SNI Kayu – Kritik OTO Kritik

Hari libur tanggal merah, oleh sebab itu ada baiknya diisi dengan hal positip, yaitu menulis. Hanya saja sebelumnya perlu kami mengucapkan Selamat Hari Idul Adha bagi teman-teman pembaca yang merayakannya. Tuhan memberkati kita semua.

kumpulan-kata-bijak-sms-ucapan-selamat-hari-raya-idul-adha-terbaru

Menulis memang bisa apa saja, mudah lagi, apalagi dengan adanya internet. Seseorang di ujung kamar sempit (tidak dikenal) maupun penghuni istana luas (seorang selibriti), dengan kemampuannya menulis bisa saja memberi pengaruh besar, bagi masyarakat. Tidak percaya, ini ada berita tentang Saracen (kalau belum tahu istilah tersebut ada baiknya membaca ini, ini atau ini). Dugaan saya, keberadaannya mempengaruhi hasil Pilkada DKI kemarin. Sebelum diketahuinya Saracen, saya berpikirnya : komentar-komentar tidak berlogika yang berseliweran di Facebook atau media sosial lainnya adalah betul dari orang-orang kita. Tetapi dengan ditangkapnya Saracen, maka saya jadi berpikir, apa-apa yang saya anggap tidak logis tersebut pastilah datang dari narasi yang dibuat Saracen. Pasti itu !

Kalau ketemu komentar nggak logis seperti itu, bagaimana sebaiknya ya pak ?

Dulu saya memang lugu, setiap ada komentar di media sosial, maka selalu saya tanggapi, saya anggap itu memang orang betulan. Tetapi dalam perkembangan waktu, memperhatikan bahwa setiap logika yang kusampaikan koq seperti angin lalu saja, tidak memberi pengaruh. Selanjutnya aku ambil kebijakan, aku hindari saja orang-orang seperti itu. Jadi kalau ada komentar yang terkesan tidak logis, maka cepat-cepat aku unfollow saja orang memberi komentar tersebut. Beres.

Dengan adanya Saracen, aku jadi berpikir. Orang Indonesia itu pinter-pinter ya kalau menulis, juga banyak yang membaca ya. Jadi adanya Saracen dapat menunjukkan bahwa “menulis dan membaca kelihatannya telah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia“. Itu makna yang positip, adapu makna yang negatif adalah bahwa dalam dunia perpolitikan kita, ternyata para pelakunya tidak ksatria. Strategi yang dilakukan Saracen itu khan licik. Demi uang (ini karena di berita ada info bahwa tiap pesan ada harganya) mereka mau melakukan fitnah. Itu berarti Saracen nggak berbeda dibanding pembunuh. Tahu sendiri khan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan“. Adanya argumentasi seperti itulah, maka saya mendukung jika Saracen dapat dihukum berat.

Pak Wir, jangan ngomong politik dong, menulis tentang bidang rekayasa teknik sipil saja. Khan Bapak memang di bidangnya !

Begitu ya. Nggak bosen ?

Mau menulis hal apa ya ? Tentang materi seminar tanggal 18 Oktober 2017 nanti di Pontianak, atas undangan Politeknik Negeri Pontianak, atau rencana seminar di P. Bali yaitu sekitar awal bulan November (yang ini masih menunggu undangan resminya). Lumayan khan, itu semua tentang ilmu rekayasa.

O bocoran materinya ya pak Wir ?

Eits, nggak jadi deh. Materi tulisan saya ternyata masih 70%, belum jadi. Nanti saja ya kalau papernya sudah selesai. Pasti deh dibocorin. Kalau sekarang bahas materi yang lain saja ya. O ya, gimana kalau tentang struktur kayu. Gini-gini aku ini dosen struktur kayu lho di UPH. Setuju ?

