• Saya yakin jika anda pembaca media yang rutin. Maka judul threat di atas tentu akan merujuk pada hal sama, seperti yang saya pikirkan, yaitu Quick Count Pemilu Presiden 2014 ini. Betul khan. Jika sebelum-sebelumnya, keberadaannya dapat dianggap sebagai suatu sumber berita yang dapat dipercaya, tetapi saat ini menjadi kebalikannya karena membuat bingung. 😦

    Pak Wir ini bagaimana, koq membahas Quick Count. Kita tunggu hasil dari KPU dong, 22 Juli nanti. Jangan ikut-ikut membuat bingung. Coba baca seruan KPI ini pak.

    Yah . . . betul. Pengumuman KPU tanggal 22 Juli 2014 memang yang kita tunggu. Maklum itu solusi paling gampang mengatasi kebingungan yang ditimbulkan oleh adanya discrepancy tersebut. Meskipun demikian, terlepas apa jawaban KPU maka kelihatannya discrepancy di atas akan menimbulkan dampak yang tidak ringan, apapun jawabannya. Ini bukan soal menang atau kalah seperti yang dipahami masyarakat awam, tetapi lebih mendasar yang dapat dikaitkan dengan kemajuan bangsa.

    Wah pak Wir ini mau jadi politikus ya ?

    (lebih…)

  • Ini ada PR yang ditanyakan Damar, sbb:

    Selamat sore pak wir,

    Perkenalkan pak, nama saya Damar. Pertama-tama saya ingin bertanya mengenai pemilihan nilai R (faktor reduksi gempa) untuk “steel structure gantry” di substation.

    Setelah saya baca code ASCE 7-10, nampaknya struktur ini termasuk untuk bangunan non-building structure, di bagian ini juga ada pemilihan nilai R untuk kategori “seismic Coefficient for Nonbuilding Structure not similar to Building”. Ada nilai R untuk tipe struktur trussed tower (free-standing or guyed) dan telecommunication towers.

    Nah, apakah nilai R di struktur ini bisa dipakai untuk tipe struktur seperti gantry pada substation? secara general bentuk substation berupa tower rangka baja dan antara towernya dihubungkan dengan beam rangka baja juga sedangkan telecommunication tower atau transmission tower hanya towernya saja, tanpa ada beam.

    Pertanyaan yang kedua, dalam mendesain bangunan gedung, ada efek ortogonalitas dalam mendesain beban gempa. bagaimana dengan desain bangunan gantry ini? apakah ada efek ortoghonalitas tersebut?
    sejauh saya membaca peraturan (ASCE 7-10), saya belum menemukan jawabannya pak.

    Pertanyaan yang ke 3, dalam mendesain bangunan gedung, konsep yang saya ketahui, bila kita menginginkan analisis statik, gaya gempa akan dikenakan di pusat massa tiap lantai dari bangunan tersebut. Lalu, bagaimana untuk struktur gantry ini? apakah harus di kenakan di setiap joint dari rangka tersebut atau bisa di asumsikan diletakkan (kira-kira) di titik berat dari struktur gantry tersebut?

    Kemudian pertanyaan yang ke 4 mengenai beban angin. Pembebanan angin di struktur tower transmisi atau gantry yang dikenakan pada struktur ada dibagian front face dan rear face (koefisien angin untuk bagian front dan rear disebutkan dalam “Pedoman Perencanaan dan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung”). Tapi saya cari di code ASCE 7-10, ketentuan untuk koefisien ini tidak saya temukan. Saya pernah dapat cerita dari konsultan yang ada di Singapopre, bahwa koefisien angin ini bisa dikenakan 1 untuk bagian front dan 0,5 untuk bagian rear ATAU dikenakan koefisien sebesar 1,5 untuk bagian front saja. Apakah hal ini dapat dibenarkan?

