• Saya mendapatkan surat via email, hanya saja kayaknya bukan untuk saya tetapi untuk engineer yang belum suka menulis, belum suka presentasi. Oleh sebab itu ada baiknya, surat yang bersangkutan saya sampaikan di blog ini. Agar himbauan beliau bisa dibaca. Ini surat yang aku maksud.

    (lebih…)

  • Tidak terasa waktu cepat berlalu, bulan November – Desember ini banyak sekali acara. Rencana acara tersebut ada di beberapa kota, yaitu mulai dari Yogyakarta, Bandung, Medan dan Jakarta. Waktu paling dekat ini, yaitu Sabtu, tanggal 14 November 2015 diundang di kota Yogyakarta, tepatnya di Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta.

    Ini merupakan undangan institusi tersebut yang kedua kalinya. Dua tahun lalu juga sekaligus launching buku terbitan Lumina Press yang pertama. Sekarang ini juga diundang untuk memberikan kuliah sekaligus untuk launching buku Struktur Baja. Tentu saja, tawaran tersebut langsung aku sambut gembira. Maklum bukan seorang pejabat, dokunya terbatas sehingga kalau launching buku numpang diΒ acara teman-teman yang punya acara dan mau direpotin. Harapannya sih agar acaranya bertambah meriah, dan sayanya juga senang. Itu namanya win-win solution.

    (lebih…)

  • Banyak memberi, banyak menerima. Itulah nats yang sering aku gunakan untuk memberi nasehat kepada anak-anakku. Ekstrimnya lagi, bahkan aku pernah mengatakan bahwa jangan harap menerima jika tidak mau memberi.

    Konsep agar mau memberi seperti di atas pada dasarnya bukan sesuatu yang baru. Itu sih nasehat lama yang sering dikatakan orang tua-tua kita. Sering kali itu dihubungkan dengan perilaku beragama, yaitu bersedekah bagi teman-teman Muslim, atau persepuluhan bagi teman-teman Kristen. Itu dihubungkan dengan sikap untuk berbuat baik yang nantinya akan mendapatkan balasan (pahala) dari Tuhan.

    (lebih…)

  • Bekerja pada institusi dengan jumlah dosen yang relatif terbatas (kecil), ada untung dan ruginya lho. Kecil disini dengan asumsi bahwa setiap kepakaran cukup dipegang oleh satu dosen. Itu juga berarti bahwa jika dosennya mempunyai kepakaran lebih, maka akan dirangkap. Maklum sebagai institusi swasta maka faktor efisiensi kerja selalu menjadi tolok ukur dari setiap keputusan yang dibuat.

    Oleh sebab itu untuk mata kuliah Computer Programming (2 sks), Steel Structure (3 x 2 sks), Timber Structure (2 sks), Computer Aided Structural Engineering (2 sks), yang mana dianggapnya aku menguasai dibanding dosen-dosen lain yang ada, maka diberikan aku tanggung jawab untuk mengelolanya. Satu sisi ini tentu suatu yang membanggakan karena dianggap menjadi pakar di bidang tersebut, tentu saja itu hanya berlaku di institusi tempatku bekerja.Tahu sendiri, disebut pakar khan kesannya terhormat. Tetapi karena menjadi satu-satunya yang dianggap pakar di tempat kerja, maka ketika harus menyiapkan materinya harus sendirian juga. Itu khan berarti perlu kerja keras. Itu mungkin sisi negatifnya.

    Kalau hanya sekedar “bergaya” di kelas saja di kampus sendiri, maka para murid tentu akan dengan senang hati menyebut kepakaran yang dimaksud. Betul nggak, karena kalau nggak mau mengakui, . . . he, he, . . . nilainya bisa-bisa nggak lulus.:D

    Masalahnya adalah jika pengakuan kepakaran tersebut disampaikan ke orang lain di luar kampus.Β  Nah belum tentu orang lain itu mau mengakui. Padahal salah satu unsur reputasi adalah adanya pengakuan dari orang lain, betul khan. Itulah makanya, meskipun di negeri ini hanya ratusan program studi teknik sipil, sehingga tentunya ada banyak pakar terkait bidang studi yang diajarkan, faktanya mereka hanya berani menyebut diri sebagai dosen untuk mata kuliah anu, dan bukan pakar di bidang anu. Kalau dosen khan memang tidak bisa dibantah, maklum ada institusi yang mau menggajinya. Itu juga berarti ada ratusan dosen tentang struktur baja, tetapi yang dapat disebut pakar struktur baja tentunya jumlahnya lebih terbatas.

