• Banyak tulisan-tulisan saya, judulnya memakai ‘tanda tanya’. Padahal menurut petunjuk penulisan yang baik maka tanda baca sebaiknya dihilangkan pada bahasa tulis. Tapi aku tidak peduli, bagiku bahasa adalah alat komunikasi, tanda baca disitu menunjukkan bahwa hal di atas bukanlah pernyataan tertutup tapi masih terbuka terhadap ide lain yang ada. Gimana setuju.

    Ke judul di atas. Pertanyaan yang pendek tetapi saya yakin akan menohok dan tidak sederhana dalam menjawab. Jika pertanyaan itu dari kalangan umum, maka kita guru dapat langsung menjawab dengan bangga (?) bahwa

    • menjadi guru adalah pekerjaan mulia, mencerdaskan bangsa
    • adalah pahlawan tanpa tanda jasa
    • karena kita ingin mengabdi agar calon-calon penerus bangsa ini hebat
    • dll
    • dll

    (lebih…)

  • Meskipun dididik , ditraining dan dihidupi dengan kompetensinya dibidang rekayasa (civil engineering, computer programming) tetapi tidak menganggap bahwa bahasa adalah sesuatu yang sepele, bahkan mempunyai pemikiran bahwa pelajaran berbahasa itu lebih penting dari pelajaran matematika. Begini maksudnya, jika seseorang disuruh memilih pertama-tama kali dalam hidupnya, pelajaran mana yang harus dikuasai terlebih dahulu maka dipilihlah bahasa yang utama, baru setelah itu yang lainnya.

    Jadi saya termasuk salah satu engineer yang berpikir bahwa penguasaan bahasa adalah sangat penting, sangat berguna karena satu-satunya cara untuk mengungkapkan ide atau opini yang dipunyainya. Bahkan selalu getol mengajak mahasiswa, engineer dan orang lain untuk mempraktekkan kemampuan berbahasa tadi dengan sering menulis, misal ini, ini, ini juga setiap hari diusahakan untuk mempunyai kebiasaan menulis di blog ini. Ya seperti ini.

    Meskipun demikian melihat kebijaksanaan-kebijaksanaan berbahasa yang ada di negeri ini saya cukup prihatin.

    Mengapa ?

    (lebih…)

  • Tadi pagi baru saja selesai rapat dosen di Jurusan Teknik Sipil UPH. Ada informasi dari Kajur bahwa berkaitan dengan kurikulum baru maka muatan wajib, mata kuliah Bahasa Indonesia dinaikkan, dari 2 sks menjadi 3 sks, perintah DIKTI katanya.

    Bagi pecinta negeri ini pasti bersyukur: “Hiduplah Indonesia Raya !”.  Sebagian besar pasti setuju mendukung hal tersebut, meskipun untuk itu maka ada mata kuliah rekayasa tertentu yang harus menjadi korban. Kenapa ? Ya untuk mempertahankan jumlah SKS yang totalnya 144 atau 146 sks itu. Yah, namanya aja cinta negeri, jadi harus berkorbanlah !

    Pak Wir setuju khan ? Demikian seorang teman dosen bertanya.

    (lebih…)

  • Pagi pk 6.30 bersama-sama keluarga sudah ikut misa di Gereja Katolik Bartolomeus, Bekasi. Beribadah minggu, sekaligus merasakan kebersamaan bersama dengan anak istri untuk mensyukuri nikmat yang telah diterima minggu ini, sekaligus mohon berkat dan perlindungan untuk minggu esok.

    (lebih…)

  • Bagi siswa, dosen, ataupun pembicara maka mempersiapkan suatu presentasi adalah sangat-sangat penting sekali. Ini tentunya dengan asumsi bahwa bidang yang akan disampaikan adalah eksak (science and engineering).

    Rasanya sangat jarang atau hampir belum pernah melihat ada pembicara di bidang rekayasa misalnya, yang berbicara di depan hanya mengandalkan materi lesan saja. Memang ada sih, misalnya karena listrik mati atau file-nya hilang padahal acara sudah berjalan, dan kalau harus mengambil kembali waktunya tidak mencukupi. Pada kondisi tersebut maka pembicara yang berhasil akan berganti topik yang dibicarakan , tidak detail tapi lebih umum sifatnya sehingga materi lesan yang diberikan hanya terbatas yang orang lain (pendengar) juga memahami konteksnya (dapat membayangkannya). Hal tersebut misalnya, ketika menceritakan pengalaman pribadinya dulu ketika belajar di LN, atau pengalamannya di suatu tempat tertentu, yang mungkin lebih mudah menceritakannya dalam bentuk kata-kata dibanding jika harus menggambarkan atau memilih illustrasi yang mewakili perasaannya itu.

