• Jika anda tidak paham artinya terhadap judul di atas, jangan kuatir itu memang istilah kedaerahan,  dari Jawa.  Istilah lain yang mungkin lebih banyak dikenal oleh masyarakat di Indonesia,  adalah ziarah kubur. Tetapi yang ingin saya ceritakan disini mungkin lebih spesifik, kami keluarga besar di Yogyakarta menyebutnya sebagai acara nyadran.

    Jadi bisa saja judulnya diganti menjadi nyadran 2012, meskipun demikian judul di atas tetap dipertahankan biar terasa khas Jawa-nya. Maklum nyekar artinya memberi bunga (tabur), sedangkan pesarean adalah bahasa halus dari makam atau pekuburan. Jadi nyekar pesarean adalah bisa juga diartikan sebagai memberi bunga (tabur) di atas pemakaman (leluhur), sebagai simbol penghormatan untuk mengingatkan keberadaan leluhur-leluhur terdahulu melalui kunjungan ke pemakaman, dimana nenek moyangnya dahulu disemayamkan secara abadi.

    Nyadran yang saya maksudkan disini adalah tidak sekedar ziarah kubur, tetapi ada unsur silaturahmi bersama saudara-saudara yang leluhurnya kebetulan dimakamkan di satu tempat yang sama. Jadi disini ada kesan kebersamaan, bertemu bersama untuk saling mengingatkan yang datang ke nyadran tersebut bahwa mereka semua pada dasarnya bersaudara. Meskipun kebanyakan bisa saja ketemunya hanya pada acara itu saja. Maklum, karena yang dimakamkan di situ kadang sudah lewat beberapa generasi sebelumnya, juga tempat tinggal yang mengikuti acara itu bisa saling berjauhan, misalnya saya khusus datang dari Bekasi ke Yogyakarta agar dapat mengikutinya. Jadi bisa berbeda-beda kotanya.

    Eit, . . . .  engineer koq ngomong kubur tho pak Wir, yang ilmiah-ilmiah saja gitu lho. Fokus-fokus !

    Gitu ya. Sebenarnya saya juga bertanya-tanya, apakah menulis acara seperti ini (nyadran), cukup menarik untuk diungkapkan. Tetapi kalau mengingat orang-orang di Jakarta (dan sekitarnya) dapat berbangga dengan keberadaan pemakaman mewah di daerah Cikarang dan sekitarnya (jika belum tahu, baca berita di sini), maka saya kira ini sangat relevan.

    (lebih…)

  • Siang kemarin dan sekarang, saya sedang mencoba merenungkan arti kehidupan. Maklum, sebagai seorang ayah dari seorang anak yang saat itu sedang menunggu sesuatu yang penting dalam kehidupannya, yang berharap akan terjadi perubahan yang positip dikeseluruhan hidup masa depannya.

    Perasaan yang aku rasakan saat itu adalah adanya harapan dan juga kekuatiran sekaligus, meskipun demikian bisa tetap merasa tenang karena yang dirasakan itu adalah tidak sendirian. Banyak ayah-ayah atau ibu-ibu yang lain, yang berharap-harap cemas merasakannya. Kenapa, karena yang ditunggu adalah pengumuman SNMPTN Jalur Ujian Tertulis 2012.

    (lebih…)

  • Istilah “devaluasi” umumnya merujuk pada kondisi terjadinya penurunan nilai mata uang suatu negara terhadap nilai mata uang negara yang lain. Jadi devaluasi juga berarti degradasi. Dengan arti seperti itu maka judul di atas akan merujuk pada kondisi dimana IPK sarjana tidak bisa lagi dijadikan sebagai rujukan yang akurat untuk menilaimutu sarjana tersebut.

    Lucu juga ya, ternyata yang mengalami devaluasi tidak hanya rupiah kita, tetapi produk sarjana kita khususnya sarjana teknik sipil.

    (lebih…)

  • Sebagai akademisi yang berlatar belakang peminatan struktur maka mendapat undangan untuk mengikuti Rapat Konsensus RSNI adalah suatu kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Bagaimana tidak, disana dapat bertemu teman-teman, baik dari unsur pakar, unsur perguruan tinggi, unsur pemerintah, unsur asosiasi profesi atau pengusaha, bahkan dari unsur umum, seperti lembaga bahasa dan standarisasi. Dari diskusi yang terjadi, minimal dapat mengetahui kondisi apa yang sedang trend, berkaitan dengan materi RSNI yang sedang dibahas.