    (lebih…)

  • Manusia boleh membuat rencana, tapi Allah yang memberi keputusan [Amsal 16.1]

    Memang dari dulu orang sudah paham, bahwa pikiran boleh apa saja, masalahnya apakah itu terwujud atau tidak adalah tidak sepenuhnya tanggung-jawab kita. Ayat di atas jika dimaknai, maka kita tentu tidak perlu merasa bersalah jika apa yang sudah direncanakan, toh akhirnya belum tentu terwujud. Jika terwujud, itu adalah kehendak ilahi, Tuhan Yang Maha Esa. Demikian juga kalau tidak, maka itu belum kehendak-Nya, belum waktunya saja.

    Berpegang pada pendapat di atas, tentu sah-sah sajalah jika di awal kita sudah dapat menetapkan target-target apa yang kita kehendaki. Bagi seorang dosen seperti saya ini, maka yang disebut target tentu tidaklah semuluk para politikus yang dengan dukungan anggaran bisa mengubah wajah negeri. Itu perlu karena tanggung-jawab politikus adalah kepada pemilihnya, yaitu rakyat negeri tersebut. Jadi mengubah wajah dalam hal ini tentunya agar kesejahteraan rakyat bertambah baik, dan bukan sekedar menumpuk pundi-pundi kekayaan bagi diri si politikus atau golongannya itu sendiri.

    Kalau dosen itu targetnya mengajar saja ya pak Wir ?

    Kalau mengajar di kampus, itu sih namanya bukan target. Itu adalah beban tanggung-jawab yang harus dipenuhi. Pemakaian ayat di atas tentu tidak tepat, karena kalau beban tanggung-jawab itu tidak dilaksanakan maka bisa-bisa haknya untuk menerima gaji bulanan akan dicabut. 😦

    Jadi mengajar, membimbing mahasiswa dan semacamnya adalah konsekuensi logis menjadi profesional dosen. Itu harus dilaksanakan dengan baik. Untuk memenuhi hal tersebut maka datang tepat waktu, disiplin adalah kewajiban. Tidak perlu dipikirkan saja, tetapi memang harus dilaksanakan dengan baik.

    Jadi kalau begitu apa yang perlu dipikirkan dan direncanakan bagi seorang dosen itu ya pak ?

    Wah bisa banyak itu. Termasuk juga memikirkan apa rencananya terhadap pengembangan potensi diri dalam mengajar. Jangan berpuas diri dengan apa yang telah dikerjakan. Karena masalahnya, bisa saja kita (dosen) merasa pede sekali dengan materi yang kita ajarkan, tetapi orang lain (pihak universitas atau pengambil kebijakan) melihat bahwa materi tersebut ternyata sudah tidak diperlukan lagi. Akibatnya materi yang diajarkan itu bisa saja dihilangkan dari kurikulum. Nah itu berarti potensi kita (dosen) untuk mengajar bisa hilang. Jika ternyata kemudian, dosen yang bersangkutan tidak bisa memenuhi target mengajar, dengan alasan bukan bidang keahlian, maka bisa saja sang dosen di delete dari daftar gaji yang harus dibayarkan universitas. Itu khan berarti disuruh resign. Bisa jadi pengangguran lho.

    (lebih…)

  • Jadi penulis itu memang harus “gila“, pede tinggi, gigih dan nggak punya rasa malu. Gitu kata teman sesama penulis ketika menghadiri acara pelatihan penulis yang diselenggarakan PT. Elexmedia Komputindo, beberapa waktu yang lalu. Saat itu aku hanya mengangguk-angguk saja, maklum belum terlalu pede. Sisi lain karena pada dasarnya aku ini khan bukan tipe ekstrovet, nggak suka tampil, jadi untuk mengamini pernyataan di atas, agak ragu juga.