    (lebih…)

  • Universitas Pelita Harapan (UPH) sedang mempersiapkan diri untuk menerima ISO. Hari ini sedang ada latihan pre-assesment. Ada beberapa hal yang kami-kami para anggotanya harus memperhatikan, misalnya tentang Quality Policy-nya.  Meskipun secara prinsip kami semua sudah tahu, tetapi sekarang harus ada kesamaan formulasi, bahkan sampai penggalan kata-kata yang digunakan. Harus seragam ! ISO sih.  :mrgreen:

    Jadi harus dihapalkan lagi. 

    (lebih…)

  • Ketua Delegasi Indonesia pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, 3-14 Desember, yang juga mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, prof Emil Salim tersinggung, untuk tidak mau memberi penjelasan di depan forum CSF (Civil Society Forum), Jumat 7/12 kemarin.Penyebabnya adalah ulah pemuda dari beberapa LSM yang tertampung pada CSF yang berkali-kali meneriaki  “ΘΛ¿Ψ“  kepada Prof. Emil Salim.
    [Kompas, Sabtu, 8 Desember 2007]

    Berita kecil di halaman 13, bayangkan seorang yang secara formil dianggap kompeten tentang lingkungan dan mewakili negara ini, ternyata dipermalukan oleh komponen bangsa sendiri yang membawa bendera LSM.

    Bagaimana pendapat anda ?

    (lebih…)

  • Berita TV pagi ini bahwa akibat protes rakyat Indonesia yang bertubi-tubi akhirnya pemerintah Malaysia terpengaruh juga, sehingga dinyatakan untuk tidak memakai tarian Barongan lagi sebagai tarian promosi pariwisata di negeri jiran tersebut. Semua brosur atau situs pemerintahan negeri jiran yang masih menyebutkan tarian tersebut akan dihapus. 

    Bagaimana puas, puas !  :mrgreen:

    He, he, he, bagi yang cinta negeri, mestinya gitu ya ? 

    Setelah melihat lebih lanjut siaran tersebut, aku sendiri bingung harus bersikap ? Begini sih penyebabnya .

    (lebih…)

  • Rame-rame bersama keluarga menghadiri misa mingguan merupakan kebiasaan rutin keluarga kami setiap minggunya. Minggu ini ambil misa yang sore hari, tadi pagi ada acara lain sih dengan istri. Selesai misa, seperti biasa anak-anak pada minta jajan makanan kecil di depan gereja, cukup lima ribu untuk berdua, eh ternyata udah pada seneng. Syukurlah untuk suatu keceriaan pada anak-anakku, belum perlu duit banyak. Sebelum pulang, nganter sebentar anak yang pertama untuk berdoa di depan goa bunda Maria. “Besok senin mau ulangan umum“, katanya. Aku terharu.

    Wah rajin sekali pak ?

    Bukan begitu. Acara misa mingguan sengaja aku jadikan sebagai alasan bagi keluargaku untuk bersama-sama menyisihkan waktu untuk suatu kebersamaan. Terus terang karena aku dan istriku sama-sama bekerja, apalagi istriku kerja di industri (bukan guru maksudku) maka lebih sering dianya tiap hari pulang lebih malam. Sering baru pk 21.00 baru sampai rumah. Tapi syukurlah hari Sabtu dan Minggu kami berdua libur. Jadi dalam dua hari tersebut kami berusaha ada acara yang memaksa kami untuk bersama. Dan kelihatannya acara tersebut ya misa itu. Yah, sambil menyelam minum air gitulah. Syukur lagi jika Tuhan berkenan dan menambah berkat bagi keluarga kami. :mrgreen:

    Dalam acara misa tersebut, aku terkesan. Kelihatan romo-nya bukan orang jawa (luar jawa maksudku). Dalam kothbahnya tentang hari akhir (yah begitulah, sebenarnya ngantuk juga) eh dianya cerita agar kita selalu siap, jangan nyantai-nyantai saja, bisa terlena. Jadi jangan seperti pepatah orang jawa yang “alon-alon waton kelakon“, yang nyantai aja.

    (lebih…)

  • Ini merupakan rangkaian cerita dari artikel saya terdahulu tentang “pekerjaan tiang bor”, hasil presentasi mahasiswa teknik sipil UPH (selama 15 menit) pada ujian sidang kerja praktek kemarin. Proyek yang diamati adalah pelaksanaan pondasi tiang bor di daerah Bogor. Dari penjelasan mahasiswa tersebut dan juga foto-foto dokumentasinya, saya coba merangkai menjadi artikel ini.

    He, he, he, “cerita mahasiswa yang 15 menit tersebut” seakan-akan berfungsi sebagai tombol untuk mengaktifkan memori di otak saya yang mungkin sudah sangat lama tidak terungkapkan. Seperti kakek yang dengan senang menceritakan pengalaman lama kepada cucunya. Begitu pula aku dengan adanya blog ini. Jadi kalau nanti ada yang sudah nggak sesuai, mohon maklum ya. Ngakunya aja kakek.  🙂

    (lebih…)