• anak – investasi keluarga !

    Ini memang suatu judul yang tidak semua orang dapat menerimanya. Tentang hal itu saya ingat kejadian beberapa tahun lalu, ketika anakku relatif masih kecil, yaitu ketika berbincang-bincang dengan seorang ibu yang sekaligus juga adalah teman dosen di kampus tempatku bekerja.

    Karena bidang ilmunya tidak sebidang maka tentu saja topik pembicaraannya adalah hal yang umum, kebetulan cocok ketika berbicara soal anak-anak yang dimilikinya. Meskipun dalam segi usia antara kami adalah sebaya, tetapi dalam hal anak, maka kelihatannya aku lebih senior, maklum anakku relatif lebih tua dari anak dari ibu dosen tadi. Menariknya, ketika dalam suatu kesempatan aku mengatakan bahwa memiliki anak itu ibarat sebagai investasi dalam kehidupan ini maka beliaunya agak tersinggung. Komentar beliau : “Anak koq investasi, kayak barang saja. Nggak boleh kita memandang anak seperti itu. Anak khan tanggung jawab kita kepada Tuhan yang telah memberikannya. Kita harus bertanggung-jawab dan tidak boleh hitung-hitungan dengan anak tersebut.”

    Kaget juga aku mendengar argumentasi yang diberikan. Nggak salah juga sih. Melihat gelagat dan nada bicaranya itu maka aku memutuskan untuk tidak memperdebatkannya. Maklum nada bicaranya jadi ngotot sehingga tidak terlihat celah untuk diskusi. Jadi, ya mengalah saja, membiarkan dia dengan ide tersebut. Padahal jika dia dapat mendengarnya dengan netral, maka tentu aku akan menjelaskan secara terinci apa yang aku maksud dengan kata investasi tersebut.

    (lebih…)

  • Di tengah banyak beredarnya berita miring tentang anak-anak muda Indonesia, mulai dari banyaknya pelaku pelecehan seksual (korban atau pelaku), yang terjadinya ternyata di banyak tempat (!?). Juga masih saja terjadi tawuran anak-anak sekolah. Sebagai orang tua tentu kita sangat mengkuatirkan hal itu. Bayangkan, bagaimana jika itu terjadi.

    Kadang-kadang timbul pertanyaan, mengapa itu sering terdengar saat ini. Dulu ketika masih muda, rasa-rasa nggak pernah terdengar hal itu. Bisa juga, mungkin dulu juga ada, tetapi karena informasi tidak seterbuka sekarang maka baru sekarang diketahui. Tetapi bisa juga saat ini memang lebih banyak dari dahulu, maklum informasi yang mudah didapat tersebut dapat juga menginspirasi orang lain (yang memang punya kecenderungan negatif) untuk melampiaskan aksinya. Mana yang benar, rasanya perlu penelitian yang serius.

    (lebih…)

  • Terus terang aku sendiri merasakan bahwa produktivitasku di blog ini sudah agak sedikit menurun. Tidak seperti dulu lagi. Tetapi itu semua bukanlah petunjuk bahwa produktivitasku dalam menulis juga turun. Meskipun sekarang jadwal pengajaran di Jurusan Teknik Sipil UPH semakin padat, bayangkan saja saat ini kelas akselerasi atau semacam semester pendek telah lebih ditingkatkan. Mahasiswanya hampir nggak punya waktu untuk santai-santai. Padat begitulah . . . . memang sih, tetapi ada harapan untuk dapat lulus secara lebih cepat. Tetapi meskipun jadwal mengajar menjadi semakin padat, tetapi aku tidak mau terjebak pada rutinitas seperti itu. Aku putuskan bahwa produktivitas menulisku tidak boleh terganggu.

    (lebih…)

  • Sambil menunggu tukang rumput di rumah Cikupa, saya tertarik untuk membahas komentar dari adik kelas SMA. Ini komentar yang masuk.

