belajar beton otodidak

Danang,  seorang arsitek yang juga kontraktor, bertanya sebagai berikut 

Saya lulusan arsitek, sedang merintis usaha kontraktor, ingin belajar tentang pembetonan secara otodidak. Buku apa yg harus saya beli ?

Saudara Danang yang arsitek, saya tidak tahu apa yang melatar-belakangi anda, sehingga bertanya seperti itu. Mungkin ada baiknya saya coba ungkap kemungkinan logis seseorang non-engineer berkeinginan belajar “pembetonan”, yaitu :

  • memang ingin maju, karena ternyata punya jiwa engineer
  • sebagai kontraktor menyadari bahwa banyak ketemu kasus-kasus yang berkaitan dengan beton, untuk kasus-kasus ringan asal ngikutin tukang (pengalaman) maka beres, tapi lama-lama pekerjaan yang diterima semakin bervariasi dan besar-besar sehingga nggak berani ngandalin tukang. Mau minta bantuan insinyur, perlu ngeluarin duit lagi khan. Jadi intinya mau ngirit gitu (keuntungan proyek utuh).
  • atau iseng aja, biar dapat kerjaan karena kalau kontraktor bisa beton , maka bisa juga masuk ke konstruksi jalan, jembatan, infrastruktur dll. Kalau basic-nya arsitek khan hanya gedung-gedung aja. Gitu khan. 🙂

Dari motivasi tersebut akan ketahuan, apakah anda berani membayar mahal atas usaha anda tersebut, yaitu mendapat kompetensi ‘pembetonan’.

Pertama-tama saya mau ingatkan ! Menurut anda, ilmu beton mungkin dianggap sama dengan ilmu-ilmu arsitek yang sudah anda kuasai tersebut. Apa begitu ? Atau bahkan menganggapnya lebih ringan ?

Anda bisa membayangkan, jika dengan ilmu anda (arsitek) ternyata hasil rancangan anda dikatakan ‘gagal’. Apa yang terjadi ?  Jika gagal khan kemungkinannya adalah bangunan jadi nggak enak dilihat (buruk), nggak enak ditempati (nggak nyaman), atau berbiaya mahal (boros), atau nggak awet (cepat kumuh). Adakah dalam pikiran saudara jika rancangan arsitek gagal maka akan menimbulkan bencana ? Saya kira tidak khan. Jadi konsekuensinya kaya seniman, jika karyanya gagal, nggak ada lagi orang yang mau minta tolong. Gitu aja khan.

Tapi kalau ilmu struktur beton, jika anda mengaplikasikan salah, contoh bikin lantai panggung tinggi 6 m, lalu anda rencanakan mampu menerima beban 500 kg/m2, dalam kenyataan ketika dipakai acara konser, hitungan anda ternyata gagal. Apa yang anda pikirkan. Apakah kriteria penilaiannya sama seperti penilaian kerja seorang arsitek ? Kalau panggungnya ternyata gagal menerima beban 500 kg/m2 ! Apa yang anda bayangkankan. Apalagi jika beban itu berasal dari kumpulan manusia-manusia panggung, yang kebetulan berjingkrak-jingkrak. Apa yang terjadi. Bisa berdarah-darah lho. Bayangin kalau anak anda ada di atas panggung seperti itu, dan panggungnya gagal.

Beda khan. Walau sama-sama disebut ilmu. Bisa anda bayangkan ?

Apakah anda masih mau melanjutkan niat anda untuk belajar hal tersebut ?

Mungkin lebih gampang seorang engineer berpindah jadi arsitek, daripada arsitek jadi engineer. Kalau yang pertama itu aku pernah menjumpainya, engineer bikin rumah sendiri, dia rencana sendiri, orang mengira rumahnya direncana seorang arsitek. si engineer hanya mengangguk-angguk doang, bangga. 😛

Memang ada juga sih, yang latar belakangnya arsitek, tapi megang proyek bangunan,  tapi ilmu yang digunakan adalah manajemen konstruksi atau leadership. Bukan ilmu perencanaan struktur beton atau baja gitu lho.

Pemikiran ke dua, apakah untuk belajar pembetonan itu cukup belajar ilmu struktur beton saja, atau cukup baca buku beton doang ?

Ilmu struktur beton akan lebih banyak cerita tentang bagaimana menghitung kekuatan penampang beton, menghitung jumlah tulangan yang diperlukan. Tapi kapan perlu dihitung, dan dimana menempatkannya maka masih perlu ilmu lain, yaitu analisa struktur.

Anda belajar analisa struktur nggak di perguruan tinggi dulu. Jika nggak belajar, wah repot, orang teknik sipil yang pemula aja juga pusing itu belajar materi tersebut. Setahu saya sekarang para arsitek juga males belajar itu. Menurut mereka katanya itu nggak perlu. Nggak tahu di tempat anda dulu.

Masih mau lanjutkan belajar pembetonan ?

Wah kalau masih ngotot, ya gimana lagi. Itu mungkin namanya berjiwa engineer. Baiklah kalau begitu langkah paling baik adalah belajar magang dengan orang yang punya ilmu tersebut, pertama-tama bantu dia, tirulah apa yang dia kerjakan (dalam pembetonan tentu saja). Sampai anda tahu, o begitu ! Kembangkan pemahaman tersebut dengan membaca-baca buku beton, cari falsafahnya. Pengarang buku beton yang hebat adalah Park and Paulay, Mc Gregor, Nawy dll. Coba cari itu dengan kata kunci tsb di Google. Beres dah.

Ok, menurut saya begitu dulu ya, semoga bener-bener jadi engineer dah. 😀

127 respons untuk ‘belajar beton otodidak

  1. @ @ndre
    tapi sekedar info juga nih ,, tidak semua arsitek di indonesia masih belajar mekanika teknik, ada yang uda menghapusnya dari mata kuliah mereka loh..

