penelitian di Indonesia

CEO Bukalapak kemarin posting di medsos tentang anggaran riset Indonesia. Dia membuat perbandingan besaran dana riset (bidang terkait bisnis si CEO) negara kita dengan negara lain yang lebih maju. Perbandingan seperti itu mestinya sesuatu yang biasa-biasa. Maklum, tidak ada yang wah dengan kondisi riset di negeri ini, apalagi kalau dibandingkan dengan negara maju. Masalah terjadi karena adanya kelemahan tersebut dikaitkan dengan Presiden. Padahal di medsos juga, ada bukti foto bahwa pak Presiden yang dimaksud sangat mendukung kegiatan bisnis CEO tersebut. Jadi kesan yang ditangkap pembaca, CEO yang “nggak tahu diri”. Jadi, kebetulan hp saya lemot, maka sekalian saja ikutan uninstall Bukalapak.Β  πŸ˜€

Bicara riset, apalagi soal dana. Itu nggak gampang. Kalau hanya bicara besaran dana riset, maka itu belum tentu menjawab permasalahan yang ada. Maklum tujuan riset sendiri diantara individu, bisa berbeda-beda. Bagi seorang dosen atau mahasiswa, yang namanya riset adalah kegiatan di luar jam mengajar yang diapresiasi kampus. Jadi misalnya, saya lagi ngantuk dan melongo, eh disapa kolega lain “lagi ngapain pak Wir“. Maka sangat elegan kalau saya ngomong, “lagi memikirkan metode pengujian yang tepat untuk riset ini pak“. Nah selesai dah, dan yang tanya pasti puas dan tidak jadi masalah yang berlarut-larut.

Agar keren, banyak dosen yang mencoba mengkaitkan dengan adanya hibah pemerintah. Kemampuan membuat proposal dan akhirnya mendapatkan dana hibah, seakan-akan menunjukkan dosen yang bersangkutan hebat (jelas bukan di bidang mengajar). Apalagi kalau dari dana riset itu dapat dipakai untuk menggaji asisten-asisten riset yang banyak. Lebih terkenal lagi dosen yang bersangkutan. πŸ˜€

Jika banyak dosen yang memanfaatkan dana hibah tersebut, sehingga ketika dijumlah total dana pemerintah tersebut menjadi sangat besar, relatif lebih tinggi dari negara lain. Apakah itu juga berarti kita sudah setara dengan negara maju lainnya.

Belum tentu. Itu semua tergantung dari untuk riset apa, dana-dana tersebut dialokasikan. Ini nggak mudah.

Saat ini, yang namanya riset di perguruan tinggi sebagian besar hanya berfokus pada “hasil publikasinya, apakah bisa diterima di jurnal international berindeks Scopus dan masuk kategori jurnal bereputasi (Q1 – Q4) atau tidak“.Β  Ini penting karena hasil publikasi mempengaruhi karir kepangkatan, apalagi kalau pengin menyandang gelar Profesor atau Guru Besar. Gelar akademis tertinggi di dunia kampus. Ini penting karena gelar tersebut bisa mengangkat derajat keluarga nantinya. Banyak lho gelar tersebut yang dibawah sampai mati, yang dituliskan di nisan-nisan pemakaman. Jadi cucu-cucunya nanti bisa bangga bahwa eyangnya dulu ternyata pintar. πŸ˜€

Saya mungkin masih dalam taraf itu. Mohon maaf. πŸ˜€

Adapun yang namanya riset, pada dasarnya adalah solusi ilmiah terhadap suatu permasalahan yang ada. Kalau ternyata permasalahan itu sebenarnya sudah ada yang serupa, dan sudah ada yang berhasil menyelesaikannya dan ditulis di jurnal. Maka riset yang ada hanyalah sekedar studi literatur, yaitu mempelajari kesamaan antara masalah yang dijumpai, dan masalah yang pernah dilaporkan (secara tertulis). Jika sama, maka solusi sukses yang pernah dikerjakan dapat diusahakan. Selesai.

Jika ternyata masalah tersebut, belum pernah ditulis di literatur ilmiah (jurnal ilmiah atau buku). Ini pentingnya kemampuan membaca, yang didukung oleh perpustakaan atau sambungan internet. Nah bisa membuktikan bahwa masalah tersebut adalah sesuatu yang baru (tergantung dari kejelian membaca literatur), maka sebenarnya itu sudah suatu awal riset yang baik. Itulah makanya, mutu riset bisa dilihat dari literatur yang digunakan. Jika hanya dari jurnal lokal, apalagi yang hasil tulisan sendiri. Ini bisa diragukan, kecuali tentunya yang bersangkutan memang terkenal ahli di bidang tersebut dan telah mempublikasikan di jurnal bereputasi.