    Amira pada 22 Maret 2014 pukul 06:20 berkata:

    Selamat pagi pak Wir. bangga sekali dengan bapak. Saya salah satu alumni SMAN 1 TELADAN Yogyakarta juga pak, sekarang saya melanjutkan studi di jurusan arsitektur. saya baru awal belajar mengenai mekanika struktur bangunan. Beberapa waktu lalu ada pertanyaan dari dosen yang tidak bisa dijawab oleh mahasiswa. Saya ingin bertanya pada bapak dan minta pendapatnya.

    Pertanyaannya begini pak : perbedaan kondisi pada kutub gaya gravitasi telah mengakibatkan gerakan dan arah beban menjadi tidak tegak lurus pada titik tumpu. Bagaimana perencanaan bangunan yang akan dibangun di wilayah tersebut ? 

    Terimakasih banyak pak Wir, Salam jayamahe!

    Pertanyaan langka, saya belum pernah mendengar sebelumnya. Jadi daripada melihat acara TV yang cenderung konyol maka ada baiknya menanggapi pertanyaan sdr. Amira tersebut, boleh khan.

    (lebih…)

  • Meskipun aku mempunyai account facebook maupun twitter, tetapi kalau untuk tulis menulis maka hanya di blog wordpress ini saja yang aku lakukan. Maklum, untuk yang namanya tulis menulis biasanya aku relatif serius, maksudnya aku jarang hanya menulis sepatah atau dua patah kata, sekedar comment apalagi curhat. Menulis bagiku adalah cara mengungkapkan pikiran atau ide. Harapannya adalah bahwa orang lain tahu bahwa aku ada. 😀

    (lebih…)

  • Tidak setiap orang memahami, apa makna dari judul artikel ini. Maklum, istilah yang saya pakai tersebut hanya familiar bagi structural engineer yang biasa bekerja dengan program SAP2000, khususnya jika telah memakainya pada tahapan post-processing : desain penampang beton bertulang atau profil baja dari elemen struktur yang dianalisis.

    (lebih…)

  • Kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan.

    2498c3725c2b8eae9f25c920be16a321

    Percaya atau tidak, tetapi itulah sebenarnya yang akan terjadi. Oleh karena saya mengamini kalimat tersebut, maka tentunya akan senang pada anak-anak muda yang mulai memikirkan atau tepatnya membayangkan apa jadinya dia nanti. Kalau sesuatu itu sudah mulai dapat dibayangkan, dan kemudian dipikirkan secara serius bagaimana caranya, maka itu akan menjadi magnet untuk pikiran-pikiran lain yang mendukung. Akibatnya apa yang dahulu hanya dapat dibayangkan saja maka lama-lama mulai menjadi nyata. Maklum, biasanya jika pikiran-pikiran tersebut dapat diungkapkan maka akibat akan banyaknya petunjuk yang berdatangan.

    Salah satu pikiran yang diungkapkan adalah seperti komentar sdr Andi sbb:

    Andi
    Pak Wir, saya mau bertanya. Bisakah seorang insinyur sipil mendesain sendiri tampak luar sebuah bangunan – atau yang biasa disebut segi arsitektural – tanpa bantuan arsitek, selain tentunya mendesain dan menghitung komponen-komponen strukturalnya? Saya mahasiswa teknik sipil yang sebentar lagi lulus (semoga). Saya senang belajar struktur Pak, dan saya menyadari bahwa ilmu struktur adalah dasar dari berbagai ilmu/subjek yang dipelajari di bidang teknik sipil. Namun saya juga senang dengan keindahan/estetika suatu bangunan. Jika saya kelak menjadi insinyur sipil, saya ingin mendesain sendiri bentuk luar bangunan sekaligus mendesain sistem strukturnya. Apakah bisa seperti itu, Pak Wir? Terima kasih atas jawaban dan penjelasan Bapak.

