Tugas Mengarang pada Mata Kuliah Rekayasa Kayu

Dosen adalah kehidupanku, baik dalam arti realitis, yaitu (gaji) mengajar untuk hidup, tetapi juga dalam arti idealis, yaitu kehidupanku adalah mengajar.

Mengajar yang aku maksud, tentunya dalam arti luas. Tidak hanya berdiri di depan ruang kelas ketika jam kuliah tiba, tetapi juga dimana saja, kapan saja. Pokoknya selama ada yang ingin jadi murid. Tentang hal itu, anak-anakku pasti tahu sekali tentang mengajar yang kumaksud. Ketika anak-anakku sedang kuantar ke sekolah, maka di dalam mobilpun mau-tidak mau, aku banyak mengajar (bercerita) tentang banyak hal, tentu saja yang relevan dengan mereka, seperti pengalaman hidup bagaimana memilih sekolah, juga bagaimana menghibur diri bilamana ada hasil ujian yang jemblok. πŸ˜€

Lho jadi tidak hanya bidang rekayasa saja ya pak Wir ?

Benar, pokoknya hal-hal yang relevan untuk diajarkan. Tentu saja tentang hal-hal apa yang menurutku aku menguasai dan pantas di-sharing-kan. Tentang hal itu, karena aku juga seorang penulis (lihat saja tulisan-tulisanku di blog ini), maka rasa-rasanya apa yang sedang kuminati dan sedang jadi fokus perhatian maka rasanya seperti kukuasai betul. Itu alasannya, mengapa kadang aku merasa percaya diri untuk menceritakan sesuatu yang memang secara pendidikan formal tidak aku pelajari, tetapi karena aku kuasai maka aku ajarkan juga. Sebagai contoh misalnya, tentang aplikasi pelajaran bahasa Indonesia misalnya, tentang karang mengarang. Aku pede banget soal tersebut. Maklum aku tahu, bahwa dengan membaca karangan seseorang, aku bisa tahu apa yang ada di benak pikiran mereka masing-masing. Itu dapat aku gunakan untuk menangkap, apakah apa yang aku sampaikan telah masuk pada kesadaran mereka atau belum.

Membuat tugas karangan, apakah hal itu juga berguna untuk bidang ilmu teknik sipil. Bisa-bisa sastra sipil dong pak ?

Jangan disepelekan lho. Jangan kamu pikir bahwa pelajaran di teknik sipil itu melulu hanya soal hitung berhitung. Jadi kalau ada tugas essay, apakah itu berarti nggak cocok jika dikaitkan ilmu rekayasa ?

Jujur saja, menurut pendapatku mata pelajaran yang berupa penyelesaian soal, dengan hitung berhitung adalah level pelajaran paling mudah yang dapat diberikan. Seorang dosen muda, yang baru luluspun maka dapat dengan mantab mengajarkan materi seperti ini. Semakin susah proses hitungannya, maka semakin asyik dan penting kesannya tentang materi pelajaran tersebut. Akhirnya isi perkuliahan hanya hitung berhitung saja. Padahal materi pelajaran seperti itu, hanya akan mendidik kita menjadi mesin atau tukang hitung. Itu alasannya, mengapa dulu ada kesan bahwa pendidikan teknik sipil, yang identik dengan hitung-berhitung, maka kedepannya akan berkurang pengaruhnya karena digantikan oleh ketersediaan komputer yang semakin canggih pada sisi, tetapi di sisi lain juga semakin terjangkau (murah).

Hitung berhitung adalah cara penting untuk belajar, untuk mengenal sesuatu. Tapi tentu saja tidak itu saja, mereka (murid) harus diberikan juga pelajaran falsafah, berpikir tentang sesuatu terkait mata kuliahnya, misalnya tentang motivasi apa yang mendasari mereka harus menguasai mata kuliah tersebut, dan mengapa mereka harus mengembangkannya. Hal-hal seperti itu tentu tidak bisa diungkapkan dalam bentuk angka atau hitung berhitung. Topik seperti itu tentu paling gampang kalau dinarasikan, diceritakan. Tentu saja akan lebih t.o.p jika didukung oleh multi-media.

Apa ada contohnya pak Wir, dan pada mata kuliah apa itu cocoknya ?

Ini kebetulan ada contohnya, dimana tugas mengarang aku terapkan pada perkuliahan perdana mata kuliah Struktur Kayu di Jurusan Teknik Sipil , UPH. Tugas itu aku berikan kepada murid-muridku untuk mengatasi masalah minder atau tidak percaya diri terkati mata kuliah sturktur kayu.

Mengapa koq minder dengan mata kuliah struktur kayu. Untuk menjawabnya, maka bayangkan saja kalau kampus UPH yang terletak di dekat ibu kota negeri ini, murid-muridnya pasti hanya akan melihat rumah kayu sebagai rumah non-permanen atau rumah tradisionil. Di sekitarnya memang banyak berdiri bangunan megah, tetapi tidak satupun yang pakai material kayu sebagai elemen struktur, semuanya pakai beton atau baja. Jadi apa pentingnya belajar mata kuliah tersebut, paling-paling hanya sekedar lulus ujian, sebagai persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Teknik. Gitu khan.

Adanya persepsi itu bagi saya sebagai seorang pengajar (dosen) yang memang hatinya disana (sebagai guru) tentu menjadi masalah yang besar. Nggak ada gunanya saya bersusah payah mengajar mereka, kalau di dalam hati kecilnya merasa itu bukan sesuatu yang penting. Jadi pertemuan pertama adalah saya buatkan narasi yang harapannya dapat mengubah pola pikir mereka.

Nah di akhir pertemuan itu, untuk menangkap apakah mereka memahami narasi yang kubuat itu, maka aku minta mereka membuat karangan. Apa yang mereka tangkap dari hasil pengajaran saya itu, lalu apa sekarang pola pikir mereka terhadap mata kuliah kayu yang nantinya akan aku buat.

Mahasiswa saya minta membuat kelompok, dalam kelompok itu saya minta untuk didiskusikan dan selanjutnya dibuatkan narasi tertulis menurut pikiran mereka sendiri. Jadi karangannya berupa rangkuman perkuliahanku yang perdana itu.

Nah dari beberapa kelompok, saya melihat ada satu kelompok yang tulisannya pendek dan to-the-point pada topik yang aku harapkan. Ini hasil karangan mahasiswaku terkait mata kuliah struktur kayu di UPH.

Tertarik dengan tulisanku yang lain terkait struktur kayu, silahkan pilih link-link berikut :

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s