mau kemana struktur kayu kita ?

Orang Indonesia itu pada dasarnya gigih, sehingga akan bertahan kuat jika menghadapi ancaman luar yang mengganggu kelangsungan hidup atau rejekinya. He, he, mungkin itu pula yang dilakukan orang-orang di DPR yang ngotot memperjuangkan hak angket untuk KPK.

Hanya heran saja untuk teman-teman dosen struktur kayu, koq adem ayem saja. Padahal sudah beberapa tahun ini dari forum BMPTSSI sudah keluar rekomendasi bahwa mata kuliah Struktur Kayu, tidak lagi menjadi mata kuliah wajib di Jurusan Teknik Sipil di Indonesia. Mestinya dengan kondisi seperti itu, jika nantinya mata kuliah tersebut tidak dibuka, atau tidak ada khan berarti tidak lagi memerlukan keberadaan dosen struktur kayu. Nganggur dong dosennya !

Lho pak Wir, apakah mata kuliah itu masih diperlukan. Bukankah sekarang ini untuk membangun hanya ada pilihan struktur baja atau struktur beton saja khan ?

Suatu pertanyaan standar, yang mungkin itu juga ada di benak para dosen anggota BMPTSSI tersebut. Ini bisa dimaklumi karena cara pikir yang lagi trend di sini adalah link-and-match. Bahwa apa yang perlu diajarkan di perguruan tinggi adalah apa-apa yang menjadi kebutuhan dunia kerja yang ada. Cara berpikir yang menganggap bahwa perguruan tinggi hanyalah tempat untuk melatih anak-anak muda agar siap mengisi posisi sebagai pegawai, mengerjakan sesuatu pekerjaan yang telah rutin dilakukan.

Orang-orang dengan cara pikir link-and-match banyak yang berargumentasi “untuk apa mengajarkan hal-hal atau apa-apa yang di dunia kerja adalah tidak ada“. Kalau seperti itu khan seperti pekerjaan sia-sia. Jadi kalau saat ini di sekitar kita tidak dijumpai bangunan dengan stuktur kayu yang dibangun dengan kebanggaan  maka tentunya tidak berharga juga untuk meluangkan waktu untuk belajar dan mengajar tentang struktur kayu itu. Iya nggak ?

I ya pak Wir !

Lho kamu juga termasuk pengagum konsep link-and-match itu juga ya. Nggak begitu dong tentunya. Jika perguruan tinggi dianggap sebagai agen perubahan, tempat diharapkan terjadinya inovasi dan kreatifitas, atau sesuatu yang mengawali perubahan untuk perbaikan, maka tentunya tidak hanya sekedar link-and-match saja. Harus juga diajarkan hal-hal yang juga berpotensi untuk dikembangkan.

Apakah itu berarti struktur kayu masih bisa dikembangkan pak Wir ?

Lho jangan kaget struktur kayu itu sekarang banyak peminatnya lho. Memang sih itu bukan oleh orang kita, tetapi oleh orang-orang di barat, yang ternyata ilmu bangunan dari struktur kayu sudah sangat maju. Ini aku ketahui karena baru-baru ini aku dikontak oleh orang-orang kayu tersebut.

Orang tersebut juga dosen struktur kayu ya pak ?

Nah ini yang menarik, yang mengajak diskusi tentang struktur kayu tersebut bukan dosen, tetapi pengusaha. Pengusaha yang selama ini selalu mengeksport produk hasilnya ke luar. Mereka tertarik untuk datang berdiskusi bukan karena aku suka membahas kelangsungan hidup dosen struktur kayu. Bukan itu. Tetapi sedang mencari peluang untuk pembangunan struktur kayu.

Cari tukang kayu dong pak !

Begitu mestinya. Hanya saja kayu yang mereka maksud adalah jenis kayu buatan yang disebut glulam. Oleh sebab itu jelas kalau tukang kayu yang ada, nggak biasa mengerjakannya. Ini contoh yang dimaksud kayu glulam untuk bangunan bentang besar di luar negeri (sumber dari internet).

glulam-beams
Aplikasi kayu glulam untuk atap bentang besar (sumber internet)

Wah besar-besar pak, kalau itu pakai struktur baja khan jadi kecil ukurang profilnya. Betul nggak pak Wir. Apalagi kalau di Indonesia, bisa kena rayap itu !

Kalau untuk fungsi, memang betul jika memakai konstruksi baja akan lebih kecil. Hanya saja masalahnya, kalau pakai baja kalau tidak ditutup akan terkesan seperti bangunan pabrik, kurang eksotik gitu lho.  Jadi keunggulan bangunan struktur kayu seperti di atas adalah eksotik dan terkesan ramah lingkungan.