    Bah ,,, kali ini uda ada yang buka kartu kalo mekanika teknik di arsitek tidak begitu mendalam..
    bagaimana bisa mendesain beton bertulang kalo mekanika teknik aja masih belajar dasarnya aja……

    Suka

  2. Pak Y.W.,
    maksud saya yg pedagang itu adalah : arsitek-kontraktor yang mau sekalian ngitung beton. Bukan pukul rata semua penghitung beton itu pedagang. Coba, tolong disimak kalimat lengkapnya :

    Kalau dilihat dari dasarnya, mengapa seorang arsitek indonesia ‘mau’ menjadi penghitung beton, itu lebih dikarenakan si arsitek tidak memiliki ‘jiwa engineer’ melainkan ‘jiwa pedagang’.

    Sorry revisi : si arsitek diganti jadi si arsitek-kontraktor.

    Apalagi, arsitek-kontraktor seperti ini maunya easy-way, jalan gampang.

    Dulu sekali jamannya Vitruvius, Leonardo DaVinci, or Michael Angelo, mereka membuat model desainnya dulu, setelah puas baru dibikinkan hitungan or model strukturnya. Makanya namanya Architectura (Arche = busur / seni dan tectoon = kekuatan), karena mereka menyusun seninya dulu baru kemudian kemungkinan model strukturnya. Dulu jaman Vitruvius istilah yg ada cuma arsitektur (architectura/e), dan ahli bangunan (architecton/i).

    Parthenon Yunani Kuno (2700-2500 BC) didesain dulu Golden Section-nya (pedestal-kolom-entablatur) oleh Iktinos baru direkayasa strukturnya. Dome Hagia Sophia juga demikian. Di Asia ada Puri di Nara, Jepang, proses membuatnya juga demikian. Desain dulu, setelah cantik dan di acc sama Kaisar baru direkayasa model strukturnya. Dilihat dari dokumen-dokumen kuno mereka (baik yg di Eropa, Timur Tengah, maupun Asia), semua berawal dari pola klasik atau tradisional masing2.

    Yang dari Eropa menentukannya dari Golden Section, dll. Baru setelah itu ada coret2 praduga perilaku struktur. Karena mungkin pada jaman itu belum ada structure engineer secanggih Pak Wir, maka rata2 karya mereka jadi over-structured.

    Setelah makin lama para perancang ini makin kebingungan terhadap tuntutan desain yang mereka inginkan, maka mereka mulai menggandeng ahli matematika, yang tadinya cuma ngajak tukang kayu dan tukang batu untuk rembugan. Si ahli matematika ini yang menerjemahkan perilaku material struktur dari si tukang kayu dan batu. Simbah tertua yang mulai seriyeus pada ilmu pesawat dan mekanika adalah mbah Archimedes (sekitar 250-200 BC.)

    Structure (civil) enggineer baru di-proclaim keberadaannya sekitar 1768 oleh John Smeaton (kalo salah tulung saya diberi tahu yaa..).
    Sebelumnya structural engineer punya nama nama tukang batu (stone-master / faber) karena dia adalah satu-satunya orang yang berhak meletakkan batu kunci (key-stone) pada pelengkungan (arche) gawangan pintu atau jendela.

    Masalah klasik kebutuhan Arsitek terhadap structure engineer masih terjadi sampai saat ini, contohnya Arsitek Calatrava (ini orang tenar juga lho, bisa di-search di yahoo atawa google) harus menunggu 10 tahun agar desainnya bisa dibangun, maklum bo, si klien udah kepincut tapi waktu itu belum ada structure engineer yang sanggup menghitung desainnya.

    Saya sebenernya ndak mau debat soal ini, saya hanya mau membuka wawasan saja. Yang arsitek moga2 ndak sombong sama ke-arsitekannya & yang sipil juga ndak sombong merasa lebih hebat bisa ngitung dibanding arsitek yang bodo untuk urusan itungan.

    Sebenernya pendidikan arsitek itu butuh sebangsa mek-tek dan perilaku mekanika material. kalo ndak belajar itu namanya bukan arsitek, tapi arsingek, karena tektoon-nya ndak ada hehehe.

    Sayang dulu saya dapet dosen mek-tek ndak seperti Pak Wir, banyak jebakan batman-nya. Rumusnya ndak runut tau tau gooooaaaallll…. Lah angka ini dapet dari mana, semua ndak tau.

    Buntut2nya kalo beli foto-kopian beliau dijamin lulus, paling ndak C ditangan (kesian yaa sampai curhat begini, hehehehe).

    Akhirnya saya belajar sendiri, pakai rumus kuno (paling sudah dilepeh sama Pak Wir), buat beton pakai cara ‘n’ bikinan Pak Wiratman, berhubung saya ndak dong pakai SRNI yang adopsi amerika.

    Maklum kebiasaan metrik ndak biasa MPa :).

    Tapi trus terang saya nyerah kalo desain saya udah pakai gantung2 (guyed-mast) or pre-stressed or shell-frame apalagi super-structure (hi-rise & wide-span). Paling2 nanti saya kontak Pak Wir, hehehe.

    Suka

  3. Sorry saudara2, yang Calatrava itu diganti. Ternyata yang nunggu 10 tahun itu Daniel Liebeskind. Tadi malam waktu tidur saya serasa ditegur sama dia.

