Indonesia Bisa !
Saya kira ini akan menjadi jargon baru bagi rakyat Indonesia semenjak dicanangkannya seruan tersebut oleh Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono atau biasa dikenal sebagai SBY dalam Peringatan 100 tahun hari Kebangkitan Nasional, yang diselenggarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, Selasa, 20 Mei 2008 pukul 18.00 W.I.B.
Apakah seruan tersebut mendapat sambutan yang meriah atau tidak oleh rakyat Indonesia, saya kurang tahu. Tapi yang jelas perihal tersebut cukup lekat saya rasakan karena anakku yang pertama ternyata menyambut hangat, karena dianya dipilih untuk bisa turut serta memeriahkan acara tersebut. Via sanggar tari bali Saraswati yang telah dia geluti sejak kelas 3 SD dahulu, dia dipilih sebagai satu dari seratus penari yang mewakili kebudayaan P. Bali.
Jika pak SBY dapat dengan mantap mengatakan “Indonesia Bisa !”, maka bagiku tentulah jargon di atas masih terlalu berat untuk dibawakan dengan sepenuh hati. Maklum orang kecil.
Adapun jargon yang bisa dengan mantap aku teriakkan, paling-paling “Aku Bisa”, “Keluargaku Bisa”, atau paling juga “Mahasiswaku Sipil UPH Bisa !”. Karena jargon bagiku juga merupakan visi-misi yang diyakini dapat diwujudkan. Sedangkan kalau aku bilang seperti di atas, wah masih terlalu jauh.
Dengan konsep seperti itulah, meskipun scope diriku masih lokal dan kecil, tetapi ternyata fakta menunjukkan bahwa “BISA dalam scope lokal” yang dimaksud ternyata dapat bersinggungan dengan “BISA dalam scope nasional”. Ya karena gara-gara anakku tersebut.
Untuk menceritakan bagaimana acara “Indonesia BISA” tersebut maka ada baiknya aku bawakan dalam bentuk gambar-gambar, yang saya kira belum ada di internet ini. Jadi bagi yang belum berkesempatan melihat acara tersebut simaklah ini.

Sebagian dari 600 pelajar-pelajar yang manarikan Tari Saman dari Aceh, sedang mendengarkan briefing terakhir dari pelatih.

Ada tetangga berpose, ikut jepretlah. Jadi maklumlah kalau sorot mata nggak ke kamera. 😛

Penari Bali, penari Papua dan penari Jatilan berpose ria.

Kayaknya yang jatilan atau kuda lumping adalah yang ini ya. Jadi yang di atas kanan itu penari apa ya ?

Ini dari pulau Kalimantan

Ini daftar tempat duduk peserta acara

Salah satu element masyarakat yang datang diundang. Pukul 17.00 mereka sudah berbaris rapi untuk masuk melalui pintu stadion yang ditunjuk. Kelihatanya yang diundang adalah dari lembaga-lembaga, misalnya polri, pemda dan semacamnya. Tiket tidak dijual bebas.


Tapi untunglah, karena seharian menjadi pengantar dan diberi kartu pengenal juga maka ketika para petugas melihat itu mereka berkenan memberi tiket di atas agar para orang tua peserta dapat turut serta masuk studio untuk melihat acara tersebut. Jelaslah ini adalah suatu hal yang tidak terduga sebelumnya. Orang Indonesia itu ternyata BISA berbaik hati pula ya !

Perhatikan di tribun penonton yang bergambar bapak dan ibu presiden, itu adalah kumpulan orang lho yang diatur sehingga membentuk noktah-noktah piksel bergambar. Hebat lho. Ternyata orang Indonesia BISA !

Pembukaan, diawali dengan video tentang ‘bisa’-nya Indonesia, lalu nampak di video tersebut penerjun meloncat dari pesawat, selanjutnya musik . . . . .
Tiba-tiba di angkasa penerjun yang tadi tampil di video tersebut sudah nampak, masuk dari atas stadion senayan. Dan, tepatlah mereka mendarat dengan payungnya ke bagian tengah lapangan yang ternyata sudah disiapkan. Eh, BISA tepat juga mereka. Selanjutnya defile pembukaan bergerak, ya seperti yang di foto atas. Jadi sayang ya, penerjunnya nggak kelihatan. Maklum itu udah pakai ISO1600 untuk motonya, kalau pakai blitz nggak kuat, terlalu jauh. Jadi kalau moto di arahkan ke angkasa maka penerjunnya juga nggak kerekam. 😦

Ini konfigurasi tari Saman dari Aceh, yang dilakukan oleh sekitar 600 pelajar sejabotabek. Menurut informasi yang kudengar sewaktu gladi-resik, konfigurasi ini merupakan yang terbesar yang pernah dibuat. Hebat dong ! Hanya sayang kalau melihat gambar statis di atas, maka tidak terlihat segi keindahan dari tari tersebut, yang hebat sih dalam kecepatan gerak dan kebersamaan yang dibuat oleh para penari tersebut. Kalau kebersamaan seperti para penari Saman tersebut berimbas pada pembangunan, wah Indonesia pasti BISA.