Pembahasan tentang struktur kayu adalah penting, maklum ahli struktur kayu kita jarang yang mau berbagi ilmu kayunya ke publik. Nggak tahu kenapa. Kalau saya sedang search di internet, maka teman-teman ahli mebel atau arsitek bahkan lebih pede menulis tentang material kayu. Kalaupun ada tulisan orang teknik sipil, kebanyakan tulisannya hanya membahas materi-materi lama. Nggak seru, karena nggak ada materi tentang kayu yang baru. 😀

Jujur saja, saya mendalami kayu karena terpaksa harus mengajarkan ilmu itu di kampusku. Dosen sebelumku dianggapnya dosen killer, banyak yang nggak lulus mata kuliah tersebut. Selanjut karena dosennya sudah pensiun (dosennya sudah senior sekali) maka aku diminta untuk mengisinya. Jadi target pertamaku adalah menghindari untuk disebut dosen killer.

Ketika melihat materi struktur kayu yang lama, pembahasannya kebanyakan adalah sambungan takikan dan semacamnya. Untuk materi seperti itu, pengalaman yang aku punya ternyata tidak mendukung. Maklum, meskipun pengalaman di bidang rekayasa cukup lama, tetapi proyek yang aku tangani tidak pernah pakai sistem sambungan takikan. Karena materi struktur kayu dari dosen yang lama, tidak kupahami, maka aku perlu mengembangkan materi struktur kayu yang baru. Materi struktur kayu yang baru tersebut lebih menekankan pada ilmu mekanika bahan dan perilaku material yang orthotropik. Keduanya aku menguasai. Jadi itu pula alasannya mengapa pada mata kuliah Struktur Kayu di UPH, aku sisipkan juga kegiatan praktikum di laboratorium.

Strategi perkuliahan Struktur Kayu dengan tugas besar berupa Praktikum Bahan Material Kayu, kelihatannya yang pertama lho di Indonesia. Kampus-kampus lain kelihatannya belum ada. Itu aku ketahui ketika di seminar ketemu dosennya. Jadi kalau begitu materi yang aku berikan, cukup lumayan khan.

O kalau itu mah, kelihatannya pak Wir pernah menjadikannya paper seminar. Bukan sesuatu yang baru. Ini link dari paper yang dimaksud !

REVITALISASI KAYU sebagai BAHAN MATERIAL KONSTRUKSI melalui RISET dan PENGAJARAN – Studi Kasus di Jurusan Teknik Sipil UPH
Conference Paper · November 2012

Iya-iya betul, thanks ya. Ternyata kamu punya memori yang super !

Pada artikel di atas, aku mencoba menyampaikan argumentasi tentang keunggulan mata kuliah struktur kayu yang kuasuh di UPH. Jadi meskipun kayu hanya berbobot 2 sks saja, yang kalah jauh dibandingkan mata kuliah struktur baja atau struktur beton, yang umumnya 3×2=6 sks, tetapi saya berbangga ria lho sebagai dosen mata kuliah Struktur Kayu. Coba bandingkan dengan dosen struktur kayu yang ada di kampusmu, apakah beliau bisa juga membanggakan materi yang diberikannya.

Wah kalau begitu materi kuliahnya sangat berbobot ya pak Wir.

He, he, membanggakan dan berbobot, kayaknya nggak paralel. Jadi pada saat aku menulis paper di atas, aku memang percaya diri sekali dengan materi stuktur kayu yang aku berikan di kampus. Kata mahasiswa, materiku lebih baik dari materi yang dulu. Hanya saja ketika masuk dunia konstruksi praktis, dan ketemu “orang kayu” yang sesungguhnya, akhirnya sadar bahwa materi kuliah struktur kayu, yang aku berikan, ternyata tidak mencukupi. 😦

“Orang kayu”,   .   .   . itu pakar kayu atau profesor atau doktor ya pak ?

Bukan semua, kalau orang yang kau sebutkan di atas, aku sering ketemu. “Orang kayu” yang kumaksud adalah orang yang telah bertahun-tahun menjalankan bisnisnya di bidang kayu. Ini fotonya ketika aku mengunjungi pabriknya di Bekasi.

pabrik-kayu
Gambar 1. Nampang di depan tumpukan kayu yang menjadi topik bidang pengajarannya

Dalam foto terlihat bahwa ukuran kayunya terlihat kecil-kecil, kebanyakan berukuran seperti papan. Jadi kelihatannya nggak cocok jika itu digunakan untuk elemen struktur, balok misalnya. Ukuran kayu di atas tentunya bukan ukuran kayu yang diharapkan akan diaplikasikan dengan ilmu struktur kayu. Kalaupun bisa, tentunya hanya berupa pemasangan komponen lantai kayu. Jika dipaksa lagi untuk struktur besar maka tentunya kayu-kayu tersebut harus dirangkai terlebih dahulu untuk menjadi struktur rangka batang atau truss. Itu pikiranku selaku pengajar mata kuliah struktur kayu.