    Paginya waktu bangun saya baru ingat, si Daniel Liebeskind harus nunggu 10 tahun agar rancangannya bisa dibangun, proyeknya : Judisches Museum, Berlin

    Suka

  4. waw………seru,seru,seru…….ga kebayang zaman udah semaju sekarang….semuanya ingin jadi lebih baik, bisa dibilang sekarang manusia pengen nguasain ilmu sebanyak mungkin kayak ‘maserba’ : manusia serba bisa….bisa design,ngitung,manage,jago lapangan,bisa bertarung,bisa dilepas dimana aj……..ok,siap……..

    Suka

  5. haduuuhhhh…………….

    makin keliatan kebodohan pribadi saia…

    mau desain ga bagus2 bgt…

    ngitung juga belom jelas…

    apa lagi dibandingin ma Daniel Liebeskind and Santiago Calatrava, beuuuhhhh…djaoeh bangetz..

    belajar dulu ah…

    Suka

  6. saya mau tanya, kenapa beton buatan jaman dulu, lebih kuat dibandingkan beton jaman sekarang??(tolong jawaban secara ilmiah,,karena ini tugas dari dosen saya)
    trims..
    Tuhan Yesus memberkati..

    Suka

  7. Seorang arsitek boleh belajar ilmu beton, tapi untuk mendalami ilmu tersebut tidak bisa secara otodidak harus ada yang membimbing dan mengarahkannya, sebab ilmu tersebut bukan ilmu yang bisa dipelajari secara secara instant…

    Suka

  8. Wala2 rame tenan. Kalau saya seh soal beton cukup tahu prinsip2nya saja.

    Masing2 sudah ada porsinya dan tidak usah merasa satu lebih dari yang lain. Sekarang ini kan sudah ada sertifikasi, salah satunya Sertifikat Keahlian Arsitek, ada 13 kompetensi yang harus dipenuhi oleh seorang arsitek agar dia mendapat gelar Profesional.

    Dalam 13 kompetensi itu tidak mengisyaratkan seorang arsitek bisa menghitung beton. 13 Kompetensi ini sesuai dengan yang dikeluarkan oleh UIA (Union Institute of Architect) dan sampai saat ini hanya dikeluarkan oleh IAI.

    Kedepan untuk mendapat sebutan Profesional, setelah lulus seorang yunior arsitek harus magang selama 2 tahun di biro arsitek yang telah ditentukan. Selain itu, sekarang sedang di godok Undang-undang Arsitek di DPR.

    Apa yang saya katakan diatas semata-mata ingin menunjukkan bahwa semua orang BISA menjadi arsitek tetapi tidak semua bisa DISEBUT ARSITEK.

    Kalau saya juga belajar hitungan beton kasihan teman2 sipil lahannya berkurang. Saya bangga jadi arsitek….

    Suka

  9. Maaf..boleh berkata sedikit di tempat yang sempit.. gak perlu memojokan dan memandang sinis.. toh tinggal bilang tidak.. kalau tidak mau berbagi ilmu….

    terlalu arogan andaikan bahwa ilmu datangnya dari kita “manusia”, karena hasil usaha kita “manusia”… bukannya ilmu datangnya dari sang pencipta.. maaf kalau ada kata-kata saya tidak berkenan…

    jujur saya seorang arsitek 5 tahun saya bergerak dibidang jasa mulai dari marketing, konsultasi, gambar, estimasi dan pelaksanaan.. ternyata ilmu itu bisa di dapat apabila kita punya keinginan… bukannya saya lancang.. ternyata bukan sekadar ilmu sipil atau arsitek yang harus kita kuasai.. tapi ilmu marketing cara berhadapan dengan konsumen, ilmu manajemen cara pengelolaan sumber daya manusia, sampai ilmu pasar beras….cara tawar menawar dengan vendor dan lain-lain…

    memang harus total…

    oia satu lagi bukan sekadar gambar dan seni yang dipelajari di arsitek…boleh ditantang

    Wir’s respons : tepatnya “serabutan“.
    Gitu ya mas.

    Suka

  10. Bersyukur bagi napas-napas yang telah diberi kekuatan untuk menerima dan mendapatkan ilmu yang “Katanya” hasil pemikiran dan perjuangan mereka selama bertahun-tahun….

    Bravo…. “Sang pencipta” ternyata seorang manusia….

    Suka

  11. “Serabutan”…tergantung kayaknya mo yang gimana.. serabutan proyeknya dimana-mana atau serabutan karyawannya dimana-mana? atau serabutan investasinya dimana-mana?..itu namanya “Serabutan” yah….trims infonya

    Suka

    • kata “serabutan”, biasa dipakai oleh orang jawa untuk menunjukkan “apa saja”. Jadi seperti misalnya kalau ditanya : “kerjanya apa mas selama ini“. Jika jawabnya : “ya begitulah mas, serabutan sana sini“, itu artinya kerjanya apa saja (asal dapat bekerja). 😦

      Jadi untuk penjelasan di atas bisa juga benar, seperti misalnya jadi pejabat, tetapi juga masih kerja serabutan lainnya, misalnya jadi makelar, bisa juga jadi pedagang permata. Itu lho seperti jaksa yang ditangkap KPK tempo hari.

      Memang orang-orang kita itu, kalau bisa serabutan, senengnya minta ampun. Bahkan yang lurus-lurus saja dibilangnya kuper. 🙂

      Suka

  12. Iya Pak Wir…

    Selama ini hubungan sipil dengan Arsitek di lingkungan saya saling mendukung satu sama lain dan saling menyadari kurang lebih dalam diri…..sama-sama mengertilah (layaknya pasangan suami istri) tidak berusaha untuk saling menonjol dan tidak melemahkan yang lainnya (bijaksananya begitu kan Pak Wir)…..

