Mendapat amanah untuk memegang mata kuliah struktur baja di Jurusan Teknik Sipil UPH tentulah bukan sesuatu yang biasa-biasa saja. Itu merupakan tanggung-jawab yang tidak ringan.
Jika sebelumnya saya juga membantu Prof. Harianto H. di mata kuliah struktur beton, maka rasanya mulai semester ini materi tersebut sudah tidak dipegang lagi, dengan demikian nantinya kompetensi alumni Jurusan Teknik Sipil UPH dapat dengan mudah dievaluasi kompetensinya mengenai ilmu struktur beton dan ilmu struktur bajanya. Jika beton yang kuat maka strategi pengajaran prof Harianto berhasil, sedangkan baja maka strategi pengajaran yang saya berikan juga berhasil. Jadi secara tidak langsung, kemampuan mengelola mata kuliah dari seorang dosen akan dapat dievaluasi dari para muridnya yang telah lulus. Bagaimana lagi, saya memegang mata kuliah struktur baja 1, struktur baja 2 dan struktur baja 3; demikian juga dengan prof Harianto, yaitu mata kuliah teknologi beton, struktur beton 1, struktur beton 2 dan struktur beton 3.
Menurutku ilmu struktur beton relatif banyak teman-temannya, cukup banyak dosen di perguruan tinggi lain di Indonesia yang menekuni bidang tersebut. Kondisi tersebut didukung juga oleh SNI 2002 yang secara low-profile mau meniru habis ACI code (code beton amerika), dengan demikian buku-buku terbita amerika dapat digunakan untuk bahan rujukan perkuliahan.
Bagaimana dengan baja. Meskipun diusahakan sering aktif di pertemuan-pertemuan ilmiah tetapi rasa-rasanya masih jarang ketemu dosen baja yang mempunyai kepercayaan diri di bidang ilmu tersebut seperti halnya dosen struktur beton. Kalaupun katanya mengajar ilmu struktur baja, tetapi jarang dilihat tulisan-tulisan beliau yang berkaitan dengan ilmu struktur baja tersebut. Dengan latar belakang seperti itu, maka dalam menyusun materi perkuliahan struktur baja di jurusan teknik sipil UPH juga hanya mengandalkan diri sendiri. Jadi backup yang dapat aku usahakan hanya didasarkan pada pustaka pribadiku, dan kemampuanku untuk menggali ilmu tersebut. Jadi sangat subyektif sifatnya.
Oleh karena itulah maka apa-apa yang telah dikerjakannya perlu ditunjukkan kepada orang lain, transparan gitu lho. Jadi kalau ada kelemahan maka dapat ditingkatkan, kalau ada yang sudah baik maka perlu dipertahankan, dan juga bila ada yang kurang dapat ditambahkan.
Mengacu pada pengajaran struktur beton yang condong ke Amerika, maka untuk struktur bajapun aku sengaja mengarahkan ke Amerika, yaitu memakai textbooks berbasiskan AISC 2005. Jadi harapannya jika murid-muridku sudah familiar maka mereka untuk belajar lebih lanjut dapat dengan mudah memanfaatkan materi-materi yang ada.
Dengan motivasi mengajar agar murid-muridnya punya kompetensi yang kuat dikemudian hari maka wajarlah jika aku prihatin melihat hasil UTS murid-muridku di semester ini. Coba lihat, ini nilainya :
Coba lihat, dari 18 siswa yang mengikuti ujian, nilainya yang benar-benar asli (tanpa ditambah), hanya satu orang siswa, yaitu yang mendapat nilai 100 itu saja. Sedangkan siswa yang lain telah dicoba untuk dikatrol, meskipun demikian hasil akhirnya tidak melebihi 50% dari nilai tertinggi itu.
Kondisi itu tentu membuatku bertanya-tanya, siapa yang tidak kompeten dalam hal ini. Saya sebagai dosennya, atau murid-muridnya. Meskipun demikian di sisi lain, cukup lega, masih ada satu anak yang mampu menjawab materi ujian yang diberikan secara memuaskan. Artinya ada anak yang mampu memahami apa yang aku ajarkan.
Materinya kayak apa sih pak ?
Silahkan diintip:
Ini versi pdf-nya (download 258 kb).
Nggak susah-susah amat bukan.
Padahal soal no.1 sudah dijadikan materi tugas yang digunakan sebagai syarat agar nilai UTS valid. Jadi sebenarnya jika murid yang bersangkutan mengerjakan dengan baik (mengerti dan tidak karena mencontek) maka sebenarnya mereka mestinya bisa mengerjakan soal no.1 yang bobotnya saja sudah 60%.
Dengan demikian dapat dibayangkan: untuk menjadikan alumni UPH engineer yang handal, ternyata tidak semudah seperti sekedar membalik tangan. Perlu kerja keras dan sabar. 😐
O ya, ini pekerjaan muridku yang kuanggap baik.
Nggak susah khan.
O ya, itu khan mata kuliah Struktur Baja 3 (2 sks), saya tampilkan lebih dulu karena ada yang dapet nilai 100. Pada semester genap ini sekaligus juga diberikan mata kuliah Struktur Baja 1 (2 sks). Ini hasilnya kurang bagus nggak ada yang dapet nilai 100, aslinya maksimum 60 tetapi karena yang lulus sangat sedikit maka dengan kebijaksanaan tidak menarik (dari kaca mata dosen) secara keseluruhan ditambah 20, sehingga jika dulunya hanya empat yang diatas nilai 50 maka sekarang bertambah jadi 6 orang. Peserta yang ikut ujian ada sekitar 25 orang. Bayangkan, sudah ditambah 20 aja masih kurang dari separo yang lolos. Padahal ada teorinya lho, bayangkan mata kuliah Struktur Baja koq sampai ada teorinya. Nggak percaya lihat saja.
Pak Wir, itu teorinya ngambil dari bukunya siapa ?
Seperti biasa ada beberapa yang saya baca dari bukunya Segui, juga Geschwindner, tetapi sebagian tidak ada di buku itu, adanya baru pada penjelasan di depan kelas ketika saya mengajar. Jadi soal teori tersebut aku berikan untuk mengetest apakah para mahasiswa pada mendengarkan tidak ketika aku mengajar di depan kelas.
Harapanku sih positip, tetapi fakta menunjukkan bahwa dari sekitar 25 orang tersebut, yang dapat menjawab secara tepat soal teori di atas tidak lebih dari empat orang. Bayangkan itu. Jadi selama ini ketika aku memberikan perkuliahan ada kemungkinan mereka semua pada fesbook-an. 🙂
Jadi biarin saja jika nanti yang lulus hanya 6 dari 25 orang, ya gimana lagi.
Pak ada jawabannya pak, untuk belajar nih ?
O ya pasti ada, silahkan saja jika ingin belajar baja. Bagus itu. Ini jawabannya dalam pdf (download 143 kb).
Coba bandingkan dengan soal baja yang kamu ketahui, beri komentar atau kritik ya, biar ada masukan untuk mengembangkan mata kuliah baja di UPH.
Trims sebelumnya ya. Salam.















Tinggalkan Balasan ke Fajar Batalkan balasan