• Tulisan saya tentang jalan ambles ternyata mendapat tanggapan yang cukup menarik banyak, untuk komentar tertulisnya sih saya kira biasa-biasa, silahkan saja baca di bagian bawah setiap artikel yang kutulis. Sisi menarik yang aku maksud adalah bahwa dengan tulisan-tulisanku tersebut sampai-sampai ada wartawan salah satu berita nasional terkenal yang tertarik untuk mewawancarai aku via telpon, dan itu terjadi pada hari Kamis kemarin. Tentang hal itu tentu aku tidak boleh berbangga dulu, bisa-bisa ketika dilansir beritanya nanti eh, ternyata tidak ada namaku. 🙂

    Jadi terlepas dari masuk menjadi berita atau tidak, tetapi yang jelas dapat kutangkap bahwa reaksi masyarakat terhadap amblesnya jalan Ancol adalah luar biasa. Bahkan ada yang beranggapan bahwa itu merupakan fenomena gunung es, sehingga dimungkinkan akan bermunculan fenomena serupa di negeri ini. Ketakutan seperti itu ditingkahi dengan adanya berbagai komentar, yang seperti biasa selalu ‘bernada menuding’.

    (lebih…)

  • Pemeriksaan secara visual atau biasa dikenal sebagai inspeksi visual memang salah satu cara standar yang biasa atau pertama kali dilakukan oleh insinyur untuk mengevaluasi sesuatu.

    Dalam banyak kasus dengan melihat kondisi kerusakan yang ada, maka dapat ditentukan penyebabnya. Apakah itu disebabkan kerusakan tarik, desak atau geser. Juga dapat diidentifikasi apakah disebabkan oleh tulangannya yang kurang atau mutu betonnya yang jelek, atau bahkan juga karena kelebihan beban. Itu yang biasa aku temui pada struktur atas bangunan.

    Bagi ahli tanah, mungkin seperti itu, umumnya untuk kasus ekstrim telah dibuat dokumentasi dengan baik (dalam jurnal-jurnal ilmiah berkualitas) sehingga dapat dipelajari ciri-ciri dan juga penyebabnya. Jadi dengan membandingkan kasus yang ada dengan kasus yang telah terjadi sebelumnya dapat dibuat dugaan-dugaan atau hipotesis “apa yang menjadi penyebab kerusakan tersebut”. Selanjutnya untuk membuktikan dugaan tersebut diperlukan data-data pendukung, apakah yang dilihat di lapangan sesuai dengan hipotesis yang diajukan.

    (lebih…)

  • Anda mau ketemu masalah ?

    Pasti tidak ! Saya yakin itu, karena pada prinsipnya kita ini hidup dan berharap bahkan ada yang selalu berdoa untuk terhindar dari masalah. Meskipun demikian jika seseorang mempunyai kepekaan atau kemampuan untuk melihat suatu masalah, dan dapat memikirkannya tanpa emosi, dengan nalar, logika dan pengetahuannya untuk mencari penyelesaiannya maka sebenarnya dari masalah itulah sebenarnya jalan menuju kemajuan dan kesuksesannya.

    (lebih…)

  • Sebagian besar orang kalau diajukan pertanyaan :” Anda mau ke luar negeri ?“. Apalagi jika dikaitkan dengan negeri-negeri indah di Eropa atau mungkin bisa saja hanya Singapore atau Hongkong, maka jawabannya pasti mau. Saya yakin. Kenapa, karena di dalam benaknya, yang dibayangkan adalah kesempatan untuk jalan-jalan mengunjungi tempat baru dan foto-foto. Kapan lagi, apalagi jika tanpa harus mengeluarkan duit sendiri (gratis).

    (lebih…)

  • Kelihatannya telah menjadi pemahaman umum, sebagaimana sering didengar bahwa yang namanya konstruksi yang memakai material beton adalah identik sama dengan struktur beton bertulang. Bahkan mahasiswa teknik sipilpun juga sering terkecoh tentang hal tersebut. Maklum, dalam kuliah struktur beton selalu diungkapkan bahwa beton hanya kuat terhadap gaya tekan dan tidak kuat terhadap tarik. Oleh karena itu agar dapat bekerja sebagai suatu balok dan kuat memikul lentur maka harus dipasang tulangan baja sebagai konsekuensinya.