    Dalam perjalanan waktu, pernyataan tersebut koq ada benarnya juga. Seperti diketahui, buku-buku yang aku tulis khan sifatnya khusus, tidak setiap orang “sanggup” atau bisa memahami dengan baik materi yang kutulis. Maklum, aku penulis tentang genre “engineering”, sehingga komunitas pembacanya juga tentu saja orang-orang yang berlatar belakang engineering juga. Jadi pantas saja, jika 3 atau 4 tahun lalu, ketika aku menawarkan judul-judul bukuku ke penerbit umum, mereka sebagian besar menolak, maklum latar belakangnya khan bukan teknik. Alasannya macam-macam, untuk buku tentang SAP2000, penerbit menolak dengan alasan program komputer yang digunakan sudah kuno. Ada juga penerbit yang berterus-terang dengan jelas-jelas menyatakan bahwa buku-buku teknik sipil, peminatnya terbatas. Ini khan seperti sama saja mengatakan bahwa orang-orang berlatar belakang rekayasa teknik sipil, tidak suka beli buku. πŸ˜€

    Jadi hal ditolak penerbit adalah biasa. Dalam soal tulis-menulispun, ada juga yang meragukan apakah bukuku layak terbit (ini waktu mencari sponsor). Tetapi bak pepatah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, maka akupun demikian, jalan terus dan tidak terpengaruh kata orang. Mungkin juga sikap itu didukung oleh kelulusanku mengambil program doktoral tahun 2009 dulu. Sejak itu, aku menjadi semakin pede saja dalam menulis. Dalam benakku sekarang, ada mungkin orang yang tidak setuju dengan tulisanku, tetapi yang setuju dengan pendapatku dalam tulisan itu tentu akan lebih banyak lagi di luar sono. πŸ˜€

    (lebih…)

  • Artikelku pada blog ini relatif banyak, dari tahun 2006 sampai sekarang, sudah ada sekitar 830 artikel. Saya kira tidak banyak orang yang mempunyai kebiasaan menulis seperti aku. Maklum, menulis bagiku adalah lebih menarik daripada ngrumpi dengan teman-teman. Meskipun itu kadang juga penting, yaitu untuk mengetahui kabar si anu dan si anu yang lainnya. Dengan jumlah artikel yang begitu banyak, dan konsisten aku tulis tiap minggu atau minimal tiap bulannya, maka blog-ku ini menjadi banyak dikunjungi. Tiap hari tidak kurang dari 500 klik lho. Jadi kalau tujuannya adalah duit, wah pasti lumayan juga ya. Hanya sayang, website yang aku gunakan tipe gratis yang tidak boleh dipasang iklan. Kecuali tentu saja, iklan buku-bukuku saja. πŸ˜€

    Artikel yang aku tulis, adalah tentang hal-hal yang menurutku menarik. Kadang temanya sederhana, tetapi kemudian aku ulas bahwa itu adalah sesuatu yang menarik. Kalau melihat komentar para pembaca, hal-hal yang ternyata membuat itu menarik, itu juga membuat mereka terinspirasi. Jadi caraku memaknai setiap peristiwa, dapat menghibur pembaca.

    (lebih…)

  • Bagi masyarakat Jawa yang bukan berlatar belakang pedagang, maka yang namanya investasi adalah berupa tanah / rumah dan emas, sebagian lain menganggapnya juga sebagai bentuk investasi adalah pendidikan. Tentang yang terakhir ini, khususnya tentang pendidikan anak, ada juga yang menganggapnya lain, bukan investasi, tetapi adalah kewajiban orang tua.

    Yah berbeda cara pandang. Beruntunglah, bagi keluarga besarku, yang namanya pendidikan dianggapnya adalah sebagai investasi. Itulah yang terjadi pada diriku.

    Karena yang namanya investasi, maka proses pendidikan yang diambil harus dipikirkan matang. Tidak sekedar telah memperoleh pendidikan saja, tetapi harus dipilih yang sesuai dengan kecocokan bakat dan minat masing-masing agar setelah proses pendidikan selesai akhirnya dapat berkembang dan berbuah. Jadi proses pendidikan di sini tidak sekedar mendapatkan ijazah saja, titik.

    Bagi anak-anak muda yang telah mempunyai cita-cita jelas, mau jadi apa kelak, maka bersyukurlah. Raihlah cita-cita tersebut sampai dapat, agar kamunya dapat tersenyum bangga dan dunia akan menjadi suka cita. Anakku yang pertama, sejak SMP sudah tahu apa cita-citanya, yaitu meniru kakeknya. Untuk itu maka dipilihlah SMA yang memungkinkan, meskipun jarak sekolah SMA-nya 10 x dari jarak sekolah ketika SMP dulu. Untunglah semua itu membuahkan hasil. Saat ini dia sedang menempuh bidang studi yang diminatinya, di kota Semarang. Satu atau dua tahun lagi harapannya telah selesai.