Ketika di dalam meja diskusi, aku mendapatkan penjelasan bahwa mereka juga tertarik untuk masuk di bidang konstruksi. Lalu aku jelaskan tentang ukuran kayu yang dianggap kecil-kecil itu. Beliaunya lalu memberikan contoh ukuran kayu yang diharapkan dapat dihasilkan. Ini prototipe sambungan yang aku maksud.

produk-kayu-buatan
Gambar 2. Kayu buatan dari laminasi kayu dan lem (glulam)

Wo, ternyata kayu-kayu kecil tadi dapat dirangkai menjadi besar dengan teknik laminasi yang disebut glulam. Sebagai dosen kayu di UPH, aku kaget juga. Topik dan pembuatan kayu glulam tersebut belum ada pada materi perkuliahan yang aku berikan. Bahkan jujur saja, aku masih asing dengan jenis kayu glulam, tersebut.

Event kunjungan ke pabrik kayu glulam tersebut adalah sangat penting bagiku. Sebelumnya aku menganggap sepele tentang kayu, ternyata nggak sepele yang aku duga. Sejak itu, aku lebih tertarik lagi untuk memahami ilmu struktur kayu, yang ternyata telah berkembang sangat pesat di barat.

O ya, ini laporan lengkap kunjunganku ke pabrik tersebut. Siapa tahu terinspirasi.

https://wiryanto.blog/2017/07/19/belajar-struktur-kayu-modern-1/

Belajarnya aku seperti biasa, selalu otodidak. Saya hanya mengandalkan buku dan jurnal ilmiah di internet, termasuk juga komentar di media sosial. Keberadaannya aku jadikan petunjuk ke arah mana ilmu itu akan ditemukan.

Untuk menguasai secara serius suatu ilmu rekayasa, yang kadang tidak terbatas, maka saya perlu melihat batasan praktis, yaitu hal-hal apa yang harus diketahui dan diaplikasikan terkait ilmu rekayasa tersebut. Kalimat harus ada kesan pemaksaan, dan tentunya tidak setiap orang senang mendengarnya. Hanya jika hal itu dikaitkan dengan hukum yang berlaku, maka mau tidak mau, orang akan melakukannya.

Nah satu-satunya materi ilmu rekayasa yang dapat dikaitkan dengan hukum hanyalah peraturan perencanaan atau code & standar. Jadi untuk tahu perkembangan ilmu struktur kayu yang paling up-dated maka baca terlebih dahulu  SNI 7973-2013 (download PDF 6.5 Mb). Materi tersebut haruslah menjadi tempat pertama untuk dipijak.

Tentang SNI 7973-2013 sebenarnya aku telah mengetahui cukup lama, hanya saja materi bukunya relatif lebih tebal dibandingkan buku code lama, yaitu PKKI-1961, dan lebih rumit. Jadi waktu itu aku berpikir, mata kuliah kayu khan hanya 2 sks, berbeda dari mata kuliah baja atau beton. Apalagi sudah ditambah materi praktikum kayu, maka tentunya mahasiswa jangan dipersulit lagi. Jadi pakai saja materi PKKI-1961 yang pemakaiannya mirip dengan materi mekanika bahan. Toh itu sudah dapat dipertanggung-jawabkan untuk sebuah mata kuliah. Bagaimana di kampusmu ?

Itu pola pikir lamaku tentang mata kuliah struktur kayu. Adapun sejak kunjunganku ke perusahaan kayu di atas, maka terjadi perubahan paradigma. Ilmu kayuku harus di up-dated, maklum nanti tidak sekedar ketemu mahasiswa, bisa saja ketemu kasus nyata. Jadi kompetensi keilmuannya harus up-dated, sebagaimana ilmu struktur baja yang aku kuasai.

