipilihlah pondasi tiang bor, karena kalau memakai tiang pancang diperlukan banyak tiang pancang sehingga pile-cap-nya juga besar (luas).


Pondasi tiang bor ber diameter besar

Dengan alasan itu pula (bebannya besar) maka pondasi tiang bor dipakai pada proyek jembatan Suramadu yang menghubungkan Jawa-Madura. Adapun tekniknya cukup baru juga yang mengadopsi peraturan Cina, yaitu memakai grouting pada dasar pondasi.

O ya, kadang-kadang diperlukan juga suatu pondasi dengan kemirangan, ini biasa dipakai di pelabuhan, sedangkan di proyek gedung sangat jarang. Jika itu diperlukan maka hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan cara pemancangan (pakai hammer).


Hammer untuk pemancangan miring.

Saya kira itu dulu cerita tentang hammering.

Ada juga beberapa link yang terkait, jika ingin tahu lebih banyak tentang pondasi tiang :

Jadi apakah pondasi tiang pancang atau pondasi tiang bor, kesemuanya memerlukan teknologi bantu khusus buatan barat (Eropa atau Amerika).

Tetapi jangan salah, tiada akar rotanpun jadi, di Asia, kalau tidak salah dari Thailand, saya menemukan ‘teknologi‘ padat karya untuk hammering pile yang cukup menarik. 

Ini cocok dengan prinsip gotong royong lho. Lihat saja :

112 respons untuk ‘kelebihan hammering pile itu apa ya ?

  1. salam pak wir… mau share nie pak, jika berjalan2 di kalimantan, khususnya kalsel, maka sebagian besar daerahnya terdiri dari rawa-rawa, sehingga pondasi yg biasa di pergunakan terucuk galam, mungkin ini salah satu kearifan lokal yg secara turun temurun dipergunakan. alhasil, hingga gedung2 bertingkat 3 sampai 4 masih mempergunakan terucuk galam ini. wah.. rasanya ngeri liat benyaknya gedung2 di daerah itu yg miring2, ada yg malah seperti menara pisa. hehe…. ternyata masih banyak daerah di nusantara yg belum terjamah oleh tangan2 engineer lho pak. engineer yg bener2 engineer, bukan engineer yg bernuansa bisnis, he.
    salam dari pulau seberang 🙂
    happy new years pak

    Suka

  2. Pak Wir, saya minta tolong saya sedang mencari studi kasus atau contoh soal mengenai rumus perhitungan tiang pancang yang memakai drop hammer?? Terimakasih… ^^

    Suka

  3. Salam Sejahtera Mas Wir,

    Nama saya Berry, saat ini saya sedang bekerja di salah satu perusahaan yg bergerak di bidang MDF.
    Rencananya kami akan membangun power plant dan new factory di sumatera selatan.

    Just FYI, saya baru bergabung sebulan ini di perusahaan ini dan proses pre-design (soil investigation) sdh berlangsung sebelum saya masuk. Sebagai Owner (construction manager)
    saya me review semua design yg telah masuk.
    Ada hal2 yg ingin saya tanyakan :
    1. Untuk beban mesin yg hampir 1200 ton (1 kaki) dengan total ada 4 kaki, apakah sample titik DCPT yg diambil harus exactly di titik mana beban tersebut berada ataukah boleh diwakili oleh titik lain. Atau mungkin memakai nilai rata2 dengan Standar Deviasi tertentu? jika jawabannya yg terakhir sebaiknya berapa jumlah sample yg diambil dalam area tersebut (luas area kurang lebih 21 Ha)
    2. Untuk pekerjaan cut & fill biasanya dilakukan stripping dulu pada top soil (20-25 cm atau lebih tergantung kondisi). Sebelum melakukan pemadatan tentu saja kita ambil sample tanah setelah getting stripped tsb untuk mengetahui dry density dari tanah tersebut. Berapa sample hendaknya kita ambil untuk luasan 21 Ha?

    Thanks
    cb

    Suka

  4. pak saya mau tanya… apakah bore pile bisa mengatasi masalah kestabilan lereng?? bagaimana bila dibandingkan dengan grouting…??? misalnya dalam pengatasan kstabilan lereng,, manakah yang lebih bisa direkomendasikan dalam penganan kestabilan lereng… jika dilihat dari biaya dan proses pekerjaan dan waktu yang digunakan?? terimakasih sebelumnya…. mohon direspon ya pak…..

