• Saya teringat salah satu pengalaman ketika bertemu dengan teman dosen yang kebetulan baru saja menyelesaikan program S3-nya. Kalimat pembukanya begini: “Pak Wir, bisa nggak saya mengajar di program S2 UPH yang baru dibuka“. Seperti biasa, kalau ada pertanyaan seperti itu maka  jawabannya kira-kira begini : “Mau mengajar di program S2 ya pak, kalau begitu pada mata kuliah apa yang merupakan kompetensinya. Ini daftar mata kuliahnya“. Maklum, alasannya bahwa yang namanya program S2 adalah spesifik (misal peminatan manajemen konstruksi atau struktur atau transportasi), jadi untuk dapat mengajar mestinya dosen yang benar-benar menguasai bidangnya, ahlinya. Begitu khan.

    (lebih…)

  • Jika saya menulis judul seperti di atas, itu berarti saya ingin memberitahukan progress penyelesaian buku baru yang akan terbit (dengan memuat tulisan saya tentunya). Oleh karena itu, dapatkah anda menebak kira-kira buku apa yang akan diterbitkan.

    (lebih…)

  • Menjadi orang tua yang anaknya sudah kelas 3 SMA seperti saya saat ini, tentu akan merasakan bagaimana dapat menjawab secara bijak pertanyaan anak, tentang rencana setelah lulus sekolah.  Jika SMK tentu sudah jelas, yaitu mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang ditekuninya selama ini. Adapun SMA, yang masih umum sifatnya sebagian besar tentu akan bertanya, perguruan tinggi dan jurusan apa yang harus dimasukinya.

    (lebih…)

  • Adanya kebebasan berpendapat dalam era demokrasi yang didukung oleh undang-undang, juga kemudahan serta ketersediaan teknologi informasi di era global seperti sekarang ini, ternyata masih ada kesenjangan dalam memaknainya.

    (lebih…)

  • Sebagai tindak lanjut dari poster yang sebelumnya terpampang di blog ini, maka hari Rabu tanggal 9 Mei 2012 kemarin aku jadi mengajar satu sesi kelas di Yogyakarta, tepatnya di kampus UAJY, Babarsari.

    Terus terang, aku lebih suka menggunakan kata mengajar daripada kata memberikan seminar. Maklum, kalau memberi seminar, seperti misalnya jenis call-paper maka waktu presentasi yang diberikan paling-paling hanya 15 menit. Itupun, teman-teman dosen yang lain sudah menunggu gilirannya. Bahkan pernah terjadi dalam satu ruang, yang hadir hanya teman-teman yang ingin membawakan makalah presetasinya saja. Maklum, untuk ngejar kum.

    (lebih…)

  • Jika kita perhatikan berita di media-media, tidak semuanya perlu ditanggapi dengan serius, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Ibarat pepatah, ada gula ada semut, ada asap pasti ada apinya. Maklum, dengan begitu gampangnya informasi disebarkan, teknis perekaman gambar dan video, juga didukung oleh kesiapan di segi soft-nya, seperti semakin populernya ilmu komunikasi dengan ngelmu retorika-nya, tetapi di sisi lain motivasi orangnya juga berbeda-beda, maka akhirnya kebenaran suatu berita tidak mudah dibedakan dari yang namanya kebohongan belaka. Kebenaran berita yang dimaksud saat ini, tidak bisa dinilai 100% benar atau 100% salah belaka. Oleh karena itu membacanya perlu kearifan, baik dengan kepala dingin, atau mata hati. Kenapa, karena dapat dijumpai berita yang 50% benar, tetapi juga 50% salah. Maklum berita itu ditulis dengan motivasi mencari sensasi. Jadi jika tidak arif membacanya, yang tersimpan di benak, bisa-bisa hanya 50% yang salah.

    (lebih…)

  • Jadi penulis itu memang mengecoh, disangkanya bisa menjawab semua permasalahan. Padahal, nggak mesti seperti itu. Ini ada email masuk, mencoba menanyakan sesuatu yang membuatnya “drop”, saya coba deh menanggapinya:

    Yth Bapak Wiryanto Dewobroto
    Selamat siang Pak, semoga Bapak dalam keadaan baik, sehat & bahagia.