Sisi lain, pihak perusahaan kayu selama ini memakai mesin-mesin impor benua Eropa. Oleh sebab itu, code atau standar yang digunakan adalah code dari Eropa pula, yaitu Eurocode. Jadi aku terpaksa harus membaca pula agar dapat berdiskusi. Materi Eurocode tentang kayu, ternyata berbeda dari materi SNI 7923:2013. Itulah alasannya mengapa aku perlu mencari tahu, code dari negara manakah yang dijadikan rujukan SNI tersebut. Untung saja penyusun SNI telah menjelaskannya di kata pengantar, yaitu dari National Design Specification  atau NDS tahun 2012, atau dari negara Amerika. Ini code yang jadi rujukannya, yaitu terbitan dari AWC.

NDS-2012

Mengetahui bahwa code yang dijadikan rujukan atau tepatnya sumber terjemahan adalah dari Amerika. Itu berarti, sama juga seperti yang digunakan pada code struktur baja atau beton. Ini tentu menambah semangat lagi untuk mendalami SNI 7973-2013. Jelas SNI seperti itu adalah materi struktur kayu modern, yang tentunya lebih maju dari PKKI-1961 terdahulu.

Tetapi seperti biasa, mungkin karena pengalamanku sebelum-sebelumnya yang melihat bahwa di SNI sering terjadi kesalahan, sehingga dokumen seperti itu tidak bisa dijadikan sumber rujukan satu-satunya. Untuk itu perlu dilakukan perbandingan, Maklum yang menerjemahkan atau menyusun SNI yang dimaksud kadangkala tidak menguasai betul materinya. Bisa ditunjuk karena mungkin itu orang yang dikirim dari institusinya atau apa gitu. Juga kadang tata bahasa atau hasil terjemahan pada SNI, kadang dibacanya tidak lebih baik dari Google Translate, bisa juga tidak bermakna kecuali kesamaan istilah dan definisi dari kamus bahasanya.

Dengan berbekal pada keraguan yang ada, dan keinginan untuk mengulik sumber aslinya, maka dapat diketahui bahwa sudah ada sumber rujukan terbaru dari AWS, yaitu NDS versi 2015, ini sampulnya.

NDS-2015

 

Oleh sebab itu, maka langkah pertama adalah mempelajari ke duanya, yaitu SNI 7973-2013 yang terdiri dari satu buku setebal 318 halaman, dan buku NDS 2015 yang terdiri daru dua buku, satu buku utama (188 halaman) dan satu buku supplement (76 halaman).

Heran juga aku melihatnya, buku Indonesia yang umumnya hanya berupa terjemahan koq lebih banyak halamannya dibanding buku induknya. Saking herannya bahkan aku mencoba membandingkannya secara bertiga. Ini fotonya.

perbandingan-buku
Gambar 3. Code kayu Indonesia dan sumber rujukannya

Memang lebih tebal dan ternyata isinya tidak sama persis. Adapun yang baru dan berbeda dari NDS yang asli adalah adanya mutu kayu yang digunakan.

tabel-mutu-kayu
Gambar 4. Tabel mutu kayu di Indonesia menurut SNI kayu tebaru (2013)

Kode mutu kayu SNI 7973-2013 adalah berbeda dari kode mutu kayu PKKI-1961. Jika dulu untuk menentukan mutu kayu, maka digunakan jenis kayu sebagai pedoman. Adapun yang saat ini, itu tidak dilakukan lagi.

Pada tahap ini karena aku sudah membaca-baca terlebih dahulu buku-buku teks kayu yang modern, maka aku bisa memahaminya. Itu memang bagian dari ilmu kayu modern, yang hanya mengelompokkan kayu sebagai softwood (kayu daun jarum) dan hardwood (kayu daun lebar), serta berdasarkan nilai MOE atau Modulus of Elasticity dari kayu. Suatu cara grading (pemilahan) kayu modern yang bisa dikerjakan secara otomatis pakai mesin. Jadi nilai E di bagian sebelah kanan tabel mutu kayu (Gambar 4) di atas adalah acuan mutu kayu yang digunakan. Oleh sebab itu kode mutu (kolom sebelah kiri) kiranya adalah representatif dari nilai modulus elastis kayu tersebut. Jadi E25 menunjukkan kayu dengan E = 25000 MPa, atau kayu dengan E5 menunjukkan kayu dengan E=5000 MPa.