    Code yang saya jadikan acuan sampai saat ini baru ini saja pak :
    – SNI Gempa 2002 dan 2012
    – ASCE 7-10
    – ASCE 7-02 Guide to the used of the wind load provisions
    – ASCE 10-97 Design of Lattice Transmission Structures

     

    Mohon pencerahannya Pak Wir untuk masalah saya di atas. Saya dengan senang hati bila ada ada referensi terkait masalah di atas Pak.

    Thanks and Warm Regards,
    Damar

     

    Panjang sekali pertanyaannya, tapi menarik juga karena ternyata pak Damar sudah membaca dengan baik buku-buku pendukungnya. Terus terang, sudah lama saya tidak membaca buku ASCE tentang gempa, maklum yang dibaca umumnya kalau ada yang mengajak diskusi, seperti sekarang ini, atau kalau ada makalah dengan permintaan yang tertentu, seperti besok Jumat tanggal 4 Juli 2014, tetapi itu tentang DAM (AISC 2010). Padahal masalah gempa di Indonesia khan kelihatannya lebih mempunyai nilai jual daripada perencanaan baru struktur baja. Betul khan.

    Oleh karena kebetulan ada pertanyaan yang dapat memicu diskusi tentang hal itu, maka mari kita bersama-sama membahasnyanya. Untuk itu tentu saja saya akan menyampaikan pendapatnya lebih dahulu, dan agar pendapat itu dapat menjadi ilmu pengetahuan yang baik, tentu perlu ada yang mengevaluasi. O ya, dalam menyampaikan pendapat yang dimaksud, jangan heran jika formatnya terkesan tidak formal. Maklum, ini diskusinya santai saja ya, cerita tentang prinsip-prinsip yang tentunya karena sudah mengendap (di benak) lebih gampang diungkapkan, tidak seperti studi literatur, harus buka buku sana-sini, sekaligus harus ditampilkan daftar rujukannya.

    Baik, mulai saja pembahasannya tentang perencanaan tahan gempa ini. Untuk itu, sebelum dapat dijelaskan berapa nilai R (faktor reduksi gempa) yang benar, maka tentunya kita harus tahu apa maksud dari adanya nilai R tersebut.

    Seperti kita ketahui bersama, dalam perencanaan struktur terhadap gempa, selain faktor kekuatan (strength) atau kekakuan (stiffness) maka faktor daktilitas (ductility) dari suatu struktur adalah sangat penting. Bahkan yang terakhir itu selalu digembar-gemborkan, diutamakan karena dapat digunakan sebagai solusi untuk mengantisipasi gempa yang tak terduga besarnya. Karena besarnya gempa tidak ada kepastian, maka jika dipaksa direncanakan dengan gaya gempa yang besar, tentunya akan berdampak pada biaya yang membengkak. Jadi untuk menghindari keluarnya biaya yang pasti padahal bebannya saja tidak pasti, maka satu-satunya cara adalah kompromi, yaitu struktur daktail karena biayanya relatif masih ekononomis tetapi ada harapan untuk mengatisipasi ketidak pastian akibat beban yang besar.

    Untuk struktur yang memenuhi kriteria di atas, yaitu struktur daktail, maka ketika gempa besar terjadi, yang lebih besar dari beban rencana, dan ketika terjadi overstress (dengan cara yielding) akan terjadilah dissipasi energi. Itu berarti gaya gempa yang berlebihan dapat diantisipasi. Kalaupun ternyata gempanya besar sekali sehingga struktur tidak kuat lagi, maka adanya perilaku daktail, yaitu terjadinya deformasi yang besar sebelum runtuh, akan tersedianya waktu yang cukup agar penghuni dapat menyelamatkan diri. Itu berarti jurus akhir “ambil langkah seribu“, masih diperlukan. 😀

    (lebih…)

  • Melihat berita televisi, juga membaca berita online, pada saat-saat menjelang pemilihan presiden ini koq rasa-rasanya membikin jenuh saja. Maklum, komentar teman-teman yang dulu terlihat terpelajar, dan dapat memberikan komentar yang logis sesuai nalar yang juga aku yakini, koq sekarang jadi berbeda. Nalarku menyatakan kiri, eh koq teman itu ngotot kanan. Padahal rasa-rasa data yang menyatakan memang kiri, jelas terbaca.

