berinovasi atau hilang

Istilah inovasi jika mengacu wikipedia, yaitu reka baru, ditujukan pada proses atau sistem baru yang bisa memberi nilai tambah. Pendapat saya, istilah tersebut juga cocok diaplikasikan pada cara kita bekerja. Tentu tidak semua pekerjaan, hanya cocok untuk pekerja profesional yang mandiri, yang bekerja mengandalkan otak (kompetensi keilmuan). Dosen pada batasan tertentu bisa juga disebut profesional mandiri, tentunya selama memenuhi kewajiban dari kampusnya.

Note : saya punya teman dosen yang sangat inovasi. Tetapi karena inovasinya tersebut yang bersangkutan sering meninggalkan kampus dan tidak mengajar. Akibatnya yang bersangkutan harus berhenti, tetapi karena tetap berinovasi maka tetaplah jadi pengusaha sukses. Itu artinya karena inovasi maka tetap eksis dan tidak hilang. Maklum, dosen pada titik tertentu masih juga seperti pegawai. Harus tunduk pada peraturan yang berlaku, termasuk juga para Profesor.

Dosen bisa disebut profesional mandiri jika apa-apa yang diajarkannya adalah buatannya sendiri, dan hanya mengajarkan hal-hal yang jadi kompetensinya. Maklum bisa saja seorang dosen mengajarkan ilmu yang bukan topik kompetensinya, hanya karena ketersediaan slot mengajar. Kalau kondisinya seperti itu, yang bersangkutan hanya dosen atau staff pengajar, yang dilakukan sekedar agar rutin dapat gaji bulanan.

Nah dalam era pasca covid-19, dimana proses mengajar-belajar akan lebih banyak tergantung pada teknologi, akibatnya kebutuhan tenaga pengajar akan berkurang. Media-media pembelajaran akan banyak digantikan oleh content-content pembelajaran digital, yang bisa dipilih dari yang terbaik dari berbagai content yang ada. Akibatnya dosen yang sekedar mengandalkan ketrampilan mengajar, maka sedikit demi sedikit tentunya akan tersisih (hilang).

Cara sederhana untuk melihat bahwa hal itu akan terjadi adalah sangat gampang. Lihat saja sekarang ini, adanya peralihan media pembelajaran dari off-line ke on-line maka banyak dosen-dosen senior (tua) yang “kesulitan”. Padahal dosen-dosen seperti itu di hirarki administrasi pendidikan mempunyai gaji lebih tinggi dari dosen-dosen yunior (maklum karena lama pengabdian di institusi). Akibat adanya kesulitan beralih ke on-line, kedepannya tentu pihak kampus akan lebih mudah mengangkat dosen muda saja, yang tentunya gajinya juga bisa lebih “murah”. Ini khan keputusan yang rasional dari pengurus kampus.

Dosen-dosen senior akan tetap eksis jika yang bersangkutan tidak sekedar mengandalkan segi pengajaran saja. Dosen-dosen senior harus unggul dalam memproduksi content-content khusus, yang dalam era on-line ini tetap diperlukan. Apalagi dengan semakin kuatnya undang-undang hak-cipta bahwa karya-karya unik orang tidak boleh diambil sembarangan.

Agar mampu menghasilkan content-content khusus maka inovasi adalah faktor yang sangat penting. Jika tidak maka siap-siap saja untuk hilang. Kalau tidak percaya maka lihat saja video berikut, tentang perlunya inovasi agar perusahaan-perusahan tetap bertahan. Jika tidak, maka betapapun besar dan terkenalnya perusahaan maka akhirnya bisa hilang dan digantikan yang lain.

Jika perusahaan yang begitu besar dan terkenal di seluruh dunia saja bisa hilang, maka tentunya pribadi-pribadi yang lemah seperti kita akan lebih mudah terjadi untuk hilang tak berbekas.

Pentingnya inovasi menyebabkan saya perlu mengaktifkan lagi blog ini. Padahal gelar dan jabatan akademik tertinggi sudah diraih di dunia teori, di dunia praktis sebagian orang telah menyebutnya sebagai tenaga ahli dan mendapatkan keuntungan darinya. Bagaimanapun juga prestasi tersebut adalah milik masa lalu, untuk masa depan jika tidak bisa berinovasi maka dipastikan juga akan hilang akhirnya, seperti isi video di atas.