    Ditambah lagi tiga karyawan saya teknik sipil…

    Sebenarnya yang seharusnya bangga itu siapa sih ?…

    contoh kalau Pemahat membuat suatu karya dengan tangannya sendiri, dan karya itu “booming” menjadi karya yang spektakuler, Si Pemahat berhak untuk menepuk dada mengangkat dagu dong (harus -refleksi dari bentuk rasa syukur)…tapi kita (Arsitek+Sipil atau dll) wong cuman baru bisa di atas kertas saja sudah merasa paling superior atau superman atau batman….Si Tukang juga, akhirnya yang jadi eksekutornya dan membangun dengan tangannya sendiri menjadi bentuk nyata yang seharusnya bangga , kecuali kalau kita dikit-dikit megang cetok ato ngaci, mungkin kali yee…

    Contoh sederhana saja… Saya jamin tidak menutup kemungkinan masih banyak dari kalangan kita dengan kasat mata dan tanpa alat ukur tidak dapat membedakan jenis besi atau tidak dapat membedakan jenis kayu dalam kondisi basah atau tidak dapat membedakan K-175 atau K-225 (dengan kasat mata)…atau malah pasir palu digunakan untuk memplester..tarik selang ukur dengan beda ketinggian 1 meter saja mungkin tumpah-tumpah ..

    Hal-hal kecil tersebut saja belum dipahami, bagaimana bisa dianggap paling ehm.ehm dan bangun gedung setinggi langit ketujuh (oia…yang bangun pekerjanya)…

    Damai aja saling berbagi dan saling mendukung…. semakin berisi makin bijaksana seharusnya

    Suka

  13. salam kenal sebelumnya. kalau boleh saya nimbrung. klo blajar beton gag segampang belajar otak atik komputer, kita harus punya acuan setiap kali kita akan mendesain. hehehe

    Suka

  14. wah repot juga ya, saya sedang cari berapa ukuran tulangan dan jenis beton untuk ruko 3 lantai, tapi yang ketemu cuma adu teori-teori n jelimet. Ada nggak ya yang bisa kasih bantu yang lebih praktis, besi diamenter berapa, pondasi dan kolom, sloff berapa pasnya. thanks

    Wir’s responds: biar praktis, kasih aja sama pemborong. Jadi sekarang fokusnya tinggal deal, harga cocok. Beres. 🙂

    Suka

  15. insinyur sipil sebelum menghakimi arsitek, harus mengetahui bgaimana pembelajaran mereka, dari studio 1-6(di tempat saya)+studio akhir yang mendalami berbagai fungsi pada tiap tingkatannya(yang berelasi dengan struktur juga walaupun hanya sebagian kecil)

    arsitek sebelum mengahakimi insinyur sipil, harus mengetahu bagaimana pembelajaran mereka, yang sudah banyak sekali disebutkan teman2 di atas.

    lihatlah proyek internasional. ada arsitek, ada structure engineer, ada interior consultant, ada MEP consultant, dan masih banyak lagi, bahkan bisa di dalam 1 perusahaan desain bangunan.

    di indonesia??? kasih pemborong…
    silahkan komen2 lagi

    Suka

  16. salam kenal pak wir..

    saya ini orang ekonomi ( pedagang )…punya 3 orang staff arsitek , 2 orang sipil , 2 orang drafter dan 25 staff ( pengawas , site manager .. etc ).kami sudah menyelesaikan beberapa project hotel lt 3 , vila dan resort dari tahun 98 .selama ini project kami belum ada komplain . yang menjadi permasalahan saya .
    1. keinginan klien kami sedikit aneh2 seperti salh satu contoh kolam renang yang dibuat menonjol 8.2 mtrpersegi dari dinding jurang dimana luas kolam renang sendiri 17.98 mtr per segi. kekawatiran saya dalam perhitungan orang sipil saya? atau bisa mohon bantuan bapak.??? please…
    2. bagi teman sipil atau arsitek mari kita bersatu untuk memajukan bangsa ini. setiap orang memiliki kebanggan terhadap apa yang mereka hasilkan dari kerja keras mereka. kita bisa.. karena bantuan orang lain juga toh.. kita mungkin aja sempurna dalam satu hal. tapi belum tentu akan menyelesaikan masalah secara keseluruhan. ..tx…cheers…

    Suka

  17. Salam kenal pak Wir,

    Saya ingin tanya, utk rumah tinggal 2 tingkat, agar tahan gempa, apakah diperlukan dinding geser/shear wall ? Utk desain sederhana (bentuk kotak spt kubus), dimana dinding geser ditaruh?

    Saya kurang percaya pada pemborong, krn pengalaman membangun rumah beberapa waktu yll. yg awut2an ….

    Suka

  18. Dear Pa Dr.Nugroho,

    Seandainya saja bapak melampirkan gambar rumah tersebut mungkin saya/kami bisa memberikan masukan lebih lanjut.

    Tapi menurut pengalaman saya, bangunan rumah tinggal 2 – 3 lantaiyang sering saya rencanakan tidak merlukan dinding geser/shear wall. Karena letak posisi struktur balok dan kolom yang tepat untuk memikul beban2 gravitasi maupun merespon bangunan terhadap beban gempa sekalipun.

    Memang terkadang akibat bentang lantai/balok yang cukup panjang dan kolom yang harus rata dengan dinding finish (request arsitek), maka dibuatlah dimensi kolom yang agak sedikit terlihat lebih panjang seperti dinding geser, namun itu tetap kolom bukan dinding geser.

    Untuk bangunan rumah tinggal, cukup berkoordinasi dengan arsitek dengan maksud agar tidak mengurangi segi artitistik bangunan namun kekuatan struktur bangunannya juga terjamin.

    Disinilah seni seorang perencana (arsitek maupun struktur maupun bidang lain), harus berkoordinasi dan bekerja sama dengan baik demi kepuasan klien (owner).

