kopi & gaya hidup

Kopi sebagai gaya hidup atau life style, tidaklah semua orang akan memahami. Akupun sebelumnya juga demikian, dan mulai paham karena adanya gerai kopi Starbucks yang sering penuh dengan pengunjung. Saya sebut itu gaya hidup karena harganya yang mahal itu. Lihat saja, harga kopi satu gelas setara dengan 5 – 10 bungkus kopi bubuk yang biasa kuminum.  Tapi heran juga, meskpun harga mahal tetapi gerai kopi yang menjualnya, menjamur di mana-mana.

Jadi ketika hari minggu kemarin, aku diajak jalan-jalan istriku untuk melihat pameran orang penjual kopi semacam Starbuck, aku tertarik melihatnya. Ini laporan visualku dari sana sekaligus menguji Canon G9X Mark II yang baru.

gambar-1a
Untuk masuk pameran diharuskan membayar Rp 15.000,-/orang . Ini pagi ketika baru dibuka, jadi masih sepi.

Aku heran, mau masuk ke pameran kopi saja harus membayar. Apanya yang menarik pikirku, kopi khan hanya begitu-begitu saja. Waktu itu saya membayangkan akan istirahat di dalam, suasananya pastilah seperti interior gerai kopi Starbuck. Memang sih, mirip-mirip. Hanya saja di dalamnya tidak ada gerai kopi Starbuck itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Tugas Mengarang pada Mata Kuliah Rekayasa Kayu

Dosen adalah kehidupanku, baik dalam arti realitis, yaitu (gaji) mengajar untuk hidup, tetapi juga dalam arti idealis, yaitu kehidupanku adalah mengajar.

Mengajar yang aku maksud, tentunya dalam arti luas. Tidak hanya berdiri di depan ruang kelas ketika jam kuliah tiba, tetapi juga dimana saja, kapan saja. Pokoknya selama ada yang ingin jadi murid. Tentang hal itu, anak-anakku pasti tahu sekali tentang mengajar yang kumaksud. Ketika anak-anakku sedang kuantar ke sekolah, maka di dalam mobilpun mau-tidak mau, aku banyak mengajar (bercerita) tentang banyak hal, tentu saja yang relevan dengan mereka, seperti pengalaman hidup bagaimana memilih sekolah, juga bagaimana menghibur diri bilamana ada hasil ujian yang jemblok. 😀

Lho jadi tidak hanya bidang rekayasa saja ya pak Wir ?

Benar, pokoknya hal-hal yang relevan untuk diajarkan. Tentu saja tentang hal-hal apa yang menurutku aku menguasai dan pantas di-sharing-kan. Tentang hal itu, karena aku juga seorang penulis (lihat saja tulisan-tulisanku di blog ini), maka rasa-rasanya apa yang sedang kuminati dan sedang jadi fokus perhatian maka rasanya seperti kukuasai betul. Itu alasannya, mengapa kadang aku merasa percaya diri untuk menceritakan sesuatu yang memang secara pendidikan formal tidak aku pelajari, tetapi karena aku kuasai maka aku ajarkan juga. Sebagai contoh misalnya, tentang aplikasi pelajaran bahasa Indonesia misalnya, tentang karang mengarang. Aku pede banget soal tersebut. Maklum aku tahu, bahwa dengan membaca karangan seseorang, aku bisa tahu apa yang ada di benak pikiran mereka masing-masing. Itu dapat aku gunakan untuk menangkap, apakah apa yang aku sampaikan telah masuk pada kesadaran mereka atau belum.

Baca lebih lanjut

sudah mengacu pada SNI-kah anda ?

Pelan tetapi pasti, semua produk yang akan digunakan di Indonesia harus memenuhi kriteria mutu tertentu, yang disebut SNI atau Standard Nasional Indonesia. Maksudnya penting agar masyarakat Indonesia terhindar dari produk abal-abal yang tidak menjamin keselamatan. Contoh penerapan SNI yang mulai digalakkan adalah produk helm :

Kalau nggak berlogo SNI maka dianggap helm-nya tidak bermutu. Ini adalah logo resmi SNI yang dimaksud.

1
Logo SNI yang khas

Adapun logo tersebut nantinya akan ditampilkan pada helm, untuk menunjukkan bahwa produk tersebut bermutu sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

helmsni
Helm berlogo SNI yang dicetak embosh

Logo seperti pada helm tersebut penting, khususnya untuk membedakan helm-helm murah yang bertebaran dijual di pinggir jalan, yang bisa saja hanya indah untuk dilihat tetapi belum tentu berfungsi seperti yang diharapkan. Maklum, untuk mengetahui apakah bermutu, tentunya tidak mudah. Faktanya ada yang bagus dan ada pula yang jelek. Jadi adanya lambang SNI tersebut dapat menjadi tanda, bahwa mutunya sudah mengikuti standar minimum.