    Suka

  5. Dear Agied,
    Setahu saya, inti untuk meningkatkan kestabilan lereng adalah dengan menjaga agar failure surface tidak terjadi. Yang artinya adalah memutus jalur keruntuhan tanah, baik itu dengan bored pile ataupun tiang bambu ataupun angker atau bahan lain, i.e. grouting. Untuk pemilihan sangat tergantung dengan accessibilitas lokasi proyek.

    Suka

  6. salam kenal semua.saya rizki ,sekedar kasi info,saya ada jasa BOR STRAUSS atau apalah nama yang biasa anda sebut, untuk FONDASI BANGUNAN MAUPUN TOWER ..lokasi saya surabaya dan bersedia mengerjakan dimana saja,HARGA MULAI 10RB/METER,suAtu saat dibutuhkan silahkan hub. saya di 08563440062 / 03171320257

    Suka

  7. salam sejahtera pak wir
    mohon bantuannya. saya coba menghitung bearing capacity of pile dengan metode value curves. Gimana cara mendapatkan koefisien nilai K (amount of rebounding) pada akhir pukulan.
    trims sblnya.

    wassalm
    ramli

    Suka

  8. dari saya hanya sedikit tambahan, selainkita melihat pada besar nya daya dukung tiang pancang,kita juga harus melihat integritas dari tiang pancang tersebut. saat dilakukan pemancangan dengan hammer maka kemungkina terjadi gangguan integritas tiang pancang tersebut besar yang dikarnakan pukulan dari hamer sendiri,menyebabkan tiang pancang retak bahkan bisa patah.maka dari itu, mungkin lebih bagus nya merancang cara baru untuk pemancangan tiang pancang tersebut,seperti bisa dilakukan denga pemancangan casing baja terlebih dahulu.

    Suka

    • sekedar sharing..
      untuk kepastian integritas pile dapat dilakukan PIT (Pile Integrity Test)
      dimana test tersebut dapat memberikan gambaran tiang tersebut ada indikasi retak atau tidak…
      Demikian sharing kami

      Suka

  9. dua tahun terahir ini sy bekerja pada proyek bore pile dgn mesin RCD jadi pengetahuan ini sangat bermanfaat bg sy dan sy sgt berterimakasih atas di blog ini teruma kpd pa Wir.

    sy ada pertanyaan terutama utk penetahuan sy, bagaimana caranya menilai Nspt suatu tanah hasil pengeboran dgn mesin RCD (reverse circulating drill)

    Salam
    djaini

    Suka

  10. sebagai tambahan aja,
    kalau keadaan terpaksa Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) dapat juga dipancang dengan diesel hammer (tidak harus dengan Vibro Hammer)
    Ini pernah kami lakukan (sebagai pengalaman kami).
    Terima kasih

    Suka

  11. Pak Wir,

    Ada hal yang ingin saya tanyakanpada pak Wir, mengenai pondasi.
    1. Bila ada case dimana ada struktur pondasi existing pada bangunan yang masih digunakan untuk mengetahui kekuatan/kondisi-nya, menggunakan peralatan jenis apa? (selain loading test)
    2. Bila tidak ada dokumen gambar. Bagaimana cara untuk mengetahui ukuran (dimensi&rebar) pondasi existing pada bangunan yang masih digunakan ? Teknologi apa yang bisa digunakan untuk pekerjaan tersebut?

    Terima Kasih

    Suka

  12. salam kenal semuanya…
    mohon sharing ilmunya , karena saya ada sedikit masalah pada proyek yang sedang saya tangani. sekarang saya lagi mengerjakan pumpstation dengan kedalaman 10m. lokasi proyek di jababeka ( pusat industri ). masalah saya sekarang adalah Pemancangan Sheetpile yang tidak sesuai dengan yang diperlukan yaitu kedalam 12m. sheetpile yang saya pasang menggunakan vibrating hammer , namun yang masuk cuma sampai kedalaman 5-6 meter saja. sedangkan saya coba pancang dengan material H beam bisa masuk sampai 12 m dilokasi yang sama.
    mohon solusinya bagaimana caranya agar sheetpile tersebut bisa masuk dengan kedalaman minimal 11 meter.

    demikian terima kasih sebelumnya.
    salam
    yayan

    Suka

  13. Pak yayan,
    Sheetpile bisa juga dipulul dengan menggunakan hammer diesel dengan menggunakan K25 atau setara. Atau dengan menggunakan crane wesel”namanya mungkin salah” digali dulu trus dimasukkan sheetpilenya.