    Syallom..

    Donny B Tampubolon

    Suka

  19. Dear pak Donny,

    Terima kasih banyak atas masukannya … Soal arsitek, kalau ada vested-interest, misalnya dia dekat atau anak buah pemborong, dapat bikin masalah. Saya pernah mengalami masalah ini, sehingga rumah saya yg dibangun dia, menurut saya, tidak sesuai dgn standar rumah tahan gempa.

    Inti yg saya ambil dr masukan pak Donny: rumah tinggal 2 – 3 lantai umumnya tidak perlu dinding geser. Sekali lagi, terima kasih utk semuanya…

    Salam….

    Suka

  20. iya pak,kalo bwt hy sekedar tau ilmu struktur beton boleh2 ajh, sy ajh sdh lulusan t sipil tahun’ 95 perasaan sy sulit sekali mendalami ilmu beton,apa lg smp detail2nya,malah sy skg dikantor lg belajar auto cad,3d nd seni arsitek? belajar2 kyknya oche2 ajh ,trims

    Suka

  21. salam..
    perkenalkan, sy iksan s, mahasiswa PKSM teknik sipil ’07.
    selama yg saya pahami tentang ilmu struktur dari kampus maupun dari konsultan CnS tempat sy bekerja, ilmu struktur tidak bisa dipelajari langsung dari ujung atau tengah2nya dari ilmu itu sendiri.
    semua bagian struktur punya filosofi/dasar pemikiran. filosofi inilah yg harus kita terapkan dan kita pahami benar2 untuk menjadi seorang desainer/engineer struktur.
    jadi untuk otodidak belajar struktur beton bertulang, saya rasa jg harus dibarengi sharing knowledge dg sesama orang struktur/senior kita.
    kita juga harus bisa menentukan parameter2nya, menghitung analisa strukturnya, kriteria desain, standardisasinya, dll.
    inti nya adalah mempelajari ilmu struktur harus step by step, tidak bisa potong jalan tengah. ilmu2 struktur yg mendasar seperti ilmu Statika(mekanika teknik), mekanika bahan, analisa struktur, struktur beton 1 dan 2, matematika, fisika dasar harus bener2 kita pelajari secara global dan menjadi “pondasi dasar” dalam bidang struktur engineering yg kita pelajari ini.

    demikian ulasan dari saya, kuramg lebihnya mohon maaf.
    trims maturnuwun pak wir.. 🙂

    Suka

  22. Hallo..
    Lebih bijaksana kalau kita melihat ilmu itu saling melengkapi, jangan dibuat sepetri arsitek vs sipil.

    Kebetulan background saya di electrical engineering. Pekerjaan saya di bidang lift (gabungan elektro & sipil) karena harus menghiung beban electrical dan struktur penopang lift. Saya sendiri jg belajar struktur tersebut tanpa melalui studi formal, melainkan hanya belajar hitungan praktis ke teman (kebetulan ada teman sipil).

    Kalau dibilang banyak arsitek yang nyipil, banyak juga sipil yg ngelektro. Dengan ilmu electrical pas2 an merancang jaringan listrik gedung (Kebetulan sipilnya jadi kontraktor). Nah loh.. sama aj bukan.

    Suka

  23. ————————————————————
    aku

    I am actually a structural engineer that familiar in design and construction of steel and concrete structures, so I am master with computer structural modelling, analysis and design.

    However, I am also active in computer programming, digital photography and digital image manipulation, drafting, teaching, writing, and of course reading.
    ————————————————————

    dilihat dari profilnya…pak wir kayaknya juga suka belajar diluar bidangnya…
    udah tho kt tu sama2 mo belajar..orang mau belajar kok di larang, ya terserah yg mau belajar dong jangan malah membuat putus asa, jangan menghakimi satu sama lain, apa gunanya…malah ga hasil apa2..wkwkwk
    peace..

    Suka

  24. halahhh,,orang baik2 minta sarann,,malah dijawab panjang lebar yang serba gak penting,,,semua profesi,ilmu,,pnya porsi dan tingkat kesulitan masing2,,,jadi tidak perlu sinis dan merasa ilmunya paling sulit,,,
    saya mahasiwa arsitek,,,dari awal semester pun di kampus saya sudah dapat materi teknologi bangunan,,struktur konstruksi,,,detail penulangan dsb etc,, tapi mungkin tidak sedalam di sipil..jadi pikiran bapak “””Adakah dalam pikiran saudara jika rancangan arsitek gagal maka akan menimbulkan bencana ? Saya kira tidak khan.””” buat saya terlalu sombong…
    di arsitek saya tidak hanya belajar mendesain bangunan tok secara seni,,tapi jg blajar struktur,,manajemen konstruksi,,psikologi (prilaku manusia),,,
    semua bisa asal mau,,impossible is nothing!!

    Suka

  25. Pak saya orang awam , boleh numpang tanya kalo mutu beton K225 itu persamaan nya ke Mpa jadi berapa ya??? syukur-2 kalo ada tabelnya.
    Terimakasih atas bantuanya.

    wasalam,
    suyono

    Suka

  26. emang jadi engineer ga semudah itu….
    apalagi beton….
    dah hitungannya susah, resikonya tinggi…emang bisa belajar autodidak tapi butuh pengalaman juga…ga bisa sembarangan..
    betul2 cermat,tepat,teliti…

    buktinya nilai analisa struktur I II III saya jeblog semua (heeee..)

