Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keruntuhan jembatan Kutai Kartanagara (Kukar) di Kalimantan merupakan bencana buatan manusia (man made disaster) terdahyat. Jika sebelumnya bencana-bencana memang telah silih berganti di negeri ini, yang menelan korban jauh lebih banyak, tetapi semua itu selalu dapat dikaitkan dengan kondisi alam, yang memang tidak dapat diduga. Untuk yang seperti itu, biasanya sudah tersedia satu jawaban ampuh untuk menerangkannya, yaitu dengan satu kata “nasib“.
Biasanya kalau sudah kata “nasib” disampaikan, maka rasanya tidak akan timbul banyak pertanyaan. Penanya sungkan, karena pasti nasehat selanjutnya selalu dikaitkan dengan himbauan untuk lebih rajin beribadah, mohon ampun dosa-dosa. Padahal kalau mau jujur, di tempat lain, di negeri yang disebutnya sekuler, kondisinya bisa lebih baik. Padahal penduduknya banyak yang mengaku tidak beragama. Jadi kalau beragama hanya sekedar ingin nasib baik, bisa kecewa.
Nah sekarang dengan adanya kejadian di Kutai Kartanagara, ada fakta bahwa buatan manusia ternyata bisa menjadi bencana tidak terduga. Untuk itu, apakah kita masih dapat dengan mudah mengatakan bahwa itu adalah nasib ?
Jika demikian adanya, malang nian rakyat negeri ini.
(lebih…)