    (lebih…)

  • Salah satu ciri dari seorang penulis, selain tentunya dapat menulis makalah atau artikel dengan baik adalah dapat “menjualnya”. Maklum dapat menulis dan membuat karangan dengan baik tetapi tidak ada yang membacanya adalah sia-sia belaka. Itu sih seperti menulis pada buku harian, nulis-nulis sendiri dan membaca-membaca sendiri.

    Karena itulah, maka jika diperhatikan materi yang kutulis kadang-kadang ada nada-nada provokatif, ada yang melihat kesannya sombong, ada juga yang memberi kesan terlalu percaya diri,  yang jelas rasa-rasanya tidak ada kesan bahwa tulisan-tulisanku terasa rendah diri. Nggak ada itu. 🙂

    (lebih…)

  • Umum

    Telah diungkapkan opini dan argumentasi prospek, pemakaian serta perkembangan konstruksi kayu di Indonesia. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan mendasar, adakah motivasi positip lain untuk dijadikan alasan: “mengapa kita (calon insinyur) tetap perlu belajar dan bahkan mengembangkan ilmu struktur kayu itu sendiri”.

    (lebih…)

  • Bagi yang memperhatikan statusku di BB, dapat dibaca tulisan : “Guru di bidang teknik sipil”. Tentang hal itu, sudah lama sekali itu terpasang. Hampir seumur BB itu sendiri. Selama ini rasanya belum pernah ada yang memberi tanggapan, atau bisa-bisa memang tidak ada yang memperhatikannya. Maklum profesi guru adalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Seperti profesi-profesi lainnya, pilot, tukang, tentara dan semacamnya.

    (lebih…)

  • Pelan tapi pasti, mata kuliah struktur kayu tidak lagi menjadi mata kuliah favorit di fakultas teknik, khususnya di jurusan-jurusan teknik sipil di Indonesia. Jika di era tahun 90-an saat itu penulis masih menjadi mahasiswa S1, maka mata kuliah struktur kayu diberikan dalam dua tahapan, yaitu Struktur Kayu I dan Struktur Kayu II. Kondisi tersebut tentu dapat dimaklumi karena mata kuliah yang sejenis, yaitu struktur baja dan struktur beton juga diberikan dalam beberapa tahapan yang lebih banyak. Bahkan masyarakat umumnya pada waktu itu punya pendapat bahwa yang disebut material konstruksi untuk struktur adalah material baja, beton dan juga material kayu. Jadi bagi seseorang yang berkeinginan disebut sebagai ahli struktur bangunan maka penguasaan ilmu ke tiga material tersebut adalah suatu kewajiban.

    (lebih…)

  • Jika pertanyaan berikut disampaikan kepada anak-anak muda yang baru duduk di sekolah menengah atas, tentu menarik. Ini pertanyaannya : “Kamu nanti ingin jadi apa ?“.

    Pertanyaannya pendek, meskipun demikian umumnya dapat dipahami mereka.  Apalagi jika bertanya dengan nada serius . Maklum jawabannya akan menunjukkan seberapa potensi dirinya tersebut. Adapun jawaban yang banyak disampaikan  adalah sebagai  berikut : mau jadi tentara (dalam hal ini masuk ke AKABRI), atau mau jadi DOKTER atau INSINYUR atau DIPLOMAT, dan semacamnya. Berbeda tentunya jika pertanyaan senada disampaikan kepada anak TK atau SD. Bisa-bisa jawabannya : “Mau jadi PRESIDEN pak !” 🙂

    (lebih…)

  • Hari Sabtu kemarin saya menerima telpon dari mas Agus, ketua panitia Seminar Nasional “Gedung Super Tinggi” yang akan diselenggarakan hari Kamis tanggal 31 Mei 2012 di kampus UPH-YAI, Jl. Diponegoro 74, Jakarta Pusat. Sebagai  salah satu pembicara utama pada acara tersebut, saya tentu berkepentingan dengan kesuksesan acara tersebut. Maklum, sampai hari itu saya belum mendapatkan poster atau brosur tentang acara seminar. Maksudnya bila ada poster atau brosur, tentunya dapat dibantu promosi di blog. Itu penting agar jangan sampai kosong pesertanya.

    (lebih…)