Salah satu cara agar punya ide untuk berinovasi adalah menuliskan ide di blog. Adanya komentar dari pembaca, maka ide akan dievaluasi. Jika idenya bagus, bisa saja diambil oleh orang lain. Hal ini yang biasanya membuat orang-orang pada takut menyampaikan ide secara terbuka. Tetapi karena saya berlatar belakang dosen, yang isinya lebih banyak kepada ide dari implementasi. Maka mengumpulkan ide atau ilmu yang terkoreksi (benar) adalah yang paling penting. Itu berarti wawasannya menjadi luas dan teruji. Kalaupun nanti dipanggil menjadi narasumber dapat melakukan review dengan baik dan efektif.

Melakukan review itu kelihatannya sepele, tapi bisa berdampak besar. Ini pengalaman sebagai staf ahli di lembaga pemerintah, pernah memberikan komentar atas presentasi suatu kontraktor besar. Komentar sebenarnya sederhana, bahwa rumus yang diambil untuk pengambilan keputusan bahwa sistemnya ok atau tidak, ternyata tidak relevan untuk kasusnya. Ini jika di akademisi dampaknya paling mengganti tulisan dengan ide lain, tetapi pada kasus real : itu artinya proses pelaksanaan konstruksi ditunda, tidak diijinkan untuk dilaksanakan. Perlu persiapan yang lebih baik lagi. Tahu nggak, besok paginya di kampus datang “segerombolan” staf kontraktor, untunglah mereka hanya minta konsultasi tentang teori yang ditanyakan kemarin. Jadi deh dikenal di dunia praktisi.

Komentar seperti itu bisa diberikan jika didukung pengetahuan dan wawasan yang luas. Agar mempunya hal tersebut maka perlu up-dated setiap hari, dan tidak puas hanya sekedar berkutat pada materi pengajaran yang telah diajarkan setiap harinya.

Sebagai dosen senior, saya bisa memahami bahwa menyiapkan materi perkuliahan itu paling susah pada awalnya. Jika sudah berulang, apalagi sudah bisa dijadikan materi di buku cetak (ini materi yang saya buat untuk struktur baja, atau tentang komputer rekayasa struktur). Untuk materi seperti itu (yang sudah dibuat buku) maka ketika mengajarkannya, pelaksanaannya seperti ngomong di luar kepala. Karena murid-muridnya berubah setiap tahun, dan materi pengajarannya relatif tetap, maka kalau sekedar bekerja sebagai dosen tentunya tidak perlu wawasan yang luas. Itu pula alasannya, mengapa di beberapa tempat ada dosen yang bisa punya pekerjaan double. Kalau sekedar mengajar, maka ilmunya bisa diperoleh dengan strategi bisa karena biasa. Jadi dosen pada suatu kondisi tertentu bisa disebut juga : tukang mengajar. Nggak salah itu.

Ok, saya kira ide hari ini tentang perlunya inovasi sudah diungkapkan. Apakah anda telah memikirkan sesuatu yang baru untuk memberi nilai tambah bagi cara kerja anda. Jika tidak, bersiap-siaplah untuk tergulung oleh dampak teknologi. Ingat dunia telah berubah, dimulai dari adanya Covid-19. Mau tidak mau, kita semua terdampak. Jika terdampak dan tidak kuat, maka protokol kesehatan akan mengantarkannya. Hilang tidak berbekas, karena keluarganya juga tidak tahu.

Maukah anda seperti itu. Inovasi jalan satu-satunya. Tetapi jujur saja, apakah yang kita sebut itu inovasi adalah benar-benar inovasi, maka hanya waktu yang dapat membuktikan. Persis seperti isi materi video di atas.

Selamat siang, Tuhan memberkati kita semua. Syallom.

Satu respons untuk “berinovasi atau hilang

  1. Dengan teknologi banyak perubahan pak, dan sebagian dosen senior ada yang sudah “pasrah” dan hanya berharap menunggu waktu pensiun saja.
    Padahal jika mau belajar lebih giat sedikit ttg teknologi, tentu akan sangat banyak kontribusi yg bisa di inovasikan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s