• Apa yang ada di dalam benak anda, terhadap kata-kata pada judul kalimat di atas.  Tiap orang bisa punya pendapat yang berbeda-beda. Ada yang mengaitkan dengan pejuang kemerdekaan , dimana mereka berhasil melakukan perlawanan meskipun hanya bersenjata bambu runcing. Itu semua menyebabkan banyak orang-orang tua dulu menceritakan mereka sebagai pasukan atau prajuri gagah perkasa yang berani mati.

    Tetapi ada juga sebagian orang yang mengkaitkan dengan “manusia bom bunuh diri“, yang menurut mereka adalah juga orang-orang berani mati. Tapi ada juga sebagian orang lain, bahkan satu golongan agam yang berpendapat bahwa “manusia bom bunuh diri” tersebut sebenarnya bukan berani mati, tetapi pengecut karena nggak berani hidup.

    Lho koq bisa begitu.

    (lebih…)

  • Peristiwa yang kita alami di Jakarta sejak Jumat sampai hari ini tentunya perlu kita lihat maknanya. Jakarta yang katanya ibukota negara besar, lumpuh gara-gara hujan lokal. Apa pula itu, baru hujan sehari atau dua hari, langsung lumpuh dimana-mana, bahkan sekarang jalan akses ke bandara juga tidak bergerak sama sekali.

    Tidak hanya itu saja, bahkan busway, suatu solusi yang katanya baru dan ampuh ternyata juga nyerah oleh situasi seperti sekarang ini. Padahal namanya negara katulistiwa, hujan khan suatu yang biasa, bahkan kalau tidak hujan pasti pada bingung.

    (lebih…)

  • Saya tidak tahu, apakah karena sekarang jaman reformasi, sehingga informasi lebih baik, atau karena memang situasinya seperti itu. Rasanya setiap melihat berita televisi, negeri ini semakin kelihatan ‘anarki’. Sorry, apa kata tersebut terlalu kasar.

    Berita yang saya ingat sewaktu makan malam hari ini adalah dari stasiun tv TPI. Aku ingat sekali dipojok kiri bawah layar tv ada tertulis “courtesy of TPI”. Iya deh percaya. Beritanya adalah tentang pengrusakan massa karena masalah tanah di Kupang NTT.

    (lebih…)

  • Aneh nggak sih judul tulisan di atas. Kalau diubah jadi “dosen jualan ilmu”. Aneh juga nggak sih ?

    Ok, kalau begitu kata “aneh” pada pertanyaan di atas diubah jadi “halal” atau “legal” atau apa gitu. Jika dikembangkan lebih lanjut maka mirip juga dengan “guru jualan buku”, dan yang terakhir ini banyak yang mengkonotasikan dengan negatif.  Meskipun ada juga yang memberi apresiasi positip. Buku khan ilmu, dari pada jualan ekstasi. Nah lho. :mrgreen:

    (lebih…)

  • Ada yang memberitahu : “Pak Wir, mahasiswanya ada yang complaint lho !”

    Ha, tentang apa. Saya ? Baik-baik, ini perlu ditindak-lanjuti dengan baik. Bagaimanapun di UPH, mahasiswa itu adalah asset, akan menjadi buah yang menunjukkan siapa pohonnya. Jadi kalau ada complaint harus ditindak lanjuti dengan baik.

    Namanya mahasiswa, kalau tentang complaint nilai jelek, wah itu sudah biasa diterima. Saya sudah sering menyatakan, “jika nilai belum keluar, saya persilahkan untuk bertanya apa saja dalam usaha agar nanti nilai akhir bisa baik“. Memang itu salah satu tugas dosen yaitu membimbing mahasiswa untuk mencapai suatu kompetensi tertentu yang pada akhirnya ditunjukkan dalam bentuk nilai. Tapi kalau nilai sudah fix keluar, kecuali ada kesalahan teknis, jelas complaint seperti itu tinggal dijawab dengan senyum, “ya besok semester depannya lagi saya bantu agar baik ya.” 😀

    (lebih…)

  • Kalau hujan deras semalam suntuk seperti ini, paginya ketika akan berangkat kerja jadi ingat lagu “Nenek moyangku seorang pelaut“.

    Kenapa ya ?

    (lebih…)

  • Melihat berita TV malam ini, ditayangkan mahasiswa HKBP Nonmensen, Medan, menghancurkan kampusnya sendiri !  Ada juga di detik.com lho.

    Apa yang terjadi sebenarnya, saya kurang jelas. Tapi yang jelas, para mahasiswa tersebut membawa pentungan dan menghancurkan kaca-kaca dan jendela kampus tersebut. Itu semua terlihat jelas di TV. Jelas itu tidak bisa dibiarkan. Apapun alasannya, bersikap anarki adalah bukan ciri intelektual. Mestinya itu sudah masuk wilayah pidana. Bagaimana itu, mengapa polisi diam saja. Mana fungsinya sebagai pelindung warganegara. Juga lsm HAM yang gembar-gembor menuntut ditegakkan HAM, ada situasi kayak gitu koq diam saja.

    (lebih…)

  • Tidak jelas, apakah kata-kata di atas adalah suatu pernyataan atau pertanyaan.

    Bagi Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, itu jelas merupakan pernyataan, bahwa “guru yang bersertifikasi adalah yang berkualitas“. Hal tersebut telah ditindak lanjuti, yaitu dengan mengeluarkan anggaran biaya untuk memproses sertifikasi, dan itu telah mulai dilaksanakan. Kira-kira ada 2,7 juta guru dan mereka akan disertifikasi dalam 10 tahun ke depan, demikian penjelasan Kepala Subdirektorat Pendidikan Profesi Kependidikan Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, bapak Sederhana Sembiring [Kompas 28 Jan 08].

    Bagi saya, itu masih merupakan pertanyaan. Bahkan kualifikasi institusi yang memberi sertifikasi saja, masih perlu dipertanyakan.

    (lebih…)

  • Sore ini, setelah pulang dari kampus, aku mengajak anakku untuk mengibarkan bendera setengah tiang , untuk mengikuti pesan presiden SBY tentang hari berkabung nasional (selama tujuh hari), sekaligus memberi hormat dan mengucapkan selamat jalan kepada Jenderal Besar Soeharto, bapak pembangunan Indonesia, yang kemarin telah dipanggil sang Khalik.

    (lebih…)

  • Pertanyaan anda itu aneh, itu koq ditanyakan ke saya. Jelas dong ! Sehari saja kalau tidak pegang tuts keyboard rasanya gatal. Apapun yang kelewat mata, lalu ke otak untuk dipikir sejenak, lalu maunya lari ke tangan, untuk dituangkan ke keyboard. 

    Syukurlah waktu muda dulu sempat belajar ‘cara mengetik sepuluh jari buta’ dari tante Niek (alm.) Jadi itu membantu sekali. Jari-jari tangan nggak perlu bantuan mata untuk mencari tuts yang cocok. Semuanya langsung ada hasilnya di screen. Oleh karena itu, tema yang aku tulis sangat beragam. Kebanyakan ya disekitar kehidupanku aja. Apa yang aku tulis, tentunya nggak perlu diceritakan lagi. Silahkan ngulik aja blog ini, saya yakin, sampai sorepun mbacanya pasti belum kelar. :mrgreen:

    (lebih…)