• KP pada judul di atas adalah singkatan dari Kerja Praktek (KP), salah satu mata kuliah di Jurusan Teknik Sipil UPH, yang dapat diambil minimal setelah menempuh mata kuliah lain sebanyak 100 sks. Ini dimaksud agar mahasiswa yang akan mengambil mata kuliah KP telah punya bekal pengetahuan yang cukup di bidang rekayasa teknik sipil.

    (lebih…)

  • Duit duit duit. Ujung-ujungnya DUIT atau UUD. Pernah dengar ?

    Sering. Saya kira banyak orang yang sering mendengar istilah tersebut. Lalu umumnya akan membayangkan bahwa tindakannya adalah semata-mata demi duit. Kadang disikapi sinis: “He, he, paling UUD”. Gitu khan.

    (lebih…)

  • Saya menemukan link tentang buku PCI (Prestressed Concrete Institute) Design Handbook 6th Ed (2004). Bagi insinyur maupun mahasiswa teknik yang tertarik atau yang berkecipung di bidang beton, beton prategang dan produk precast-nya maka buku ini adalah buku wajib baca.

    (lebih…)

  • Judul di atas merupakan judul artikel di sini. Tidak saya rubah agar sesuai aslinya. Terus terang sebagai dosen yang juga mulai terlibat dengan kegiatan penelitian maka membaca judul di atas tentu saja tergelitik untuk menanggapi.

    Apa betul tak semua hasil penelitian harus diungkap ?

    Jika tidak diungkap, lalu apa gunanya penelitian tersebut dilakukan. Itu namanya menghabis-habiskan duit.

    Dua pernyataan di atas, yang satu mengutip LIPI kemudian yang ke dua adalah komentar saya selaku dosen, maka itu saja sudah akan menimbulkan pro dan kontra. Saya yakin tidak semua pembaca akan mengamini, baik pernyataan pejabat LIPI maupun komentar tanggapan saya di atas. Untuk itu baiklah dilihat latar belakang argumentasi mengapa ke dua pernyataan tersebut timbul. Jika hal-hal seperti ini dapat dipahami masyarakat secara baik maka rasa-rasanya permasalahan tentang polemik hasil penelitian yang telah terjadi sejak tahun 2008 khususnya tentang tercemarnya susu formula pasti telah mendapat penyelesaiannya. Bayangkan saja, tentang tercemarnya susu tadi saya telah menuliskannya di blog ini, di sini. Tetapi ternyata sampai sekarang masih saja ada polemik di berita-berita  yang bermunculan.

    (lebih…)

  • Ternyata, postingan ringan saya tentang “pentingnya kuliah” di blog ini mendapat tanggapan yang relatif banyak dibanding postingan lain yang bahkan perlu lebih banyak mikirnya (agak sok ilmiah). Jadi ada baiknya kita ulas lagi saja topik tersebut. Judul di atas terkesan ada nada mengajak kuliah, bahkan bagi yang pernah kuliah agar dapat mengambil lagi, tentunya untuk level yang  lanjut.

    Apakah ajakan tersebut penting dan perlu ditanggapi ?

    (lebih…)

  • Ini mungkin suatu fenomena menarik, dan bahkan bisa bersifat umum, khususnya di Indonesia, yaitu bahwa untuk “membangun”perlukah harus sekolah tinggi-tinggi, seperti menyelesaikan kuliah di jurusan teknik sipil. Karena ada bukti bahwa yang bukan sarjana teknik-pun jika karena biasa, maka bisa. Nggak percaya.

    (lebih…)

  • Dari judul di atas dapat diketahui bahwa materi tulisan saya kali ini  adalah tentang pemasangan baut mutu tinggi pada struktur baja. Maklum salah satu kegiatan kesehariannya khan menjadi dosen struktur baja, jadi tulisan ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana usahanya menekuni profesi tersebut.

    Jika ceritanya adalah tentang pemasangan baut mutu tinggi, apa ya yang kira-kira dapat dibayangkan. Bagi awam yang tahu itu baut maka tentunya dapat membayangkan bahwa cara pemasangannya pasti tidak akan berbeda jauh. Mula-mula kepala baut dipasangkan pada komponen yang akan disambung, yang tentunya pasti sudah dilobangi. Selanjutnya dipasang washer dan mur, lalu  diputar kencang-kencang dengan kunci pas atau kunci inggris atau spud wrench (ini istilah di AISC), sekuat tenaga. Jika tenaga kita kurang kuat dapat juga memakai Impact Wrench, itu lho wrench yang digerakan secara pneumatik atau listrik. Simple,  selesai bukan.

    Jika hanya seperti itu, maka tulisan ini sudah selesai dong. He, he, apa bener hanya seperti itu.

    Nah inilah bedanya jika penulisnya mempunyai latar belakang engineer, bekerja sebagai guru dan penganut ngelmu “titen”. Tentu akan berbeda meskipun topik yang ditulisnya hanya tentang pemasangan baut yang bagi orang awam terlihat “kecil”. Jadi jika masih tetap tertarik silahkan saja dilanjut.

    O ya sebagai catatan bahwa tulisan ini tidak sekedar hasil copy and paste, tetapi betul-betul original. Penulis sebagai seorang pembaca juga di bidang tersebut bahkan belum pernah menemukan tulisan serupa yang berbahasa Indonesia.

    Mari kita buktikan.