Bagaimana bisa ramah lingkungan pak Wir. Kalau pakai kayu itu hutannya bisa gundul !

Aduh, pertanyaan-pertanyaan standar dari dulu. Itu khan cara orang-orang kita mengambil bahan material kayu, yaitu menebang kayu alami di hutan dan lalu meninggalkannya sisanya. Maklum orang-orang kita itu kalau memilih pohon khan yang besar, yang umurnya sudah puluhan tahun. Jelas pohon alam, yang tumbuh liar di hutan. Sedangkan orang-orang di barat, memakai kayu konstruksi dari hutan tanaman industri yang memang sengaja di tanam. Cara ini memang punya kelemahan yaitu diameter pohon untuk kayu umur 3 atau 5 tahun adalah kecil-kecil dibanding cara kita kalau menebang pohon. Karena ukuran kayu-kayu di barat yang lebih kecil itulah maka dikembangkan teknologi kayu glulam, yang merupakan potongan-potongan kecil yang dirangkai dengan lem menjadi ukuran kayu yang lebih besar. Ini contoh produksi kayu glulam (sumber gambar dari internet) sebagai berikut.

tumblr_mvjireFiTD1qkncqdo1_1280
Pembuatan kayu glulam di pabrik

Jadi pengusaha yang datang tadi sedang mencari peluang untuk pengembangan kayu glulam tersebut di Indonesia. Bisa saja kataku, lalu aku mencoba memberikan argumentasi bahwa kayu glulam tersebut permasalahannya adalah teknologinya. Di Indonesia produksi kayu glulam belum berkembang, bla . . .bla . . .bla begitulah seperti yang aku ketahui selama ini. Belum ada khan ?

Eh ternyata apa yang aku sampaikan adalah salah.  Pengusaha yang datang itu ternyata pengusaha kayu glulam yang sudah malang melintang lama ada di Indonesia. Hanya saja selama ini produknya lebih banyak diekspor keluar negeri. Juga dari mereka ada kabar juga bahwa rumah dengan kayu glulam telah di bangun juga di Indonesia oleh orang-orang yang mengedepankan masalah esoktik, lain daripada yang lain. Orang-orang kaya yang sudah bosen pakai rumah dari baja atau beton yang ada dimana-mana di sini. Masalahnya adalah bahwa dalam pembangunan rumah tersebut perencananya terpaksa mendatangkan langsung dari Jerman. Maklum orang kaya. 😀

Menghadapi fakta seperti itu maka terbuka juga satu alasan lagi mengapa perlu struktur kayu. Ternyata tidak sekedar kuat atau kaku atau lebih murah  tetapi juga karena ramah lingkungan (kayu dengan ditanam ulang, maka tidak akan habis-habis), dan memberi kesan eksotik serta natural (alami).

Dari internet aku mendapatkan foto-foto tentang struktur kayu di luar negeri. Coba lihat apakah hal-hal di atas memang betul dapat diperoleh dari bangunan dengan struktur kayu.

bb8f634292ae69692b566ce3dab5ae56

 

tumblr_oq78fokZDG1s5qhggo8_1280

tumblr_okz1nzvW2M1qd5e3ao1_1280

tumblr_mzam6lYv1V1rnwukro1_1280

Dari foto-foto di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa struktur kayu mempunyai nilai lebih di mata arsitek yang memahami apa yang disebut eksotik atau alami itu. Bagi mereka, ke dua hal tersebut dapat menarik keuntungan yang lebih besar dari sekedar kuat dan kaku saja.

Nah dalam rangka mendukung keinginan arsitek untuk mewujudkan bangunan yang eksotik dan alami itulah maka kita sebagai ahli struktur mau tidak mau harus mempelajari ilmu struktur kayu dari barat tersebut.

Kalau nggak mau pak, seperti BMPTSSI yang merekomendasikan kayu jadi pilihan itu bagaimana pak.

Wah kalau itu sih aku nggak punya pendapat, maklum BMPTSSI itu khan isinya doktor-doktor dan profesor-profesor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hanya saja kalau kita ikuti keinginan mereka yang memang jago teori maka tentunya itu akan menjadi rejeki insinyur asing untuk mengerjakan proyek-proyek kayu di Indonesia. Tentang hal yang terakhir ini adalah fakta yang aku dapatkan dari kedatangan pengusaha tadi.

Jadi bagi orang-orang kayu yang peduli, mari kita rapatkan barisan dan gigih untuk mengembangkan diri untuk menerima tantangan di atas. Ok.

Salam dari Citra Raya, 11 Juli 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s