Pak Wir, siapa yang mengukur modulus elastisitas itu pak. Apakah toko kayu atau engineer-nya. Kalau engineer, lalu beli dulu di toko bangunan tanpa tahu mutu kayunya, lalu nanti kalau tidak memenuhi. Kayunya emangnya bisa dikembalikan lagi ?

Itu kelihatannya belum dibahas oleh para penyusun SNI, bahkan menjadi petunjuk bahwa SNI kayu terbaru belum bisa diaplikasikan di lapangan.  Nggak tahu siapa yang bertanggung jawab soal itu. Hal-hal seperti ini pula yang sebenarnya membuatku dulu tetap mengacu pada PKKI-1961.

Ketika kutelusuri di SNI, ada kujumpai pasal khusus yang membahas hal tersebut. Moga-moga ini jawabannya. Data yang kuperoleh adalah sbb :

aturan-pemilahan

Cukup jelas sebenarnya. Lalu aku buka referensi di halaman belakang SNI. Hebat, ini daftar pustakanya ternyata lebih banyak dari yang ada di NDS asli. Ini berarti penyusun SNI berupa keras untuk menambahkan literatur-literatur ilmiah. Wah aku pikir ini penyusunnya pasti adalah seorang pakar kayu t.o.p. Jelas orang biasa nggak mungkin bisa menambahkan daftar pustaka yang dimaksud. Lalu aku mencoba melihat apa referensi acuan No. 42 . . . 49 yang menjadi sumber rujukannya.

Ingat Tabel 4.2.1 tidak ada di buku NDS asli. Karena di SNI ada, berarti itu pasti hasil buah pikir dari para pakar Indonesia penyusun SNI tersebut.

Adapun buku acuan untuk penyusunan Tabel 4.2.1 di atas adalah buku-buku berikut, yang berlatar belakang warna kuning.

literatur-acuan

Cukup jelas, hanya saja setelah membaca buku acuan yang dimaksud, aku koq belum bisa memahami. Konteks di depan adalah soal pemilahan (grading) mutu kayu, adapun buku yang dirujuk koq berbicara tentang Distribution of Wheel Loads. Aku nggak mudeng. Ini ilmuku yang kurang, atau buku SNI yang aku telaah tersebut.

Ada penyusun SNI kayu tersebut yang bisa memberi penjelasan ?

Karena tidak sabar untuk mendapatkan kepastian (nggak yakin ada penyusun SNI tersebut yang menanggapi, maklum di SNI itu anonim ahlinya), juga punya keyakinan sejak awal bahwa kebanyakan SNI kita itu memang hanya sebagai pelengkap saja (tidak bisa diharapkan) maka aku langsung merujuk pada buku induk, yaitu NDS 2015 (yang lebih baru, karena SNI mengacu pada NDS 2012).

Wo, ternyata Pasal 4.2 dan subpasal 4.2.1 di atas menerjemahkan persis NDS 2015. Ini aku kutipkan yang dimaksud.

AWC-NDS-2015-39

Terbukti lagi khan, SNI 7973:2013 itu sebenarnya hanya terjemahan saja dari NDS . Bahkan No rujukan buku pustakanya saja, juga masih sama (padahal lembar pustaka versi Indonesia lebih banyak lho). Selanjutnya kita lihat susunan judul pustaka pada NDS (versi asli) sebagai berikut. Lihat yang distabilo kuning.

AWC-NDS-2015-199

Membaca buku acuan yang digunakan untuk grading mutu kayu dari lembar NDS (Amerika) asli, langsung menjawab dan paham. Berbanding terbalik jika membaca berdasarkan lembar SNI 7973:2013. Jadi yang membuat saya tidak paham soal kayu kalau membaca dari SNI adalah bukan karena saya tidak kompeten soal kayu, tetapi karena memang materi buku SNI-nya yang ngaco.

