Bagi pendukung konsep demokrasi, apalagi yang berkeyakinan bahwa demokrasi adalah tujuan, maka jelas bahwa adanya PILKADA saat ini adalah suatu kemenangan. Kalaupun itu menghabiskan dana sampai trilyunan rupiah, ya wajarlah, meskipun kenyataan bahwa rakyat jelata banyak yang memelas. 🙂
-
Kata pengantar Wiryanto Dewobroto
Terus terang, saya tersentuh artikel dari profesor Koh Young Hun (dari Korea), yang menganalisis kondisi di sini. Beliau mampu menganalisis kearifan lokal Indonesia yang sebaiknya terus dipertahankan.
Meskipun dari satu sisi, kita sekarang sudah banyak yang melek internet, punya kebebasan berpendapat (berdemokrasi katanya) dan banyak penduduknya bergelar sarjana bahkan ada yang bergelar doktor dari universitas dunia (‘world university’) ‘meskipun nggak kemana-mana’. 😐
Ternyata, menurutnya kita mengalami kemunduran, sehingga dianggap perlu nasehat agar kembali pada kejayaan masa dulu. 🙂
Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia
Kompas, Sabtu, 26 januari 2008 | 02:17 WIB
Koh Young HunTiga puluh tahun yang lalu, saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang sama.
-
Era demokrasi ? Ya, era sekarang ini khan.
Membaca harian pagi Kompas, beritanya selalu itu-itu saja. Memelas ! Mulai dari nasi aking di Cirebon yang menjadi menu sehari-hari, pemogokan guru, demo, dana proyek yang macet, pungli, palak, banjir, lapindo, mantan pimpinan yang nunggu hari H untuk berpindah dunia, tawuran di liga indonesia, kampak merah, gas yang menjadi Rp 120 rb per tabung, warga antri jatah raskin juga minyak tanah, gaji 2400 buruh belum dibayar, abrasi pantai di Cilacap sampai Bali, pembebasan tersangka korupsi, pembalakan liar, penggusuran, pemerasan, nenek nekat mencuri susu, dll.
Ada juga sih beberapa berita yang optimis, tapi itu tentang orang lain, tentang Barak Obama dan Hillary Clinton, tentang pangeran Akishino dan putri Kiko. Yah lumayan lah.
-
Dua kata yang mungkin mempunyai interprestasi yang berbeda pada setiap orang, tergantung caranya memandang (apa keuntungan baginya).
Jika era sekarang dapat dikatakan demokrasinya lebih baik dibanding era orba, apakah itu ada korelasinya dengan kesejahteraan penduduk ? Mana yang lebih penting, kesejahteraan atau demokrasi ?
-
HMTS yang anggotanya mahasiswa Jurusan Teknik Sipil UPH semakin sibuk mempersiapkan CE Week Event untuk tanggal 18-22 Februari 2008 nanti. Acaranya banyak, ada workshop (AutoCAD, Photoshop dan juga SAP2000) , ada seminar profesional sehari, ada lomba jembatan model, ada beberapa lagi. Meriah pokoknya !
Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan rutin sarana menyalurkan bakat dalam berorganisasi. Terus terang kita tidak mendukung mahasiswa-mahasiswa untuk ramai-ramai turun ke jalan berdemo seperti mahasiswa PT lainnya. Kita coba alihkan ke hal-hal yang lain yang lebih dekat dengan perkembangan intelektual mereka di bidang engineering. Jadi kalau ditanya soal produktivitas, maka meskipun jumlahnya relatif sedikit dibanding jurusan lain, tetapi mereka akan bilang ‘siapa takut’. Mereka pada PD-PD, karena tahu bahwa kegiatan-kegiatan sebelumnya yang mereka selenggarakan selalu “sukses” dan nggak pernah merugi.
-
Pagi hari tadi berita di radio mengabarkan bahwa bapak presiden kita SBY akan meresmikan beroperasinya jalur ganda kereta api rute Jogja-Kutoarjo.
-
Sebelumnya jika ada perlombaan Jembatan di universitas lain, maka pasti para mahasiswa kami sudah pada ribut ingin mengikutinya. Ya gimana lagi, bayangannya adalah untuk memenangi perlombaan tersebut, karena fakta dari tiga kali ikut, semuanya pasti membawa pulang sertifikat juara. Intinya mereka yakin bahwa mereka-mereka nggak kalah dengan yang lain, hanya sayang saja kemarin yang di PNJ tergelincir, proposalnya dianggap kurang siap, fokusnya pada perlombaannya sih.
Mungkin karena kecewa nggak bisa ikut perlombaan tahun lalu, padahal apa-apanya sudah siap. Mungkin juga karena suasana kompetisi benar-benar merasuk pada sebagian besar mahasiswa-mahasiswa saya tersebut, daripada menunggu orang lain menyelenggarakan perlombaan tersebut maka akhirnya mereka sendiri yang menyelenggarakannya.
-
Apa yang ada dalam benak kalau mendengar kata lisensi, tentu akan dikaitkan dengan hak memakai, jadi tepatnya jika kita mempunyai lisensi suatu software berarti kita punya hak legal untuk memakainya. Legal dalam arti kata tidak melakukan pelanggaran hak cipta yang sudah ada undang-undangnya.