    Kalau kondisinya seperti itu, khan lebih baik kita hindari. Bisa-bisa ikut berbeda nantinya. Kondisi pilihan siapa presidennya, rasa-rasanya sudah mulai tampak. Nggak perlu dipikirkanlah. No.1 itu kita harus mikiran diri sendiri, sebagai seorang yang berlatar belakang insinyur maka mendalami bidang yang kita geluti adalah paling penting. Mari kita berbincang-bincang tentang struktur baja, materi yang nanti tanggal 4 Juli 2014 besok aku sampaikan di seminar nasional di UK Petra Surabaya.

    (lebih…)

  • Salah satu cara untuk menjadi profesional adalah bekerja magang pada perusahaan komersial. Ikuti apa yang mereka kerjakan, dan lakukan kriteria yang mereka minta, untuk selanjutnya dievaluasi mengapa harus begitu dan mengapa harus begini. Jika sudah mempunyai wawasan, baru memilih strategi yang paling cocok untuk ditindak lanjuti.

    (lebih…)

  • Sedikit intermezo ya, maklum isi berita on-line kelihatannya koq hanya diskusi soal No.1 dan No.2 saja ya. Apa nggak bosen. Padahal di Samarinda baru saja terdengar kabar buruk adanya bangunan yang sedang dibangun, rubuh. Ini datanya :

    ijvfhlnqnt
    Bangunan ruko Cendrawasih Permai di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, runtuh. (Foto: Awaluddin Jalil/Sindonews)

     

    (lebih…)

  • Perencanaan struktur baja yang umumnya langsing perlu analisis stabilitas, yang hasilnya dipengaruhi oleh imperfection (nonlinier geometri) dan kondisi inelastis (nonlinier material). Oleh sebab non-linier maka analisisnya memerlukan prosedur incremental dan iterasi agar hasilnya akurat. Saat sekarang, dengan didukung perkembangan teknologi komputer yang canggih dan ekonomis, maka analisis yang dimaksud bukan suatu kendala. Telah tersedia berbagai jenis analisis berbasis komputer yang dapat dimanfaatkan, mulai dari analisis Elastic Buckling Load, Second-Order Elastic Analysis, First-Order Plastic Mechanism Load, First-Order Elastic-Plastic Analysis, bahkan Second-Order Elastic-Plastic, yang disebut juga sebagai Advance Analysis. Umumnya jenis analisis tersebut sudah tersedia sebagai opsi pada program-program modern dari analisa struktur yang komersil.

    Semakin canggih analisis yang dipilih ternyata juga semakin banyak data yang diperlukan, selain itu diperlukan pemahaman atau kompetensi yang cukup agar hasilnya dapat digunakan secara efektif. Jika dipilih Advance Analysis, hasilnya tentu akan mencukupi untuk analisis stabilitas, tetapi jika itu untuk pekerjaan rutin pada perencanaan struktur baja (bukan riset) tentunya berlebihan dan tidak praktis. Maklum, yang namanya pekerjaan adalah bisnis juga, dimana di sana terdapat prinsip sedikit bekerja tapi mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. Pemikiran seperti itu tentu perlu diwujudkan juga.