    Suka

  27. maaf pak wir bisa minta contoh perhitungan struktur bangunan dr atas sampai pondasi baik menentukan ukuran penampang maupun penulangannya trims…

    Suka

  28. Salam kenal Pak Wir,

    Kebetulan saya ada sedikit pengalaman mengenai pek yg bukan bidang saya.
    Untuk info saya seorang Civil Engineer (lulus thn ’92).
    Di kantor saya wkt itu (sekitar thn 2001) ada pekerjaan Design Ars Rumah Tinggal 3 lt di kawasan elite).
    Sementara di kantor saya itu hanya ada seorang arsitek yg sedang tugas luar kota. Jadi Bos saya suruh saya mengerjakannya.
    Wah saya pusing bener ….. Jadi dgn terpaksa saya coba konsul dgn temans ars wkt kuliah dulu.
    Saran mereka coba beli buku-buku design rumah mewah.
    Akhirnya saya beli buku tsb dan juga buku ars mengenai cara merencanakan rumah mewah.
    Dan saya pelajari prinsiple-nya. Ternyata tidak terlalu sulit untuk dipahami jika dibandingkan dengan buku-buku teknik sipil.

    Dengan kemampuan saya di bid Cad & 3D Studio Max, saya mampu mengerjakannya dgn hasil yg baik.

    Jadi menurut saya bener kata Pak Wir bahwa :
    Mungkin lebih gampang seorang engineer berpindah jadi arsitek, daripada arsitek jadi engineer….hehehehehehe

    Akhirnya sampai dengan saat ini saya mampu mengerjakan design arsitektur, Walaupun tidak sebagus insinyur arsitek…..hehehehe

    Kesimpulan :
    Seorang Insinyur Sipil tetap sangat membutuhkan Insinyur Arsitek maupun sebaliknya.

    Suka

  29. Pak Wir,
    saya mau tanya , saya desain bangunan empat lantai (beton bertulang) buat di Indo. Lalu saya bikin shear wall. eh ownernya, yang kebetulan teman dekat saya, bilang wah kalau begini jadi mahal. Terus kata dia, kalau di manado ngak pernah lihat shear wall, jadi ngak perlu. Saya bilang sama dia bahwa bukan dia ngak pernah lihat shear wall, tapi dia tidak perhatikan bahwa shear wall itu kelihatannya seperti dinding.

    Eh dia ngotot ngak mau pake shear wall, jadi saya bilang ok deh, pakai aja untuk dua lantai pertama (dia concernnya biaya), saya pikir daripada tdk sama sekali.

    Saya tidak pernah lihat shear wall yang tdk dari pondasi sampai atap. tapi saya ketemu vidoe ini

    Menurut bapak bagaimana jika suatu sistem shear wall yang hanya setengah dari tinggi bangunan.

    Terima kasih.

    Suka

    • Hallo pak Sanny,

      Wah lagi desain rumah tahan gempa ya.

      Tentang sistem shear wall yang hanya setengah, maka kategorinya adalah sebagai “bangunan tidak beraturan” sehingga tidak cukup jika hanya dianalisis dengan metoda statik-ekivalent. Untuk bangunan tidak beraturan maka SNI mensyarakat untuk dilakukan analisis dinamik terhadap konfigurasi tersebut.

      Illustrasi video di atas memang bagus untuk anak-anak, tetapi itu tidak merepresentasikan bangunan beton bertulang tahan gempa. Kalau untuk bangunan beton tanpa tulangan, yah boleh-boleh saja.

      Karena adanya tulangan baja maka rangka pada beton bertulang diharapkan dalam kondisi continue (menerus). Ingat pada bangunan portal beton tahan gempa, maka pada bagian joint, hubungan balok dan kolom, yang mana pada pembebanan lateral memberikan momen terbesar, perlu didesain secara khusus. Kekuatan kolom harus memenuhi kriteria strong column weak beam. Memang betul, untuk bangunan ruko, dimana di bagian atas tertutup (ada tembok pengisi) dan bagian bawah terbuka (showroom) maka dapat terjadi efek soft-story, dan itu harus dicegah.

      Mengenai bangunan empat lantai dengan shear wall, memang rasanya jarang pak di Indo, maklum umumnya sistem struktur di sini (Indo) yang populer adalah portal beton bertulang daktail. Untuk sistem seperti itu, setahu saya baru setelah 8 lantai dapat mulai diperhitungkan. Bahkan karena pakai shear wall, t getar lebih pendek dibanding portal dan juga kurang daktail sehingga gaya rencana untuk bangunan dengan tinggi yang sama bisa lebih besar. Dampaknya juga ke pondasi, di bagian shear wall juga mesti lebih besar karena harus jepit. Kalau portal bisa desain sendi di bawah (pakai footing), atau kalaupun jepit nggak perlu tiang yang banyak, cukup pakai sloof atau tie beam untuk memikul momen kopel.

      O ya, tetapi jika sistem lantai yang dipilih adalah flat-slab, dan bukan portal daktail maka tentu saja shear wall memang suatu keharusan karena sistem lantai flat-slab tidak signifikan kekuatannya terhadap beban lateral.

      Suka

  30. Pak Wir,
    portal beton bertulang daktail apakah sama dengan special moment frames.
    ginilah jadinya kalau orang jembatan di suruh ngerjain rumah 🙂

    Terima kasih

    Suka

    • Kira-kira sepert itu pak Sanny, di Indo itu ada tiga macam tingkatan portal beton tahan gempa, tergantung tingkat kerumitan detail yang harus dibuat. Untuk rumah tinggal sederhana, yang mana gempa tidak signifikan atau gravitasi lebih dominan maka desain secara elastik, detail sederhana, semakin tinggi dimana gempa diatasi dengan terjadinya sendi plastis (ini yang daktail) maka gaya gempa rencana bisa direduksi tapi perlu detail yang ketat. Itu pak, yah hampir mirip dengan baja juga. Hanya karena persyaratan daktail sudah banyak dijumpai, para kontraktor sudah terbiasa dengan detail seperti itu (konstruksi high-rise lho pak) maka portal selalu di desain sebagai portal daktail.