    Bapak Wiryanto, saya mohon petunjuk.
    Saya ingin bertanya tetapi tidak tahu mesti tanya ke mana.
    Saya ingin bertanya 3 hal saja, mohon Pak diberi petunjuk saya mesti tanya siapa.

    (lebih…)

  • Catatan: Rencana awal memang ingin menyampaikan gedung tinggi dan jembatan bentang panjang sekaligus. Setelah terjun mendalaminya lebih lanjut,  ketahuan bahwa materi gedung tinggi cukup dalam dan menarik juga, membahas itu saja makalah tertulisnya sudah mencapai 90 halaman. Oleh karena itu mengingat waktu yang tersedia relatif terbatas, maka materi jembatan bentang panjang akan dialokasikan di lain waktu saja (Bagian ke-2).

    Jadi hari itu, saya secara khusus akan membahas gedung tinggi saja, dimulai dari bagaimana mempersiapkan diri untuk menjadi insinyur dan bukan sekedar tukang, untuk akhirnya dapat terlibat pada proyek-proyek yang sebelumnya belum pernah ada , seperti misalnya gedung tertinggi di Indonesia . O ya, Burj Khalifa dibahas juga dari kaca mata falsafah rekayasa struktur dan siapa itu W.F Baker perencana struktur yang akhirnya mendapatkan beberapa award penghargaan atas prestasinya.

    Informasi lain tentang materi yang akan disampaikan dapat dilihat di:

    Jadi bagi pembaca blog ini, khususnya yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, ditunggu kehadirannya. Target peserta adalah mahasiswa-mahasiswi teknik sipil yang nantinya berkeinginan menjadi insinyur dan tidak sekedar bisa membangun seperti tukang. Juga kepada para praktisi di proyek-proyek konstruksi anda akan diajak pada falsafah dibelakang pekerjaan-pekerjaan rutin anda. Akhirnya yang diharapkan, kita semua memahami setiap makna dari tindakan praktis yang kita buat.

    Terima kasih kepada rekan-rekan civitas akademi di UAJY yang telah memfasilitasi dan menawarkan juga untuk umum. Tuhan memberkati kita semua.

    Amin.

  • Terus terang sebenarnya nggak mantap juga memakai judul “Aku cinta bahasa Indonesia”, rasanya koq terlihat berlebihan. Apa perlu menyatakan seperti itu.  Apakah itu tidak berarti bahwa memang ada masalah dengan penggunaan bahasa Indonesia. 😦

    Ah nggak boleh curiga-curigaan lhan. Nggak baik.

    Ok, terlepas dari masalah itu, terus terang aku sebenarnya terkesan dengan gerakan dari Balai Bahasa Yogyakarta yang bekerja sama dengan anak-anak muda Yogyakarta, yang fotonya aku lihat di Facebook di sini. Mohon ijin ya, boleh aku promosikan lagi dengan aku muat di blog ini. Matur nuwun. 

    Gambar 1. MERAH melambangkan keberanian untuk memakainya

    Gambar 2. PUTIH melambangkan kesucian untuk tetap diperjuangkan

    (lebih…)

  • Melihat judulnya (“pentingnya komunikasi”), maka orang-orang berlatar belakang teknik telkom atau fisip tentu akan berbinar-binar. Senang, tapi bisa juga heran, mengapa di blog seseorang berlatar belakang teknik sipil mengatakan demikian. Mestinya (yang tidak membuat heran) adalah jika mengatakan bahwa ilmu teknik sipil adalah yang paling penting.

    Kalau soal ilmu teknik sipil itu penting. Jelas, nggak perlu diungkapkan lagi. Bahkan sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat seharusnya mensyukuri bahwa ada orang-orang yang berkutat dan mengembangkan ilmu teknik sipil, karena merekalah maka mereka dapat menyebrangi sungai dengan aman melalui jembatan yang kuat dan kokoh, yang menjamin keamanan. Dapat membaca dengan terang karena ada supply listrik dari bendungan Jatiluhur. Itu khan salah satu pekerjaan dan hasil perencanaan orang-orang berlatar teknik sipil. Betul khan.

    (lebih…)