    Atas dasar hal-hal tersebut, juga adanya keinginan mendapatkan kemajuan dalam analisis dan desain maka AISC (2010) memperkenalkan Direct Analysis Method (DAM) sebagai cara baru perencanaan struktur baja yang telah memasukkan prinsip modern dalam analisis stabilitas. Memang untuk itu diperlukan analisis stabilitas struktur berbasis komputer. Tetapi analisis yang dipilih bukan yang rumit dan canggih sekali seperti Advanced Analysis, tetapi cukup yang minimalis, yaitu Second-Order Elastic Analysis. Tetapi dengan sedikit manipulasi dan strategi perhitungan yang diajukan maka problem stabilitas yang bersifat nonlinier geometri dan sekaligus nonlinier material tetap dapat diatasi juga.

    Meskipun strategi yang digunakan pada DAM tidak persis sama seperti jenis analisis yang rasional, tetapi yang penting telah dibuktikan dengan cara kalibrasi dengan hasil eksperimen (AISC 2010) bahwa hasilnya berkorelasi problem real. Itulah cara DAM yang telah menggantikan cara lama ELM (Efective Length Method) yang secara prinsip dijadikan standar sejak ditemukan rumus Euler dahulu. Cara lama tersebut tidak dibuang tetapi dipindahkan menjadi Appendix 7 (AISC 2010) untuk dipakai sebagai cara alternatif, khususnya jika tidak tersedia program komputer yang dimaksud.

    (lebih…)

  • Sejak pertama kalinya teori Euler dikemukakan (1744) sampai dipublikasikannya AISC (2010), atau sekitar 266 tahun, maka selama itu pula telah muncul berbagai teori tentang kolom, yang diuji dan akhirnya banyak pula yang berguguran. Jadi ketika konsep panjang efektif kolom selalu dipakai untuk melengkapi teori tentang kolom tersebut, itu menunjukkan bahwa konsep tersebut tentu suatu yang luar biasa. Sebagai suatu teori yang terbukti tangguh tetapi herannya baru pada AISC (2010) diberi nama “Effectif Length Method” (ELM). Itupun terpaksa diberikan karena untuk membedakan dengan “Direct Analysis Method” (DAM) yang dijadikan unggulan baru setelah selama hampir tiga abad cara perencanaan struktur baja secara rasional dikenal oleh para insinyur.

    Oleh sebab itu sebelum ELM ditinggalkan atau bahkan dilupakan, maka perlu dipelajari terlebih dahulu secara mendalam : apa keunggulan dan kekurangan metode tersebut, khususnya ketika tersedia teknologi komputer, sehingga dapat beralih ke DAM secara mantap dan tidak ada penyesalan agar kedepannya dapat diperoleh sesuatu yang lebih baik dari perencanaan struktur baja selama ini.

    (lebih…)

  • Menjatuhkan pilihan memang tidak mudah, maklum informasi yang ada terkadang tidak bisa dipercaya atau meragukan. Ibarat kemasan, roti yang enak tetapi jika kemasannya tidak bagus bisa-bisa tidak dipilih, sedangkan yang kemasannya bagus waktu dicicip bisa bikin kecewa.

    (lebih…)

  • Rekayasa Komputer dalam Analisis dan Desain Struktur Baja
    Studi Kasus Direct Analysis Method (AISC 2010)[1]
    Bagian I :  Latar belakang teori

     Wiryanto Dewobroto
    Jurusan Teknik Sipil, Universitas Pelita Harapan

    Meskipun draft SNI Baja (Puskim 2011) yang mengacu AISC (2010) belum diresmikan, tetapi minimal dapat diketahui acuan keilmuan struktur baja di Indonesia, yaitu American Code. AISC (2010) sendiri memuat dua metode perencanaan, yaitu [1] Efective Length Method (ELM), cara lama sebagai alternatif; dan [2] Direct Analysis Method (DAM), cara baru berbasis komputer yang diunggulkan. Makalah ini akan mengupas secara mendalam : mengapa DAM dan apa keunggulannya dibanding ELM. Makalah akan dibagi menjadi dua bagian, yaitu : [1]  Latar belakang teori; [2] Contoh aplikasi praktis.

    Kata kunci: Direct Analysis Method, Efective Length Method, LRFD

    (lebih…)