      Tapi untuk bangunan rendah, karena tidak ada kewajiban submitt desain ke TPKB (pemerintah untuk diperiksa) maka desainnya juga masih sembarang, suka-suka perencananya. Bahkan banyak desainnya dibuat oleh orang-orang pemerintah hanya sekedar untuk dapat IMB. 🙂

      Suka

    • salam pak sanny dan pak Wir…
      ikutan nimbrung nih, kebetulan lagi bahas bangunan tahan gempa yang sedang aku pelajari…

      coba jawab pertanyaan pak sanny ‘portal beton bertulang daktail apakah sama dengan special moment frames’. special moment frames ato yang yang lebih sering disebut dikuliah sbg Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus adalah suatu rangka struktur dengan pendetailan yang cukup sehingga mampu membentuk sendi-sendi plastis pada ujung-ujung balok dan kolom yang berfungsi menyerap energi gempa/lateral dan memungkinkan struktur berperilaku daktail (atau mampu mengalami simpangan yang besar setelah terjadi pelelehan pertama).

      wah kalo dua lantai pertama aja yang di beri shear wall artinya periode getar alami struktur 2 lantai bawah dan 2 lantai atas berbeda y. kira-kira gimana y perilaku strukturnya…hehe…menarik tuk dipelajari nih..

      oya pak Wir, apa peta gempa yang baru udah mulai digunakan/diwajibkan ?

      Suka

  31. Ary, terima kasih atas penjelasan anda, sangat membantu.

    saya pikir, kalau dua lantai pertama saya shear wall, maka kolom kolom yang keluar dari shear wall itu untuk lantai ke tiga saya detail se daktail mungkin.

    Suka

  32. Dear Pak Sanny:

    Kalo boleh tahu, kenapa Bapak memerlukan shear wall ?

    Seperti yang telah diutarakan Pak Wir, dengan adanya shear wall, maka sistem pondasi juga perlu sangat kaku. Jikalau shear wall nya cuman di dua lantai pertama, maka, terjadi “stiffness irregularity” dalam arah vertikal.

    Mungkin, alih-alih memakai shear wall, bisa digunakan kolom yang “diperkuat”, misalkan dengan menggunakan “wing wall”? Sistem kolom+wing wall ini banyak digunakan untuk reftrofit gedung. Sistem ini mampu meningkatkan kekakuan dan kapasitas dari bangunan.

    salam,

    Suka

  33. Saya seorang S1 arsitek yang punya pengalaman di bidang desain bangunan selama 8 tahun lalu secara tidak sengaja masuk ke perusahaan tambang perusahaan asing untuk infrastruktur bangunan lalu hingga 7 tahun lebih malah nyambung menangani perkerjaan jalan tambang, struktur tanah dan jalan, pondasi crusher dan conveyor, dermaga, dsb, Saya melihat bukan tidak mungkin belajar otodidak tetapi memang TETAP memerlukan bimbingan dari ahli struktur/ civil karena boss2 saya ahli struktur dan ahli geotek pada saat awal karir saya di infrastruktur tambang dan juga ternyata minat saya besar dalam dunia sipil/struktur

    Saya tidak pernah secara formal kuliah di sipil, so….mungkin saya salah jurusan karena saya menikmati pekerjaan sipil tapi saya yakin bisa di pelajari karena saya sudah pindah2 bekerja di perusahaan tambang sebagai senior sturktural dan sipil dan kini manager engineering di perusahan tambang nasional dan saya menikmati sekali teori2 sipil di praktekkan di lapangan… yang penting anda nikmati dan praktek desain di lapangan dan tentu di bimbing ahlinya pada awal2 karir kita…o,ya..jangan lupa untuk menjadikan soal mekanika teknik ibarat TTS sebagai hiburan nikmat. di waktu senggang..

    Suka

  34. Wah2 ini permusuhan antara Engineering n Arsitek ya..??
    yg penting bisa membuat bangunan n tahan lama. Mo Arsitek kek, Civil kek gk masalah. Kalo berkompeten ya bikin lah, jangan debat kyk gini saling menjatuhkan. Gila nie yg punya TREAD. Hal sepele gini aja didebatkan. Silahkan bangun kalo mampu. Gt aja kok repot.

    Suka

  35. bro…. belum tentu orang arsitek yang angkatan lama tidak mendapatkan pelajaran beton.
    kita juga dapet mata kuliah teknologi bahan (terutama beton) dan mekanika teknik….walau tidak semendalam teknik sipil. tetapi dasar dan logika struktur pembebanan gedung bertingkat kita juga mengetahuinya. kalao masalah struktur jalan kita memang kurang mengetahuinya.

    Suka

  36. Mau nimbrung nich, mungkin telat.

    Inti pertanyaan dari penanya kan mau tahu caranya belajar beton, dan langkahnya sudah tepat tanya kepada orang yang ahli dibidangnya, yakni pak wir, tapi kenapa malah dijawab dengan seakan-akan meragukan keinginnan penanya untuk mendalami ilmu yang ingin dipelajari. Lha yang jadi pertanyaan saya kan, sebenarnya pak wir sendiri mau berbagi ilmunya atau tidak, kalau iya ya diberikan langkah-langkahnya jangan sampai keliru, tapi kalau tidak ya bilang saja tidak (tapi ini akan bertolak belakang dengan profesi pak wir sebagai akademisi, yang harusnya berbagi ilmu kepada siapa saja yang membutuhkan mau dia dari mana atau dari golongan apapun).

