• Bagi yang namanya  penulis, menjadi narsis itu adalah salah satu resiko. Maklum, itu salah satu strategi andal mencari pembaca. Karena bagaimanapun bagusnya tulisan, bila tidak ada yang membaca, maka tidak akan ada yang tahu betapa berharganya itu.

    Jadi, penulis itu eksis karena ada pembacanya, begitu juga blog ini. Boleh-boleh saja bersemangat menulis blog, tetapi jika yang kasih komentar adalah teman-temannya saja, apalagi atas dasar kasihan. Wah, yakin deh penulisnya belum merasakan bagaimana dahsyat dan nikmatnya menulis itu.

    Pak Wir masih menulis ya, koq sudah jarang artikel baru di blog ini ?

    (lebih…)

  • Kalau mau tahu, untuk sukses menjadi seorang profesional adalah dapat menguasai terlebih dahulu salah satu ilmu yang khas, tidak kodian. Selanjutnya ilmu tersebut dijadikan basic untuk bekerja atau tepatnya dapat mengaplikasikannya dalam kasus nyata.

    Hal itu penting untuk melihat dampak akhir dari penggunaan ilmu khas tersebut. Dalam hal ini lihat,apakah ada korelasi antara ilmu (teori yang dipelajari) dengan hasilnya (real). Ini merupakan feed back. Jika ternyata hasilnya baik, yaitu ada korelasi antara rencana dan kenyataan maka selanjutnya ilmu tadi dapat dipertahankan, bahkan dikembangkan lagi untuk di-imani (sorry jangan tersinggung dengan penggunaan kata itu).

    Bagaimana jika ternyata tidak ada korelasinya. Gampang, lupakan saja karena itu ternyata bukan ilmu. Tentang kuantitas ilmu yang harus dikuasai, nggak usah terlalu bernafsu untuk sekaligus mendapatkan banyak. Cukup satu persatu, tetapi dapat dibuktikan dahulu. Jika terbukti, pelajari lebih mendalam, ulangi lagi proses tadi. Yakin deh, sedikit-sedikit lama-lama akan menjadi bukit.

    (lebih…)

  • Kelihatannya, mata kuliah tugas akhir atau skripsi (6 sks), masih menjadi momok bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Padahal mata kuliah tersebut tidak ada yang mengajarkannya secara spesifik di depan kelas, seperti mata kuliah-mata kuliah yang lainnya.

    Benar ya ?

    (lebih…)

  • Tentunya adalah suatu kehormatan, jika ada seorang senior di bidang rekayasa teknik sipil, berkenan mampir dan memberi komentar di blog ini. Oleh karena itulah, perlu dibuatkan thread khusus untuk menyambutnya.

    Argumentasi yang mendasarinya adalah, bilamana seorang senior sampai-sampai mau meluangkan waktunya menulis komentar (di tengah-tengah kesibukannya), tentunya itu disertai pemikiran serius, yang bahkan dapat menjadi petunjuk tingkat senioritasnya. Jadi dengan menjawabnya secara serius pada thread khusus ini pula, sehingga dapat diungkap materi secara lebih mendalam (yang umumnya memerlukan banyak paragraf), maka secara tidak langsung dapat menempatkan penulisnya pada posisi tersebut. Bukankah itu suatu kehormatan.

    Beliau yang mampir ini, cukup senior malang melintang di dunia persilatan eh, perteknik-sipilan, baik di wilayah bidang akademisi maupun praktisi. Jadi tentunya wajar pula jika dapat dianggap beliaunya selalu mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada. Jadi ketika masih menyisakan pertanyaan. Tentunya itu suatu hal yang menarik, yang tidak bisa dijawabnya sendiri, tentunya suatu pertanyaan yang menyangkut hal di luar dirinya, seperti yang menyangkut kepentingan komunitas profesional bidang rekayasa teknik sipil itu sendiri. Jika demikian, bukankah itu  menyangkut kepentingan kita semua.

    Tertarik, silahkan dibaca lebih lanjut.

    (lebih…)

  • Jika kita mau mengamati lebih mendetail, ternyata Jurusan Teknik Sipil sudah banyak terdapat di berbagai Perguruan Tinggi yang menyebut dirinya Universitas. Itu dapat dimaklumi, karena untuk disebut Universitas maka suatu perguruan tinggi harus terdiri dari banyak unsur-unsur fakultas, dan salah satu yang favorit adalah keberadaan Jurusan Teknik Sipil.

    Oleh karena itulah, maka ketika Jurusan Teknik Sipil UPH berdiri di tahun 1994 maka diperlukan suatu usaha tertentu agar “laku”. Untunglah, para pendirinya punya selera dan juga didukung komitmen kuat sehingga fasilitas infrastruktur yang dibangun menurutku memang menarik. Kompensasinya tentu akan menyangkut pada biaya, yang kata orang disebutnya mahal. Padahal kalau dibandingkan dengan biaya studi di kampus swasta lainnya, yang sudah dikenal orang banyak, maka sebenarnya tidak terlalu berbeda. Yang jelas, jika anda berkesempatan datang berkunjung ke kampus UPH maka tentu itu dapat dimaklumi.

    Sekarang tidak terasa, sudah 18 tahun waktu telah berjalan sejak kampus UPH pertama kali berdiri. Waktu yang disediakan untuk promosi, rasanya sudah lebih dari cukup, orang-orang harusnya sudah bisa melihat kualitas suatu kampus tidak sekedar dari tampilan fisik, tetapi sudah sampai pada tahap kemampuannya untuk memberi pengaruh.