    Itu benar, karena yang dibahas dalam kuliah struktur beton adalah material beton sebagai komponen untuk struktur balok, struktur kolom atau slab (pondasi). Itu adalah materi struktur beton I dan II di UPH, adapun struktur beton III adalah beton prategang.

    (lebih…)

  • Infrastruktur Jakarta ternyata tidak aman.

    Bayangkan saja, jalan RE Mardinata di daerah Tanjung Priok (di tepi pantai / sungai ???) tiba-tiba pada dini hari ambrol sepanjang 100m dan melesak ke bawah. Menurut salah satu saksi mata bahkan ada satu mobil sedan yang menjadi korban dan sampai hari ini belum diketemukan . Ini berita menurut Erabaru.net.

    (lebih…)

  • Pada hari-hari menjelang mudik ini, ternyata media diramaikan dengan diskusi menanggapi tulisan pak Adjie yang dimuat pada harian Kompas hari Senin kemarin. Jika belum membaca silahkan langsung ke sini saja.

    (lebih…)

  • Hidup di dunia akademis itu juga menarik lho. Memang sih variasinya tidak selengkap atau sebanyak dengan teman-teman yang hidup di dunia politik. Itu aku tahu karena dengar dari teman yang tempo hari  reuni. Maklum temanku itu background-nya ilmu sosial politik di salah satu PTN terkenal di daerah, yang mana beberapa teman kenalannya telah menjadi orang dan sering diberitakan di detik.com. Beritanya sih lebih seru dibanding detik.com, flamboyan begitulah aku menyebutnya.

    Jika di dunia akademis, ketemu teman-teman dosen, maka jelas jalan ceritanya ya seperti itu-itu saja. Seperti pengalamannya dalam  mengajar, atau jadi pembicara, bepergian ke kota lain dalam rangka tugas sebagai tenaga ahli, atau juga tentang religiusitas. Sangat jarang membicarakan hal-hal yang sering dijadikan bahan tertawaan jika ketemu dengan teman-teman non-akademisi, seperti acara reuni misalnya. Intinya kalau ketemu teman akademisi, mereka mencoba menceritakan betapa ‘guru’-nya mereka itu.

    Dalam suatu diskusi tentang pengalaman mengajar, ada teman dosen yang begitu bangga menceritakan apa yang dia ajarkan ke murid-muridnya. Katanya :” Ya begitulah, ketika muridku bertanya apa buku referensinya maka aku jawab saja. Materi ini adalah baru bahkan belum ada bukunya. Jadi kamu harus menulis / mencatat dengan baik-baik !“.

    (lebih…)

  • Tempo hari ketika ada issue, dan mungkin itu benar saja, yaitu tentang adanya sweeping notebooks di bandara, maka rasa-rasanya itu menjadi bahan pembicaraan yang serius jika mau bepergian. Maklum yang namanya sweeping pasti membuat deg-degan.

    (lebih…)

  • Istilah SNI atau Standar Nasional Indonesia pasti sudah sering kita dengar. Bagi orang awam itu tentu akan dikaitkan dengan standardisasi mutu suatu barang produk.  Ada kesan jika memakai produk ber SNI maka kualitasnya pasti dijamin. Itu pula yang mendasari mengapa sampai ada perintah untuk memakai helm yang ber-SNI. Mungkin ada anggapan, bahwa jika mutunya dapat dijamin maka itu berarti bahwa keselamatan pengendaranya juga dapat dijamin.

    Nggak salah sih, tapi itu tidak berarti bahwa jika telah memakai helm ber-SNI maka itu dapat diartikan bahwa kita boleh saja memutar gas pol seenaknya saja. Betul nggak.

    Itu jika dikaitkan dengan barang produk. Tapi bagi kita, structural engineer, maka SNI juga berarti code atau peraturan perencanaan yang harus ditaati. Jadi SNI merupakan rujukan untuk membuat suatu structural design di wilayah Indonesia.

    (lebih…)