Uraian saya di atas juga menunjukkan bahwa adanya tambahan materi (seakan-akan materi SNI lebih lengkap dari NDS) ternyata tidak bersumber dari riset dalam negeri (Indonesia) tetapi sekedar hasil studi literatur pustaka saja. Oleh sebab itu saya tidak percaya lagi kalau ada yang mengatakan bahwa SNI kayu kita itu telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Itu hanya jargon untuk nakut-nakuti dari pakar kita kepada orang awam.

Juga adanya jumlah lembar pustaka yang sangat banyak di halaman belakang SNI, aku pertanyakan fungsinya. Untuk apa, rujukan yang paling sederhana di bagian awal saja sudah tidak pas. Itu khan hanya membingung-bingungkan saja. Mungkin dipikirnya, kalau bukunya tebal, maka dianggap berbobot. 😀

Ini daftar pustaka dari SNI kayu kita, saya bandingkan dengan NDS. Ini akan saya cantumkan halaman akhirnya saja.

pustaka-max
Gambar 5. Jumlah pustaka acuan yang terdapat pada SNI 7973:2013 (Indonesia)

Adapun yang ada di NDS 2015 (Amerika) jumlahnya lebih sedikit,  yaitu :

AWC-NDS-2015-200
Gambar 6. Jumlah pustaka acuan yang terdapat pada NDS 2015 (Amerika)

Luar biasa, para penyusun SNI kita telah menambah sebanyak 4 x lipat literatur rujukan, sangat banyak. Apa maksudnya, tentu harapannya biar berbobot. Tetapi kalau ternyata literatur yang begitu banyak itu tidak dirujuk, itu apa artinya. Menurut profesor saya ketika dulu menulis disertasi, itu artinya sampah. Nggak ada gunanya. Memang bagi orang awam yang memang tidak terbiasa membaca literatur, adanya banyak pustaka di suatu buku maka dapatlah dianggap sebagai berbobot, bermutu tinggi, tetapi bagi yang biasa, termasuk aku yang juga selalu mengingat pesan profesorku tadi, maka buku yang dimaksud juga berkelas sampah.

Dengan buku sekualitas itu maka tentunya jika digunakan sebagai rujukan satu-satunya untuk pengajaran kayu di dalam negeri (Indonesia) maka tentunya akan membuat bingung, kecuali jika yang membaca menelan bulat-bulat saja apa yang disampaikan.

Kondisi menelan bulat-bulat suatu acuan yang terkesan resmi seperti SNI, kelihatannya adalah kebiasaan para praktisi kita lho.  Mereka nggak mau mikir lebih jauh, apa yang tertulis, itu aja yang dilaksanakan. Hal-hal ini pula yang kadang membuat aku tidak bernafsu lagi mencari embel-embel profesi di belakang namaku. Kadang gelarnya seabrek, tetapi juga cara berpikirnya sama saja. Sorry, ini aku sampaikan karena kadang membaca di grup media sosial, bagaimana teman-teman praktisi yang dimaksud kadang bersikap terhadap terhadap SNI code yang ada. Padahal aku sering menjumpai, nggak seperti hasilnya. Coba lihat saja bab terkait baut mutu tinggi yang ada di buku struktur baja yang aku tulis, kelihatannya para praktisi nggak pernah baca. Di buku tersebut aku juga melakukan otokritik seperti ini tetapi untuk baja. Untuk kayu, ternyata sama saja. 😦

Nah bagaimana teman-teman dosen yang mengajar materi struktur kayu, apakah kondisi seperti ini kita diam saja. Bagaimana kepakaran saudara terkait perkembangan konstruksi kayu di Indonesia

Eit, koq ngajak-ngajak ya. Adanya keraguan terkait SNI kayu seperti yang sampaikan di atas mungkin tidak berpengaruh pada mutu konstruksi di Indonesia, maklum konstruksi kayu di sini khan dikerjakan pada level tukang, bukan oleh insinyur. I ya khan. Itu pula yang menjelaskan bahwa materi kuliah struktur kayu adalah optional, boleh diajar atau tidak, tergantung kesiapan dosen.

Kasihan banget ya. Itu khan menunjukkan materi kuliah Struktur Kayu adalah tidak penting. Sudah tidak dilirik oleh jurusan teknik sipil, ditambah lagi materi rujukannya juga amburadul. Itu ibarat pepatah sudah jatuh, ketimpa tangga lagi. Ringsek deh !