Hal-hal itulah maka saya sepakat dengan pimpinan DIKTI untuk evaluasi tulisan bermutu maka perlu mempublikasikannya di jurnal international bereputasi (Jurnal Scopus kategori Q1 – Q4). Hanya saja, ada yang bilang untuk teman-teman di bidang ilmu sosial, itu nggak tepat karena nggak tersedia jurnalnya. 😦

Pengalaman dua kali diterima di jurnal ASCE (ini tahun 2017, dan ini tahun 2018) maka menulis di jurnal international adalah sangat berbeda dengan menulis di blog seperti ini. Bayangkan baru bangun tidur, dan ada ide nongol, maka dapat langsung dituliskan.

Agar dapat masuk jurnal international yang baik, maka tulisan tersebut harus mengandung kebaharuan (novelty). Ini yang menurut saya nggak mudah. Tidak ada jaminan bahwa dikucurkannya dana riset yang besar, maka secara otomatis dapat diselesaikan. Memang, ini tergantung dari bidang riset yang ditekuninya.

Agar riset di negeri ini bisa maju, maka harus mengandung dua unsur, pertama adalah mengandung novelty (kebaharuan), dan yang kedua adalah menjawab permasalahan lokal (Indonesia).

Jadi meskipun dikucurkan dana hibah penelitian yang sangat besar, jika tidak mengandung ke dua unsur tersebut, maka nggak ada gunanya. Kalaupun itu dipublikasikan, tetapi paling hanya jadi tumpukan kertas di gudang. Novelty dapat dilihat dari level publikasinya. Ini gampang diukur, adapun menjawab permasalah lokal. Ini kelihatannya nggak gampang.

Kalau nggak gampang, lalu bagaimana pak Wir. Jangan hanya berteori saja, yang real dong pak.

Solusinya memang sangat subyektif. Tergantung dari wawasan masing-masing orang. Jika hanya hidup disekitaran kampus dan nggak pernah menulis. Wah, susah sekali, apalagi kalau tidak membaca jurnal. Jadi untuk kondisi seperti itu, akan tergantung dari apa yang dia baca. Konsumsi publik, sangat terbatas beritanya.

Bagi yang sering menulis, seperti blog ini, harus bersyukur. Tulisan dapat menjadi magnet bagi hal-hal yang dituliskannya. Secara fisik, saya sangat jarang di lapangan. Bahkan kalau tidak pakai persiapan yang baik, sering kena masuk angin. Intinya saya bukan orang lapangan. Hanya karena suka menulis, maka sangat banyak permasalahan lapangan yang saya ketahui. Karena saya terbiasa menulis, maka masukan-masukan yang ada, mudah saya rumuskan. Ketika telah dirumuskan dengan baik, bahkan kadang penjelasannya lebih baik daripada orangΒ  yang melihatnya dengan kepala sendiri. Nah lho, gimana itu.

Saya ini mirip seniman. Kerja apa-apa yang disukai saja. Tidak betah jika kerjanya harus mengikuti suatu target waktu yang ketat. Ini berbeda dengan mengajar yang selalu saya usahakan untuk on time, juga undangan presentasi misalnya, maklum mengajar dan presentasi khan seperti curhat saja (tetapi konotasi positip lho, karena hasilnya bisa di luar kepala). Itu pula yang menyebabkan saya tidak terlalu ngotot mengikuti dana hibah. Maklum dana hibah yang tersedia relatif kecil jika digunakan untuk topik struktur baja. Itulah mengapa di Indonesia itu, banyak yang meneliti tentang bahan material mortar, beton, dan kayu. ItuΒ  karena dana penelitiannya relatif kecil, dibanding jika dipilih material baja. Misalnya saja di UPH, mesin uji tarik hanya cocok untuk material itu, kalau untuk baja maka harus dipilih sampel kecil yang kekuatannya kurang dari 5 ton. Jadi hanya selevel kawat. Mana bisa itu untuk konstruksi yang sesungguhnya. πŸ˜€

Nah dengan menulis maka banyak permasalahan teknik sipil yang “masuk”. Biasanya mereka (yang punya masalah) ingin cari solusi. Nah kasus-kasus seperti itu biasanya saya “tunggangi”, saya bantu untuk cari solusi sekaligus dijadikan topik riset. Itu bisa terjadi jika solusinya diselesaikan dengan metode-metode ilmiah yang baku. Langkah-langkah yang biasa saya gunakan adalah :

