• Membaca buku tulisannya bapak Soemarsono aku tercenung sejenak, ada sebentuk puisi hasil terjemahan beliau yang menarik,  meskipun sebenarnya aku pernah mendengar isi puisi tersebut sebelumnya.

    Isi puisi tersebut aku dengar dari seorang teman separoh baya, doktor lulusan luar negeri yang menjelang pensiun. Waktu itu percakapannya sambil lalu, menceritakan perjalanan hidupnya, yang waktu muda ketika mahasiswa dapat dianggapnya sebagai seorang aktifis idealis. Idealis karena bukan materi tujuan kehidupannya, tetapi suatu bentuk  kehidupan ideal sosial-sejahtera (menurut kaca matanya).

    (lebih…)

  • Seperti biasa, kami para staf pengajar di Jurusan Teknik Sipil UPH ingin bisa berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan ilmiah yang ada. Meskipun demikian  karena jumlahnya terbatas (kurang dari 10) maka itu tentu tidak mudah. Untuk bisa dikatakan aktif maka minimal harus memasukkan makalah penelitian, dengan demikian ada waktu untuk tampil mempresentasikan dihadapan para peserta kegiatan ilmiah tersebut.

    Kegiatan seperti itu penting, pertama-tama adalah agar para staf pengajarnya bisa link-and-match atau mungkin tepatnya benchmarking dengan kolega-kolega sesama staf pengajar dari perguruan lain. Dengan mempresentasikan makalah berarti harus melakukan kegiatan ilmiah terdahulu dan dievaluasi (dilihat) rekan lain yang dianggapnya selevel, sama-sama dosen. Jadi harus mempersiapkan diri dengan baik, jika tidak mereka khan bisa juga mengevaluasi. Ini tentu berbeda jika berdiri mengajar di depan kelas. Jadi kalau sudah mengajar bertahun-tahun tetapi tidak pernah maju di depan seminar untuk presentasi, wah itu kebangetan (keterlaluan) namanya. 🙂

    (lebih…)

  • Setahun atau dua tahun yang lalu, kalimat pada judul di atas, yaitu :”awas tabung gas meledak !“,  paling-paling hanya dianggap rumor, atau dianggap karena kelalaian yang keterlaluan. Dalam hati kita selalu menghibur dengan memberi kata-kata sugesti: “buktinya, aku sudah memakainya bertahun-tahun dan aman koq! “.

    Kalimat-kalimat seperti itu yang selalu kita gunakan untuk menanggapi berita adanya ledakan-ledakan akibat pemakaian tabung gas. Selanjutnya karena merasa bahwa yang meledak itu terjadinya jauh dari rumah kita, maka dianggapnya itu soal sepele, sehari kemudian pasti sudah terlupakan. Bagaimana lagi, kalau sudah lapar, dan mau murah maka terpaksa memasak sendiri, dan satu-satunya cara yang relatif praktis di jaman ini untuk memasak sendiri adalah pakai kompor gas. Kompor listrik  masih jarang, paling-paling adanya yang kecil, hanya untuk memasak air untuk bikin kopi atau mie instans.

    (lebih…)

  • Judulnya terlalu lugas, awam pasti tidak tertarik, dan hanya dapat dipahami atau mungkin dicari oleh orang-orang yang sedang mengambil mata kuliah Struktur Baja 1, khususnya di jurusan teknik sipil UPH. Judul tersebut sengaja aku pilih, dengan harapan mudah di-searching oleh  mahasiswaku jika nantinya mau melihat atau belajar mata kuliah yang aku berikan.

    (lebih…)

  • Judul di atas saya kutip dari judul berita di KOMPAS di halaman pertama Kamis 27 Mei 2010 di sini. Adapun kalimat tersebut merupakan pernyataan Presiden SBY pada saat pelepasan jenazah Ibu Ainun Habibie di saat pemakamannya.

    (lebih…)

  • Sebagai seorang penulis, sekaligus pendidik maka saya meyakini bahwa segala sesuatu yang akan menunjukkan kinerja seorang manusia adalah dimulai dari berpikir. Dengan berpikir maka sesuatu dapat dimunculkan, dievaluasi apakah itu memang perlu diharapkan, jika demikian maka dapat direncanakan untuk akhirnya diusahakan. Jika diusahakan maka yang terjadi adalah keberhasilan (sesuatu itu terwujud) atau kegagalan (sesuatu itu belum terwujud).

    (lebih…)

  • Catatan : Terus terang ini diambil dari milis alumni SMA saya dulu, yaitu SMAN1 Yogyakarta atau orang sering mengenalnya sebagai SMA Teladan. Ceritanya lucu dan belum pernah membacanya. Ini mungkin salah satu bukti bahwa murid-muridnya memang kreatif-kreatif, sampai sekarang. Mas Wikanto, jokenya saya upload di blog ini ya, agar dapat dibaca para engineer.  🙂

    (lebih…)

  • Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, . . .

    Rasanya tepat benar nash di atas, ribuan tahun yang lalu orang sudah memahaminya, dan pada hari Senin tepatnya tanggal 17 Mei 2010 itu terjadilah, saudara kami terkasih biasa kami keluarga Jogya memanggilnya sebagai budhe Pudjo, telah  dipanggil menghadap Tuhan yang maha Esa.

    (lebih…)

  • Menjadi orang tua yang mempunyai anak menjelang dewasa kadang-kadang perlu memahami dunianya. Dunia remaja.

    (lebih…)

  • Itu pertanyaan atau pernyataan. Jelas suatu pilihan yang tidak ada untung untuk memilihnya. Benar nggak ?

    (lebih…)