Mengeluh ya pak, kata Bapak, mengeluh itu tidak baik. Kalau sudah begitu, apa yang sebaiknya dilakukan ?

Mikir << mode ON>>

Pertama tentu saja berpikir, apakah para pakar kayu atau yang bergelimang dengan kayu tidak sadar akan hal di atas. Atau memang SNI itu tidak pernah dibaca, adanya hanya sebagai pelengkap saja.

Kedua, saya melihat bahwa masalah jangan dianggap sebagai hambatan, tetapi sebagai peluang. Masalahnya adalah bahwa kompetensi soal kayu di Indonesia adalah memprihatinkan. Banyak ahli Indonesia yang membuat paper tentang kayu sekedar agar bisa ikut konferensi atau jurnal Internasional. Maklum ada efek lokal, jadi melakukan itu dengan kayu Indonesia bisa dianggap sebagai suatu kebaharuan. Itu unsur penting yang dapat diterima oleh jurnal international.

Koq bisa begitu pak ?

Memang begitu, buktinya tidak ada ilmu yang ditularkan pada level madya, kemasyarakat.

Jadi perlu dong Bapak mengajak para ahli kayu lain di Indonesia untuk menularkan ilmu yang dimaksud ?

Idenya baik. Hanya saja masyarakat Indonesia itu kalau menulis sesuatu yang ilmiah, koq kelihatannya agak susah. Dibilangnya nggak ada uangnya. Ada juga yang saya lihat menelurkan buku, tetapi ketika dilihat (dibaca) kadang sulit memahaminya. Yah seperti SNI kayu di atas, terbukti khan. Jadi untuk menguasai ilmu struktur kayu modern ada baiknya langsung membaca buku induknya saja. Ini misalnya.

21151244_10155020526562239_8483500055015630033_n
Gambar 7. Buku-buku yang mendukung SNI 7923:2013 (berorientasi ke Amerika)
20748011_10154966777327239_7978214178998857756_o
Gambar 8. Buku terkait struktur kayu modern

Sampai pada titik ini, aku merasa bahwa aku diperlukan di struktur kayu. Persis seperti pada waktu lalu melihat situasi yang sama di struktur baja. Indonesia perlu belajar lagi tentang ilmu struktur kayu modern. Untuk itu perlu textbook struktur kayu berbahasa Indonesia, yang bermutu. Dalam text book itu perlu diungkapkan akan beberapa pola pikir yang harus diubah, seperti anggapan bahwa kalau pakai konstruksi kayu maka itu mengganggu lingkungan. Ini khan pernyataan kuno, dan sampai saat ini belum ada literatur teknik sipil berbahasa Indonesia yang mengkoreksinya. Oleh sebab itu menulis buku struktur kayu modern untuk Indonesia, adalah diperlukan sekali.

Setuju nggak. Bagi yang tertarik dan mau mendukung ide saya (nggak ada duitnya lho) silahkan beri info . Siapa tahu, hasil kerja anda yang bagus terkait kayu, dapat dimasukkan dalam illustrasi buku, nama anda akan disebutkan (jika terpilih).

Wah kalau begitu pak Wir perlu memohonkan pada dosen saya yang seorang profesor kayu. Siapa tahu beliau mau ?

O bukan itu maksudnya. Kalau soal menulis buku, maka saya cenderung ingin sendirian saja, itu lebih enak. Keterlibatan mereka lebih pada penyokong data yang asli Indonesia. Daripada saya menampilkan data dari luar negeri, maka kalau mereka juga punya yang khas Indonesia, khan lumayan untuk disebutkan. Ini data dari pakar kayu Indonesia dari uni . . . . Itu yang nanti kujanjikan akan kusebut di buku. Tahu sendiri khan mutu buku yang aku buat bersama Lumina-Press.

Saya kira sekian dulu ya tulisan kritik oto kritik saya terhadap SNI kayu terbaru. Ini saya buat dengan maksud agar Indonesia lebih maju, jadi jangan tersinggung ya kalau ada kata-kata yang . . . . .

Ini tulisanku yang lain tentang struktur kayu :

 

2 thoughts on “SNI Kayu – Kritik OTO Kritik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s