    (lebih…)

  • Pengantar:

    Terus terang studi banding yang kami lakukan di Jurusan Teknik Sipil telah terlaksana lama di akhir bulan November dan awal bulan Desember tahun lalu. Bahkan sebagian kecil pengalaman di sana telah penulis gunakan untuk melengkapi artikel di blog ini, yaitu :

    Tetapi apa yang saya tulis di atas terkesan tidak secara langsung mengkaitkan dengan peranan kami selaku anggota akademisi di UPH, yang mana itulah yang menyebabkan kami melakukan studi banding. Oleh karena itu sebagai pertanggung-jawaban moral kepada yang memberi kesempatan untuk studi banding tersebut, yaitu ke institusi penulis di UPH dan juga yang di “atas” maka saya mewakili anggota studi banding menuliskan laporan perjalanan studi banding tersebut.

    Pembuatan laporan perjalanan yang begitu panjang (versi resmi adalah 15 halaman) telah disampaikan dan dipresentasikan ke Jurusan kemarin pada hari Selasa 1 Februari 2011.

    Ada yang mengatakan bahwa penulisan laporan seperti ini terkesan terlalu berlebihan karena ini tidak termasuk dalam kriteria penulisan ilmiah. Jadi ada juga dosen yang bahkan bertanya, ngapain menulis bukan tulisan ilmiah, khan tidak ada kum-nya. Karena tidak kum-nya itu juga maka dari institusi tidak ada insentifnya. Kalaupun nanti masuk majalah pasti artikel tersebut akan dikurangi, lima belas halaman terlalu banyak.

    Memang jika hanya menulis untuk kum, maka jelas apa-apa yang saya lakukan adalah mubazir. Seperti juga menulis ratusan artikel di blog ini jelas tidak ada nilai kum-nya. Jadi juga tidak ada sumbangan real nantinya untuk menempuh jenjang profesor, yang persyaratannya adalah jumlah kum. Tetapi saya menulis ini semua sebenarnya hanya kesenangan saja. Suatu bentuk rasa syukur, berbagi info dengan pembaca. Sekaligus juga untuk belajar dan berlatih menulis sehingga nanti ketika menulis ilmiah akan lebih enak dan lebih baik.

    Semoga sharing pengalaman saya bersama teman-teman di Jurusan Teknik Sipil UPH ini dapat menginspirasi rekan-rekan pembaca. Semoga.

    (lebih…)

  • Pertanyaan saudara Ghomari cukup menarik. Mari kita baca bersama-sama:

    MUHAMMAD GHOMARI
    Submitted on 2011/01/27 at 17:28

    Selamat sore Pak wir… Apa kabarnya pak ?

    Menarik pembahasannya tentang AISC dan SNI. Seperti artikel yang pernah saya baca (kalo gak salah pak wir sendiri yang buat  …) Bahwa SNI mengadopsi dari AISC, dengan beberapa point yang berbeda. Tanpa dilengkapi komentar atau pun penjelasan sumbernya. Sehingga pemakaiannya pun seringkali membingungkan. Kalau saya sendiri lebih mudah memahami AISC daripada SNI karena lebih banyak literatur yang mendukung. Saya harapkan ada penjelasan dari Tim Penyusun SNI mengenai isi dari standar yang mereka keluarkan. (Seperti ACI Commentary gitu…)

    ==> Mumpung lagi bahas tentang AISC dan SNI Baja. Saya berharap pak wir berkenan menjawab pertanyaan saya.

    Berikut pertanyaan saya :“Ketika pada perencanaan batang yang menerima beban aksial tarik dalam kontrol perhitungannya (kondisi batas) diperhitungkan juga mekanisme sambungan (adanya faktor Shear lag U dan blok shear rupture). Tetapi tidak pada perencanaan batang aksial tekan. Apakah sistem sambungan tidak mempengaruhi kekuatan batas pada batang tekan???”

    Begitu pertanyaan saya pak, mohon dibantu …

    Saya terus terang senang dengan pertanyaan semacam ini, karena yang bersangkutan telah berusaha mempelajarinya terlebih dahulu.  Jadi jawabannya juga bisa lebih bermutu tentunya.

    Catatan : Pembahasan saya akan mengacu pada AISC 2005, jika belum punya down load di sini.

    (lebih…)

  • Perguruan tinggi adalah tempat yang diharapkan dapat mencetak kader-kader pemimpin bangsa di masa mendatang sehingga dianggap dapat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan negara itu sendiri. Alumni perguruan tinggi yang baik diharapkan tanggap akan permasalahan yang terjadi di masyarakat atau lingkungannya dan diharapkan dapat berani tampil untuk memberi solusinya.

    Adanya suatu perguruan tinggi yang baik di suatu tempat (negara / daerah) bahkan kadang-kadang dapat dijadikan indikasi bahwa masyarakat di daerah tersebut juga baik adanya. Lihat saja kota-kota di Indonesia yang mempunyai perguruan tinggi yang terkenal maka masyarakat disekitarnya juga relatif akan dipengaruhi. Lihat saja kota-kota berikut Depok (Universitas Indonesia), Bandung (Institut Teknologi Bandung atau Unpad), Yogyakarta (Universitas Gadjahmada), Surabaya (ITS, Unair) dan lain sebagainya.

    Tetapi berbicara tentang perguruan tinggi, maka keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan peran dosen-dosen di dalamnya. Karena bagaimanapun juga kepada merekalah maka kinerja perguruan tinggi dapat diharapkan.

    (lebih…)