    (lebih…)

  • Civil Engineering Seminar at UPH, Wednesday, 22 February 2012

    “New Zealand’s Engineers approach to latest Canterbury Earthquake”

    by

    by Mr. Jitendra K. Bothara1  and  Sugeng Wijanto2, Ph.D., P.Eng.

    1Senior Seismic Engineer at Beca, Wellington, New Zealand
    2President Director PT Gistama Intisemesta, Jakarta

    Synopsis of Seminar :

    Two major earthquakes and thousands of lessor one have occurred near Christchurch causing human and property loss despite the decades of development in earthquake engineering, planning and preparedness in New Zealand. Does this mean that earthquake safety is beyond human reach? Of course not! The suffering and losses caused by the earthquakes have strengthened the New Zealanders and they have being taken as a challenge to develop further to reduce future earthquake suffering and losses.

    The issue is: what can Indonesia learn from New Zealand experience ?

    (lebih…)

  • Sudah baca peraturan Dirjen DIKTI terbaru. Itu lho yang berkaitan dengan kewajiban publikasi di jurnal ilmiah agar dapat lulus S1,  S2 , atau S3. Ini adalah satu link yang berkaitan dengan hal itu. Silahkan baca.

    (lebih…)

  • Ini ada surat dari Dirjen Dikti yang mewajibkan publikasi ilmiah bagi setiap jenjang S1, S2 dan S3. Silahkan dibaca :

    Wah jadi kelihatan nanti siapa yang bisa menulis atau tidak, karena tugas akhir yang dibuat tiap-tiap mahasiwa akan terpublikasi secara luas. Akan ketahuan nanti yang suka copy and paste.

    Selamat belajar melakukan penelitian dan penulisan.

    Link yang terkait :

  • Berbicara tentang ilmu tentu menarik sekali, apalagi memang pekerjaan penulis dalam hal ini  terkait sekali dengan proses penyebaran ilmu itu sendiri. Maklum guru. Oleh karena itu posting ke dua ini juga masih bertema “kurang berilmu”.

    Tulisan saya kali ini akan membahas tentang bangunan tinggi (tall building). Tema ini perlu diungkapkan untuk menanggapi satu komentar engineer di blog ini, yang rasanya perlu juga untuk diketahui engineer-engineer lain . Jika tidak maka akan terkesan bahwa kita (para engineer indonesia) termasuk pada kategori engineer kurang berilmu. Penyebabnya karena merasa di luar sana, banyak dijumpai bentuk-bentuk bangunan yang aneh (menurut ukuran kita di sini), padahal bentuk seperti itu diusahakan dihindari untuk dibangun di Indonesia.

    Komentar yang kumaksud adalah :

    Dear Pa Wir dan Engineers,

    Di luar sana, komunitas Teknik sipil (khususnya struktur) tidak lagi membicarakan tentang Disain Tahan Gempa dengan bentuk-bentuk geometris bangunan dan beban yang “harus” simetris.

    Ini sumber komentar tersebut, yaitu pada tulisan saya tentang “struktur menurut  arsitek”.

    Saya tidak tahu bagaimana perasaan atau tepatnya pikiran anda (para engineer) dengan komentar di atas. Anda setuju atau tidak. Saya yakin pasti ada yang setuju dan ada juga yang tidak setuju. Anda termasuk yang mana.

    Jika setuju berarti anda mengakui bahwa di luar sana, memang terdapat komunitas teknik sipil (khususnya struktur) yang telah keluar dari kebiasaan para ahli struktur di sini (Indonesia). Mereka telah mempunyai kemampuan mengatasi apa yang masih disebut sebagai problem-problem pada perencanaan pada bangunan gedung, yang selama ini masih kita hadapi, yaitu hindari bangunan tinggi dengan bentuk tidak beraturan.

    Jika anda setuju dengan komentar di atas, maka berarti anda mengakui bahwa engineer kita (di dalam negeri sini) kurang berilmu dibanding engineer di luar sana (manca negara). Jadi kalau begitu bersiap-siaplah untuk menjadi bawahan dari engineer manca-negara yang datang dari luar sana. 🙂

    Mau ?

    (lebih…)

  • Memang benar juga kata pepatah, “Jaga kata-katamu !“. Yah betul, kata. Jadi nggak perlu sampai mengatakan, kalimat. Memakai kata-kata saja rasanya sudah berdampak besar. Kalau tidak percaya, coba saja (anggap kamunya masih muda, belum menikah dan sedang mencari pacar). Lalu didepan seseorang yang lagi kamu demenin, kamu mendengar langsung dari orang tersebut sebagai berikut  : “Nggak, kamu jelek !”.

    Pasti deh rasanya tidak terlupakan . Jadi dengan begitu kamu bisa merasakan juga, ada kemungkinan apa yang kamu ucapkan sesuatu saat nanti juga dapat membuat kesan seumur hidup bagi seseorang. Hati-hatilah dengan kata-kata yang disampaikan, karena dibalik itu semua, tersembunyi segunung besar makna di belakangnya.

    Itu tadi hanya contoh lesan, apalagi jika kata-kata tersebut dituliskan. Maklum, suatu tulisan khan bisa mempunyai usia yang relatif panjang dibanding kata-kata yang terucap (lesan). Bahkan ada yang mengatakan, jika ditulis dan disimpan dengan baik, maka kata-kata yang merupakan segunung besar makna tersebut dapat menjadi abadi.

    (lebih…)