    (lebih…)

  • Mengawali tahun yang baru maka akan seperti biasa : banyak harapan yang disampaikan. Mungkin juga karena tahu aku seorang dosen yang juga sekaligus penulis buku maka ada saja yang bertanya seperti ini : “Tahun ini buku yang akan terbit, apa pak Wir ?”

    Suatu pertanyaan yang tentunya mengandung harapan. Adanya pertanyaan seperti itu tentunya membuat hati menjadi senang. Bagaimana tidak, jika kebanyakan dosen lain menulis sekedar untuk meraih kum, maka apa yang kulakukan itu selain untuk itu, juga sekalgus mendapatkan, yah . . . semacam pengakuan begitu gitu lho. Itu berarti ide dan pikiran-pikiran yang kutulis ada yang memperhatikan (ditunggu-tunggu). ** geer mode on**

    (lebih…)

  • Tidak terasa tahun 2014 sudah datang, kepada pembaca diucapkan Happy New Year. Semoga menjadi tahun yang membawa berkah, dan kita selalu mendapat bimbingan serta perlindungan dari Tuhan Allah yang Maha Esa. Amin.

    O ya, jangan lupa pula mendoakan semoga dalam penyelenggaraan pesta demokrasi di bulan April nanti, negeri ini tetap dalam kondisi damai, aman dan sejahtera. Maklum, orang-orang awam di bidang politik seperti saya ini, ketika ada pesta seperti itu tentunya tidak ada keuntungan langsung yang diperoleh. Adanya sekedar harapan, tetapi apakah itu akan terwujud atau tidak, Wallahu a’lam. ** pesimis mode on melihat sepak terjang politikus kita saat ini (kecuali bapak Jokowi tentunya)**

    (lebih…)

  • Meskipun bekerja di lingkungan akademik, dan banyak bertemu teman-teman yang menggeluti bidang ilmu yang sama, structural engineering, tetapi ternyata kesempatan berdiskusi pada bidang ilmu tersebut, relatif jarang. Kalaupun bertemu, yang dibicarakan paling-paling tentang pernak-pernik kelakuan mahasiswa di kampus, bagaimana tentang mahasiswa yang aktif atau yang malas. Maklum, mahasiswa yang malas ujung-ujungnya jadi biang masalah menjelang ujian. Jadi mendengar pendapat dosen lain, menarik untuk dijadikan acuan menghadapinya. Topik pembicaraan umum yang lain, biasanya terkait dengan berita-berita yang lagi hangat, misalnya tentang gadget terbaru atau bahkan tentang berita politik juga, mulai dari bu Atut sampai pak Jokowi.

    Kemarin kondisi di atas ternyata agak berbeda, maklum ada acara pra-sidang, yaitu acara evaluasi progres “tugas akhir” mahasiswa. Pada acara tersebut, hadir dosen pembimbing “tugas akhir” dan dua dosen senior di bidang ilmu yang sebidang (sesuai materi tugas akhir). Nah karena ada tiga dosen di bidang ilmu sama berkumpul dan dikondisikan secara formal, maka setiap komentar dan tanggapan dapat dijadikan pemicu untuk terjadinya diskusi ilmiah. Meskipun tujuan awal acara adalah untuk mengevaluasi kompetensi mahasiswa (peserta tugas akhir), tetapi adanya diskusi antar dosen maka antara sadar atau tidak sadar, acara tersebut juga merupakan sarana untuk mengevaluasi kompetensi dosen-dosennya. Itu tentu disadari benar oleh dosen-dosennya, sehingga setiap pertanyaan yang diajukan mereka ke mahasiswa, sebisa mungkin jangan sampai mempertanyakan atau meragukan suatu kompetensi dari dosen lain yang hadir. Kalau itu sampai terjadi, maka yang menjawab bukan mahasiswa tugas akhir tetapi dosen pembimbingnya. Jika tidak hati-hati, jadilah perdebatan, seru !

    Situasi yang dimaksud, terjadi kemarin.

    (lebih…)