  • Identifikasi permasalahan. Apakah masalah yang datang sesuai dengan topik kompetensi yang saya punyai, misalnya struktur baja atau kayu. Ini penting karena di sini kekuatan saya.
  • Dari permasalahan yang ada, kemudian disusun hipotesis dari penyebab atau solusi yang dapat dibuat.
  • Selanjutnya menguji hipotesis, mula-mula menggunakan metode yang sangat sederhana, sampai metode numerik yang rumit. Biayanya umumnya dihabiskan untuk pembelian software original (ini modal, karena bisa dipakai berulang kali).
  • Jika masih meragukan, maka perlu dilakukan uji empiris. Ini bisa sangat mahal, tergantung ukuran sampel yang diuji, sebagai gambaran untuk uji sampel yang jadi topik publikasi saya yang terakhir, yaitu scaffolding. Itu ujinya bisa puluhan juta. Untuk uji saja lho. Nah, jika permasalahan itu yang minta dari owner (yang punya masalah) maka biayanya saya mintakan ke mereka. Ini sangat efektif dibanding pakai dana hibah, karena orang-orang mengerjakan itu menjadi tanggunan si pemberi tugas.

Strategi seperti itulah yang selama ini saya gunakan. Ibarat sambil menyelam minum air, sambil memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat, dapat dihasilkan topik penelitian yang bagus. Adanya kondisi seperti itu maka saya jarang ikut dana hibah. πŸ˜€

Nah ini contoh permasalahan yang baru masuk.

WhatsApp Image 2019-01-25 at 19.04.44

Jika dapat dibuat kajian secara ilmiah yang menarik, maka tentunya hal ini sangat berguna untuk menjadi bahan pembelajaran bersama. Berguna bagi solusi permasalahan di negeri ini, dan sekaligus dibuat publikasi terindeks Scopus. Ini jelas suatu pekerjaan penelitian yang tidak harus menunggu disediakannya dana riset sebagaimana yang diomongkan CEO di atas.

Ada yang mau ikutan kasih topik penelitian.

 

 

7 respons untuk β€˜penelitian di Indonesia’

  1. permisi pak saya ingin bertanya, apabila saya memiliki penampang H dengan dimensi 250x250x8x19 dengan panjang 8.73m dan fy=345 MPa dan saya ingin mengetahui kuat nominalnya, hal yang saya lakukan adalah mencari klasifikasi kuat lentur dan kuat puntir yakni apakah inelastis atau elatsis. pertanyaan saya adalah apabila saya mendapatkan klasifikasi untuk kuat lentur adalah elastis sedangkan kuat puntir adalah inelastis, apakah batang tersebut masih valid untuk digunakan? ini karena batang tersebut memiliki kuat nominal yang lebih besar dibandingkan batang lain yang memiliki dimensi yang lebih besar (dimensi lain yang dimaksud adalah 300x300x12x22)

    maaf pak apabila pertanyaan saya melenceng dari bahasan bapak, saya bingung ingin bertanya di thread yang mana πŸ™‚

    Suka

  2. betul pak hanya saja contoh yang diberikan pada buku bapak ketika penampang H memiliki kondisi tekuk puntir dan tekuk lentur yang inelastis sehingga dipilih nilai Fcr yang terkecil diantara kedua kondisi tekuk tersebut, untuk penampang saya dimana tekuk lentur elastis dan tekuk puntir inelastis apakah saya hitung hingga mendapatkan kuat nominal lalu saya pilih nilai kuat nominal terkecil antara tekuk lentur elastis dan tekuk puntir inelastis ? terimakasih atas jawabannya πŸ™‚

    Suka

  3. Pak Wir, apakah ada kiat / trik utk belajar struktur baja/beton dari buku / code / design example literatur yg pakai unit imperial (kip, ft, in, lb/ft)? karena koefisien dr rumus2 nya juga berbeda kan dengan yg si unit, selain itu feeling nya kalau pakai unit imperial beda dengan yg si unit (feel nya ga dapet klo yg imperial unit)

    terima kasih Pak Wir

    Suka

    • Kalau buku baja maka silahkan baca buku tulisan saya. Bisa diperoleh di http://lumina-press.com

      Semua kasus sudah pakai SI. Maklum sejak AISC 2005, code tersebut sudah menyediakan SI. Juga beton tentunya. Wah kelihatannya pertanyaan anda kelihatannya hanya cocok digunakan sekitar 15 tahun yang lalu. Sekarang sudah pakai SI semua, kecuali AASHTO masih pakai imperial.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s