    Jadi bagi anak-anak muda, mulai bermimpilah sejak awal dan yakini betul “mau jadi apa kamu nantinya”. Jangan sepelekan itu, memang awalnya hanya sekedar idea (abstrak) tetapi lama-lama dan jika dapat diyakini betul, maka hal itu akan menggumpal membentuk materi seperti yang kamu bayangkan. Tentang hal itu, aku tidak sangsi. Ingatlah nats berikut, yang sangat diyakini selama berabad-abad oleh sebagian manusia di bumi ini.

    I tell you the truth, you can say to this mountain, ‘May you be lifted up and thrown into the sea,’ and it will happen. But you must really believe it will happen and have no doubt in your heart.
    [Mark 11:23]

    Paragraf di atas adalah sangat penting, karena awalnya semuanya itu hanya bermula dari keyakinan pada pikiran, keinginan dan mimpi. Itu semua akan mewujud pada suatu harapan yang diyakini dan akhirnya nantipun akan didapat.

    Memang sih, untuk mendapatkan keinginan akan sesuatu dan dapat diyakini betul pada diri sendiri, itu memang tidak gampang. Bagi orang lain bisa saja itu ideal, tetapi bagi diri sendiri bisa saja tidak menarik. Nah jika ada pertentangan seperti itu, maka jelas akan sulit juga mewujud. Jadi pendapat orang lain itu hanya sekedar wawasan yang perlu kita pikirkan. Kita tidak boleh menipu diri sendiri, kalau memang tidak menyukai atau menikmatinya.

    Ini sangat penting, terkait jika proses pendidikan akan dijadikan sebagai bagian dari investasi, dan bukan sekedar tanggung jawab orang tua, bahwa sudah memberikan pendidikan layak. Maklum, meskipun proses pendidikan sudah diberikan, tetapi ternyata si anak sendiri tidak cocok, hanya sekedar dapat ijazah, maka tentu kedepannya tidak bisa berbuah. Kalaupun berbuah tidak sebanyak jika orangnya tersebut menikmatinya. Jadi memilih pendidikan apa yang akan ditempuh dan dapat menikmati bidang tersebut, adalah hal yang sangat penting.

    Tentang bagaimana memilih itu, maka ada baiknya mempelajari pengalamanku, begini ceritanya.

    (lebih…)

  • akreditasi-sipil-uphSemoga dengan hasil akreditasi yang baru ini, kedepannya Jurusan Teknik Sipil UPH dapat membawa kemajuan di bidang rekayasa di Indonesia.Β  Semoga.

  • Minggu depan ini, tepatnya di hari Selasa dan Rabu tanggal 25 – 26 Agustus 2015 di Jakarta akan berlangsung perhelatan besar ilmiah bagi komunitas teknik sipil, yang diselenggarakan oleh HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia).

    seminar-HAKI

    Informasi lengkap, silahkan di-download sendiri brosurnya, PDF (3 Mb).

    Event di atas biasanya diadakan setahun sekali, dan waktu serta tempatnya hampir selalu sama, yaitu sekitar bulan Agustus bertempat di hotel Borobudur, Jakarta. Oleh sebab itu, acara ini juga sering digunakan sebagai ajang reuni atau bertemu. Para pesertanya sendiri banyak yang datang dari luar Jakarta. Tidak heran jika event ini merupakan acara dengan peserta terbesar bagi komunitas teknik sipil, kekhususan konstruksi. Jadi jika tidak ada halangan, maka aku juga berencana untuk datang menghadirinya.

    Ketika aku bercerita tentang keberadaan seminar HAKI di atas, penerbit bukuku, yaitu LUMINA Press, senang dan bahkan berbinar-binar mendengarnya. Bayangkan saja, pada acara tersebut akan hadir sekitar 500 – 700 peserta dengan latar belakang teknik sipil, kekhususan konstruksi atau struktur. Menurutnya, itu acara tepat sekali untuk dijadikan ajang promosi buku terbitannya.

    (lebih…)