Memang sih, tidak adanya logo SNI tidak berarti bahwa produk helm yang dimaksud adalah abal-abal.  Misalnya saja, helm mahal yang dipakai para pembalap asing profesional. Belum tentu ada logo SNI di helm mereka. Meskipun lombanya ada di sini. Mereka tentu akan lebih percaya helm mereka sendiri, meskipun tidak ada logo dimaksud.

Terlepas dari logo pada kasus helm pembalap asing tersebut, maka pada umumnya di Indonesia ada kesan bahwa produk yang berlogo SNI, ada jaminannya.

besitulanganbetonsni
Tulangan baja dengan logo SNI

Jadilah logo SNI sebagai salah satu aspek pemasaran penting, khususnya bagi merk dagang yang belum terkenal. Kalau yang sudah terkenal seperti produk Krakatau Steel misalnya, maka ada atau tidaknya logo SNI tentunya nggak terlalu ngaruh. Hanya saja tentu pemerintah berkepentingan untuk memastikan bahwa logo SNI harus juga dicantumkan pada produk unggulan yang ada, karena kalau nggak ada, maka nanti yang lain tidak merasa bangga memakai logo tersebut.

Baca lebih lanjut

erection baja

Sorry, judulnya jangan di-complaint ya. Maklum bahasanya campur-campur, asing dan Indonesia sekaligus, terkesan tidak konsisten. Jadi yang merasa ahli bahasa pasti akan mencak-mencak. 😀

Sebagai orang yang awalnya adalah engineer, lalu baru sekarang menjadi pemakai bahasa aktif (penulis) maka menerjemahkan hanya berdasarkan kaidah yang biasa ada, koq nggak sreg begitu. Erection merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris dan sebenarnya sudah diserap menjadi kata baku bahasa Indonesia sebagai ereksi. Tetapi saya koq rasanya merasa nggak begitu pas untuk menyandingkannya dengan kata baja . Kata ereksi koq cocoknya jika dikaitkan dengan dokter Boyke. Tul nggak ?!

Tidak hanya itu saja, saya merasa bahwa kata ereksi merujuk pada suatu kondisi (statis). Adapun erection (dicetak miring) merujuk suatu proses (dinamis). Nah yang terakhir itu rasanya pas kalau yang memakai adalah seorang insinyur . He, he ini mungkin subyektifas pribadi ya.

Nah terlepas setuju atau tidak setuju, yang jelas kata erection (dicetak miring) sudah aku gunakan pada buku karanganku berjudul Struktur Baja (edisi awal) maupun untuk buku edisi ke-dua, dan kelihtannya sudah menjadi referensi banyak engineer.

Baca lebih lanjut

kelas 3 di SMA

Jangan protes ya dengan judul. Maklum mungkin saja ada yang merasa kalau judulnya salah atau tidak tepat. Pasti deh itu yang masih muda-muda, yang merasa bahwa judul di atas tidak pernah dijumpai di sekolahnya. Juga pasti ada yang merasa kalau kelas 3 itu khan untuk anak-anak kecil, Sekolah Dasar. Adapun SMA adalah untu yang sudah remaja.

Maklum aku menulis judul tersebut dengan cara pikir di jamanku dulu. Adapun yang kumaksud adalah pendidikan anak-anak yang setara dengan kelas XII di jaman sekarang. Tahapan pendidikan akhir untuk remaja menjelang masuk perguruan tinggi. Clear ?!

Baca lebih lanjut

karena nila setitik, rusak susu sebelanga

Hati-hati dengan pepatah di atas, itu benar-benar ada dan bahkan masih berlaku nyata sampai detik ini !

Pepatah itu ingin menunjukkan bahwa adanya satu tindakan tidak benar, yang mungkin bisa saja semula dianggap sepele dan tidak terpikirkan, ternyata bisa berdampak menghilangkan semua hasil pekerjaan baik yang telah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya. Jika hasilnya masih berupa barang material, tentunya tidak terlalu bermasalah karena bisa dicarikan gantinya, tetapi kalau yang hilang adalah immaterial. Woo, sangat susah untuk mendapatkannya.

Hal immaterial yang dapat hilang adalah reputasi atau nama baik atau kehormatan. Tahu sendiri untuk mendapatkan kepercayaan orang akan reputasi atau nama baik atau kehormatan, itu perlu waktu dan kesempatan. Jadi tentunya untuk mendapatkannya lagi tidak mudah, apalagi usia orang yang kehilangan tersebut sudah berbeda, bertambah tua (semangat dan tenaga sudah berbeda).

Baca lebih lanjut