    Suka

  14. salam pak wir.. Saya mau tanya mslh pondasi bore pile dia 30 cm di tanah rawa inhil – riau untuk bangunan ruko 3 at 4 lantai
    Berapa kedalaman pondasi bore pile untuk bangunan saya tsb? Saya punya sedikit pengalaman mslh pembuatan sumur bor dalam di daerah saya, kondisi tanah dg kedalaman Kurang lebih 30 s/d 40 meter kondisi tanah stlh itu di jumpai sungai air asin lalu pasir s/d 60 meter lalu tanah kembali dan seterusnya, yang saya tanyakan :
    1.brp kedalaman borepile untuk ukuran ruko 3 at 4 lantai tsb?
    2. Kalau pondasi tsb kita dudukkan di kedalaman 24 at 30 meter dg ujung bore di perbesar apakah aman untuk bangunan tsb?
    Terima kasih sebelumnya atas perhatian dan jawaban nya, kebetulan didaerah saya ini bangunan banyak sekali yang miring dan turun dg menggunakan pondasi cerucuk panjang 7 meter.

    Suka

  15. Untuk bangunan ruko, dengan kedalaman tanah keras s.d 40 jika dilakukan pengeboran atau pemancanangan biayanya bisa melebihi banguan itu sendiri. Pengunaan cerucuk dolken lebih baik. Asal banngunan simetris dan dinaikkan dari muka tanah. Pemasngan dolken di bawah 1.5 m dari permukaan tanah dengan jarak 40 x 40 cm. Diatas cerucuk dipasang ayaman bambu atau geotekstil. Lalu ditimbun dengan tanah merah dan dipadatkan. Tiap kolom bisa dipasang pancang ulin 15×15 cm atau kayu keras kedalaman 1 batang dengan jumha titik per kolom 10 ttk atau disesuaikan.

    Suka

    • terima kasih atas jawabannya pak, tetapi permasalahan yg sering terjadi pak bangunan ruko banyak terjadi kemiringan dan penurunan di daerah saya, padahal sdh menggunakan kayu bakau atau ubar yg panjangnya rata-rata 7 meter diameter 3 s/d 4 inchi dan setiap bangunan dg ukuran 4 X 15 meter bisa menghabiskan lebih dari 1500 batang. dan itupun msh mengalami penurunan 1 s/d 2 cm pertahun. dan apabila ada pembangunan ruko disebelah bangunan kita dg jarak 3 meter(lorong atau gang) dijamin sedikit banyaknya bangunan akan terjadi kemiringan pak, belum lagi apabila hari hujan lebat tdk sedikit bangunan didepan ruko tsb terdapat genangan air termasuk jalan raya karena ikut turun oleh tekanan bengunan ruko tsb. saya mohon di bantu pak bgmn solusi pondasi ruko tsb, dgn biaya yg terjangkau,tanpa mengorbankan kualitas dan kekuatan dr pondasi tsb? atas jawabanya saya ucapkan terimakasih.

      Suka

  16. Salam Pak Wir,,,
    saya ingin bertanya pak, bagaimana cara menghitung daya dukung tiang pancang berdasarkan data PDA?
    terima kasih sebelumnya pak,, salam

    Suka

  17. salam pak Wir & Senior di blog ini
    mohon bantuannya pak, saya cara perhitungan soil test CPT ringan dan berat serta gambar alat tersebut.
    kedua: gambar alat SPT, dengan macam macam alat SPT tersebut dan cara kerjanya masing masing alat tersebut.trims
    asrul.daeng@gmail.com

    Suka

  18. salam Pak Wir …. dan semuanya ….
    saya kebetulan baru di dunia pondasi “tiang bor”. kalo soal kekuatan dan stabilitas tiang, mungkin dari tulisan-tulisan yang saya baca diatas, saya bisa memilah dan menyatukannya sebagai bahan masukkan bagi saya (thx untuk rekan2 senior dan yang lainnya yang telah berbagi).
    yang saya ingin tahu yaitu bagaimana cara pelaksanaan pekerjaan pondasi tiang bor?, slnya saat ini saya baru bekerja di sebuah proyek yang menggunakan tiang bor (atau bolehkah disebut “pondasi sumuran”?)
    trima kasih sebelumnya.

    Suka

  19. salam kenal kembali pak..
    ada artikel-artikel atau jurnal-jurnal tentang sand columns gak pak..
    kebetulan skripsi saya mengenai hal itu , tapi sulit sekali mencari jurnal-jurnal tentang itu..
    terimakasih

    Suka

  20. Pak ini saya lagi nyari ram stroke untuk diesel hammer IDH-22, mohon bantuanya ya pak….terima kasih sebelumya

    Suka

  21. Pak ,saya mohon dijelaskan cara kerja dan cara perekaman proses pancang (Pile Driving Record) (bentuk form nya bagaimana) dengan memakai INJECTION MACHINE DRIVEN PILE . Terimakasih pak atas bantuannya.