    Menambah tentang Arsitek dengan Sipil, saat ini kebutuhan akan profesi ini sama-sama dibutuhkan dan diharapkan untuk selalu berdampingan. Arsitek belum tentu tahu secara detail ilmu sipil, begitu pula sebaliknya. Saya seorang arsitek, dalam pengalaman saya untuk membuat satu desain sederhana (gedung lantai sedikit/rumah, dsb) itu dibutuhkan kajian-kajian yang tidak sesederhana yang dibayangkan oleh banyak orang, misal :
    1. Analisa Fungsional (harus memperhitungkan kebutuhan ruang yang disesuaikan dengan aktivitasnya baik dari kuantitasnya, kualitasnya maupun waktu penggunaanya, dll),
    2. Analisa Kontekstual (mengkaji tentang lingkungan, misal analisa sirkulasi baik dari luar maupun yang didalam bangunan tersebut, analisa pergerakan matahari yang nantinya berkaitan dengan besarnya thermal yang terjadi baik di indoor maupun outdoor, analisa pergerakan angin yang mengkaji tentang pergerakan sirkulasi udara yang diharapkan, dll – dalam analisa ini berpengaruh ke bentuk, orientasi dan kenyamanan yang diharapkan),
    3. Analisa Arsitektural (mengkaji tentang warna, bentuk, jenis material, tekstur, inersia visual yang semuanya harus disesuaikan dengan tingkat kenyamanan tiap-tiap penghuni karena tidak semua orang memiliki tingkat kenyamanan yang sama, contoh banyak orang yang suka dengan warna biru, tapi mungkin ada juga orang yang phobia dengan warna biru, dsb),
    4. Analisa Kinerja (mengkaji tentang aspek-aspek yang mendukung kinerja dari bangunan tersebut agar berfungsi dengan baik, misal tentang kelistrikan, jaringan air bersih, jaringan air kotor, sarana transportasi baik vertikal maupun horizontal, jaringan pemadam kebakaran, dsb)
    5. Analisa Teknis (mengkaji tentang struktur yang akan digunakan)
    6. Analisa Ekonomi (mengkaji tentang manajemen konstruksinya, besarnya biaya yang digunakan, dan manajemen perawatannya)

    Nah yang saya sebutkan itu baru secara sederhana dan nantinya baru masuk dalam konsep belum masuk ke DEDnya dan itu baru berlaku hanya untuk bangunan gedung, padahal bidang kerja arsitek tidak hanya berkutat di gedung karena profesi arsitek juga mendesain kota atau kawasan, nah untuk yang ini dibutuhkan lebih banyak analisanya dan tidak semudah mendesain bangunan gedung, karena untuk mendesain kota atau kawasan yang harus dipikirkan bukan untuk satu orang atau satu kelompok tetapi untuk banyak orang yang masing-masing memiliki keragaman pemikiran, budaya, identitas lokal yang berbeda, dsb.

    Nah ini sebagai sharing saja, hitung-hitung berbagi ilmu. Saran saya sebagai manusia yang pastinya memiliki keterbatasan, janganlah sampai kita terlena merasa lebih jika baru memiliki satu ilmu saja, langkah yang tepat adalah kita saling menghormati ilmu-ilmu yang ada sebagai anugerah yang diciptakan oleh-Nya untuk didalami oleh ahli-ahlinya, saya sendiri berteman dengan sangat baik juga dengan orang-orang ahli sipil dan ahli-ahli ilmu lainnya. Sebagai pengingat tanda-tanda kiamat salah satunya jika ada suatu urusan yang diserahkan bukan pada ahlinya. Dan sebagai pengingat terakhir bahwa kita sebagai manusia dituntut untuk selalu belajar mulai dari saat kita dilahirkan sampai kita masuk ke liang lahat dan jangan pula kita merasa rugi kalau berbagi ilmu dengan yang lain.

    Suka

    • Setuju komandan, gagasan anda adalah sangat luar biasa. dan itu patut untuk dicontoh untuk para bibit anak bangsa kita. Punya ilmu dan keahlian itu harus bisa diajarkan sama anak bangsa yang akan meneruskan generasi yg akan datang. Jangan seperti pohon yang rindang namun tak berbuah, itu sama saja dengan omong kosong dan tidak ada yang dibanggakan kecuali dia bangga dengan dirinya sendiri dan tidak untuk orang lain, dan akan lebih bangga bila disekelilingnya juga ikut merasakan manisnya dari buah rindang itu.

      Salam dari saya yg lagi menempuh jenjang strata 3.
      Biberach University
      Salam,

      Suka

  37. saya seorang sarjana sipil yang bsa pake program Cad dan 3dsmax. Sya pernah desain rmah type 36 (test dulu yang kecil2) pas dah jdi sya liatin keorang eh dia blang jelek.. Trus sya merenung lamaa.. Jngan2 jiwa seninya saya gak ada atau beda orang beda selera.. Tapi saya puas bsa buat gambar 2d dan 3dnya.. tpi kalo arsitek ngitung struktur gedung waduhh.. Musti kuliah lagi tuch..

    Suka

    • untuk belajar arsitek itu mudah dan begitu juga untuk belajar sipil, karena ilmu arsitek juga dapat ilmu perhitungan walau itu dasar, tidak jauh juga dengan ilmu sipil juga dapat ilmu dasar arsitek. Karena saya sudah study kedua2nya dan alkhamdulillah lulus sampai Strata 2 semua, jadi kalau semua bilang itu enak, tapi hati2. maka kalian harus saling bekerja sama, tanpa estetika bentuk dan ruang juga bangunan akan terasa tersiksa. begitu pula dengan keindahan suatu bangunan tanpa struktur yg kuat juga akan merasa tersiksa. dan yang paling utama adalah belajar itu tidak ada ruginya, semuanya pasti akan berguna dikehidupan kita.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s