Setelah daerah per daerah tarian di tampilkan, termasuk dari Bali, dimana anakku salah satunya maka bersama-sama mereka mengakhirinya dengan membentuk gambaran pulau Nusantara. Ingin menyatakan bahwa nusantara, adalah bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetapi satu adanya. Konsep seperti ini kayaknya sekarang mulai pudar. Di bidang keyakinan saja, ada yang beda sedikit maka dibilang apa gitu. Padahal perbedaan tersebut bila dipandang dari sisi lain bisa disebut keanekaragaman. Menarik lho. Jadi BISA khan menerima perbedaan ?

Tentara Indonesia tidak mau kalah, mereka menunjukan bahwa tanpa senjata, hanya mengandalkan tangan kosong mereka mempunyai keahlian bela diri yang tangguh. Kalau tidak salah ini unsur angkatan darat dan udara. Sebelah kanan demostrasi memecahkan benda keras, yang tengah dengan mata tertutup melompat ke lingkara api. Intinya jika ada embargo teknologi senjata, mereka masih BISA membela negeri ini. Gitu khan.

Jika sebelumnya adalah parade beladiri tentara, maka parade pencak silat menggelar tampilan tersendiri. Karena pencak silat maka penampilannya beragam, ada yang memperlihatkan ‘kembangan’ yang memang untuk di tonton, tetapi ada pula yang memperlihatkan pemecahan benda keras yang merupakan ciri khas suatu bela-diri. Gambar diatas memperlihatkan para pesilat tersebut ketika meninggalkan gelanggang dengan membentuk formasi khusus, melingkar-lingkar. Karena gambarnya statis jadi tidak terlihat nyata keindahannya.

Tidak ketinggalan defile Polisi tentang kesiapannya untuk mengatisipasi huru-hara. Moga-moga ini tidak hanya menjaga negara ini dari para pengunjuk rasa kenaikan BBM, tetapi juga elemen masyarakat yang membutuhkan perlindungan dari elemen masyarakat lain yang merasa benar sendiri. Tahu sendiri khan yang dimaksud. Jadi sebenarnya kalau mau, kekacauan-kekacauan tersebut yang biasa nongol di televisi BISA lho di atasi. Defile-nya hebat koq. Hidup pak Polisi, tapi mengayomi masyarakat ya pak.

Dalam salah satu sesi, digelar bendera kain terbesar yang pernah ada. Memang tidak dikibarkan sih. Kalau mengingat hal tersebut maka memori meloncat ke industri kain di Indonesia. Wah moga-moga ini kainnya beli produk dalam negeri. Moga-moga begitu. BISA khan !

Defile penutupan acara yang diikuti oleh ribuan peserta, dapat berjalan tertib dan lancar, serta tidak terlihat sedikitpun kekacauan. Ternyata kalau mereka mau, mereka-mereka ini BISA juga. !

Agatha, tersenyum bangga, setelah berminggu-minggu sebelumnya meluangkan waktu khusus untuk bersama-sama dengan penari-penari Bali untuk berlatih untuk acara tersebut dan akhirnya pada malam tersebut sukses ikut serta sampai tuntas acara. Bayangkan itu mereka sudah berdandan ria sejak pk 13.00 dan siap sejak pukul 15.00. Jadi tidak sekedar bisa menari saja, tetapi perlu fisik yang kuat. Wah bapak dan ibunya yang mengantar saja (tidak menari), sudah kecapaian. Bagaimana dengan mereka. Penari-penari tersebut bervariasi, temannya ada yang masih SD, sedangkan Agatha sudah duduk di SMP, ada SMA sampai perguruan tinggi pula. Bahkan guru-guru tari seniornya juga turut serta menari dalam acara tersebut. Ternyata anakku, BISA juga ! 😛

Salah satu pengisi acara ketika berbaris keluar dari stadion, di TV anda melihat ini nggak sih. Bayangkan, untuk acara pk 19.00 – 21.00, mereka-mereka ini telah bersiap-siap minimal sejak pukul 15.00 lho. Ternyata mereka kuat-kuat, mereka BISA !

Melihat dari dekat kostum reog Ponorogo, bagus lho detailnya, nggak kalah dengan barongsai. Jadi sebenarnya Indonesia itu BISA, jika hal-hal yang bagus seperti ini di ekspose dengan lebih baik. Banyak kasanah budaya yang menarik. Adalah tugas bersama agar itu semua memberi nilai tambah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak. Iya khan.
He, he, he, kalau tugas penulis khan meng-inspirasi anda-anda. Iya khan. 😀
Note : semua foto di atas diambil dengan Canon Digital IXUS 850IS







Tinggalkan Balasan ke restava Batalkan balasan