    Suka

    • formatnya sama saja seperti pile drive hammer diesel atau drop hammer, namun grafiknya diganti dengan tabel antara kedalaman dan bacaan pada nano meter (mungkin salah penyebutan)
      kedalaman bisa per 1 meter
      misal
      kedalaman tekanan
      1 m 30 MPA atau kg/cm2 atau Bar
      2 m 30 MPA atau kg/cm2 atau Bar
      untuk mencarai daya dukung gunakan rumus
      Ru = luas piston x jumlah piston x bacaan tekanan
      bacaan tekanan dikonversi dalam kg/cm2
      hasilnnya tinggal dibagi faktor keamanan.
      salam Mulyadi

      Suka

  22. maaf mungkin ada yang bisa bantu, untuk tiang pancang hidrolik (driven pile) apakah ada batasan jarak minimal yang disyaratkan karena saya ada proyek gedung 6 lantai tapi jarak kolom tepi terhadap bangunan eksisting hanya 60 cm mohon bantuannya terimakasih

    Suka

    • bisâ Aja, tergntung jenis alàt yg digunàkan, jiká Alàt yg digunakn modifikási dr cráne pile drive. sy pernh menggunkn alat tersebut pd pemecngn di rs Aws sámárindà, jeck hidráolic berada didepan seperti diesel hammer dan diberi beban dibelakang tiang leader (total berat alat dan beban minimum 2x daya dukung tiang pancang yg direncanakan)

      Suka

      • Atau jika alat seperti itu tidak mendapatkannya, dipancang sebisanya dan kolomnya dipindahkan dan dikatilever bangunanya. Atau tidak mungin sama sakali kolom dipindahkan diboredpile saja. Salam mulyadi email : mulyadi.slalu@gmail.com. Fb grup : pondasi tiang pancang

        Suka

  23. terimakasih pak mulyadi saya mendesainnya dengan bored pile ukuran D-600 karenan didaerah ancol jakarta utara maka kedalamannya sampai 28 m, dan kolom saya kantileverkan yang saya tanya adakah alat driven pilenya pak atau gambarnya pak biar saya bisa meyakinkan owner. untuk mengganti boredpile tersebut terimakasih

    Suka

  24. selamat siang bapak,saya mau tanya bagaimana cara menghitung produksi alat pancang vibro hammer kap.12 ton, dan diesel hammer kap. k.35. terima kasih atas bantuan dan penjelasannya

    Suka

  25. salam kenal pak….
    saya mau nanya, bagaimana cara pembacaan pile integrity tester bagi orang awam seperti saya.
    maksudnya mulai dari pross pengetesannya dilapangan sampai dengn mengolah data di software dan pembacaan grafik yang keluar dari softwarenya.
    thks bgt yah pak.

    wandhi wijaya

    Suka

  26. Salam kenal pak Wir,
    Saya lihat photo/gambar diatas alat hammer untuk pancang miring. Apakah betul alat itu yang dinamakan impact hydraulic hammer? Saya sedang cari kontraktor pancang yang mempunyai alat tersebut. Boleh minta referensi beberapa nama kontraktor pancang yang punya alat seperti itu yang bapak kenal dan contact person-nya,pak?
    Mohon sharing-nya, thanks

    Suka

  27. Salam kenal pak wir,
    Saya mau bertanya kepada bapak ,
    berapakah faktor keamanan (FS) untuk daya dukung ijin tiang dengan menggunakan data hydroulic jacking pile dan data PDA test kalau boleh disertai dengan artikel ya pak,,,soalnya untuk Tugas akhir pak.

    Suka

  28. Mohon Maaf sebelumnya saya numpang tanya nie!
    Saya ada proyek pemancangan Corrugated Conrete Sheet Pile (CCSP) kebetulan tidak ada lubang water jetnya….nah waktu pemancangan pertama tidak dapat masuk pada level yang direncanakan dan kepala CCSP sudah pecah….Kira2 apakah alat pancang (Vibro Hammer ) yg saya pakai kurang besar kapasitasnya…atau gimana kira2 solusi yang dapat diberikan….?…(kapasitas Vibro Hammer 90 Ton)…mohon penjelasannya…

    Trima kasih sebelumnya

    Andre-Samarinda

    Suka

    • andre,
      mungkin memang tanahnya yang sudah keras pada kedalaman tersebut.
      coba bandingkan data tanahnya dengan aktual lapangan.
      jika memungkinkan lakukan pengujian yang sederhana seperti sondir pada lajur pemancangan,
      semoga membantu ya…

      Suka

  29. mohon maaf sebelumnya pak pak aku mau tanya dong cara pengolahan data sondir untuk mengetahui nilai konus dan hambatan lekat jika yang diketahui dari data sondir itu cone resistance (CR) atau perlawanan konus sama Total Resistance (TR
    ) perlawanan total itu gimana ya pak ? oh iya pak apakah setiap pada kedalaman 0 itu nilai CR dan TR ga mesti 0 ya pak ? data yang aku dapat ga 0 pak tapi kebanyakan data sondir yang aku lihat dari arsip kakak tingkat dan pengerjaan latihan itu dimulai dari 0, mohon penjelasannya pak untuk pengerjaan laporan kerja praktek, terimakasih pak

    Suka

    • winda,
      coba deh baca buku manual pondasi tiang – GEC, atau mekanika tanah Daniel Craig, atau buku Mekanika tanah – Braja Das.
      Mungkin mbah google bisa bantu.
      atau yang paling mudah, buka buku praktikum Mekanika tanah. mestinya ada penjelasannya soal total, friction ratio, dan cone resistance.
      tapi mengutip perkataan om Wir, ‘ memang lebih mudah nanya aja, daripada buka buku’ 🙂

      pada kedalaman 0, total resistance gak mesti 0. kalau memang tanah permukaan punya perlawanan. kecuali, pressure dan penurunan yang tercatat dilakukan manual kali ya.
      tapi kalau dilakukan elektronik mestinya sih ngak.
      selama konus mempunyai perlawanan, tentu akan ada data yang terbaca.

      Salam,

      Suka

      • Terima kasih Aksan telah membantu menjawab pertanyaan teman-teman. Maklum ekspertiseku bukan di bidang tanah, jika yang ditanya itu memang bidangku maka aku akan mencobanya.

        Suka

  30. Salam Pak Wiryanto Dewobroto

    Sebelumnya saya senang bisa gabung di artikel sini artikelnya bagus, tambah ilmu.
    pak Wir , kebetulan saya baru mengerjakan Tugas akhir saya tentang perencanaan pondasi bore pile, data yang saya gunakan soil test komplet,
    pak Wir , saya mau tanya langkah langkah dalam mengitung pondasi bore pile sama metode / rumus yang di pakai?
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    Suka

  31. Winda,
    Mungkin bisa sy tambahkan sedikit, biasanya pembacaan sondir setiap 0,2 m. Pembacaan dimulai pada kedalaman 0,2 m sampai kedalaman maksimal pada pembacaan manometer kapasitas maksimum qc=250 kg/cm2. qc = perlawanan penetrasi konus. Luas piston=10 cm2, Luas konus=10 cm2. Luas selubung gesek = 150 cm2. Tekanan konus (qc) = pembacaan I x luas piston/luas konus (kg/cm2). Local friction (fr) = (pembacaan II – pembacaan I) x luas piston / luas selubung gesek. Pembacaan II adalah perlawanan total. Kemudian dihitung jumlah hambatan pelekat, dan friction ratio. Dan dapat digambarkan grafiknya. Perkiraan jenis tanah dapat juga diketahui dari grafik qc dan friction ratio menurut Robertson dan Campanella, 1983. Betul, coba baca buku literatur. Semoga sedikit membantu. Salam

    Suka

    • Literatur dapat juga dicari di toko buku, antara lain karangan p Hary Christady, atau p Masyhur Irsyam, p LD Wesley, dll. Semoga membantu. Salam.

      Suka

  32. Dear Pak Wir,

    maaf saya permisi untuk promosi.

    kami ThyssenKrupp Steelcom Australia, kami bergerak di bidang Pondasi, Pilling, steel, Vinyl sheet Pile dan Mesin2 Piling (Diesel Hammer, Vibrator driven) dengan brand ABI, BALNUT, DELMAG, MULLER.

    Jika rekan-2 ada yg membutuhkan, silahkan hubungi saya agus.tinus@tk-steelcom.co.id, 0811 87 99 689 atau bisa berkunjung ke website http://www.tk-steelcom.com.au.

    cheers and Thanks.
    Agustinus
    Chief Representative Indonesia

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s