• Dengan ini, sebagai pribadi dan sekaligus mewakili civitas akademi Universitas Pelita Harapan, khususnya Jurusan Teknik Sipil UPH, kami ingin menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya

    bapak Dr. Ir. FX. Nurwadji Wibowo,
    dosen tetap Jurusan Teknik Sipil Universitas Atmajaya Yogyakarta,

    pada hari ini pk 02.45 di RS. Husada Jakarta.

    Semoga damai abadi yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus Kristus dianugerahkan kepada beliau di rumah Bapa di sorga.

    Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi penghiburan, ketabahan, dan pengharapan dari Tuhan Bapa di sorga.

    Amin.
    (lebih…)

  • Pulang kerja sore dari Lippo Karawaci (Tangerang) sampai Taman Galaxi (Bekasi) merupakan suatu ‘kenikmatan’ tersendiri, bayangin jaraknya sekitar 55 km, jadi PP-nya sekitar 110 km. Temen-temen di daerah mungkin nggak kebayang. Yah itulah Jakarta, kota Metropolitan, jangan lihat jaraknya tapi lihat waktu perjalanannya. Sekarang lumayan pulang sampai rumah sekitar pk 17.00, dulu waktu jadi engineer (di konsultan), rata-rata pulang pk 20.00. Jaraknya sih separonya. Pilih mana ?

    Dalam perjalanan pulang selalu tune ke radio Smart FM, isinya menarik. Ini mungkin salah satu ‘kenikmatan’ yang dapat diperoleh setiap sore. Sore ini pada salah satu session, radio Smart FM menampilkan pembicara James Gwee. Beliau membahas  tentang “karyawan di abad 21“, sbb :

    Perusahaan pada abad 21 menghadapi persaingan ketat, jika tidak mampu bersaing akan mudah terlibas oleh keberadaan perusahaan yang baru yang tumbuh menjamur. Kondisi tersebut meningkatkan resiko terjadinya PHK bagi karyawan.

    Apa yang harus dilakukan karyawan agar terhindar dari PHK .

    (lebih…)

  • Panembahan Ismaya memandang Mahesa Jenar dengan hampir tak berkedip. Ini adalah suatu masalah yang paling rumit, yang selalu tumbuh hampir setiap saat. Alangkah menyedihkan, bahwa seseorang melakukan persiapan sampai seteliti-telitinya untuk melakukan tindak kekerasan. Padahal seharusnya, setiap bentuk kekerasan pasti harus ditentang. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan kenyataan, bahwa di antara anak manusia di dunia ini masih saja ada yang sama sekali tidak menghiraukan kemanusiaannya, yang dengan segala cara, menindas manusia-manusia lain. Terhadap manusia-manusia yang sedemikian ini, wajarlah bahwa ada usaha-usaha untuk mencegahnya.

    Usaha terakhir dari pencegahan itu adalah dengan cara yang sama sekali menyimpang dari tuntunan cinta kasih manusia. Sebab kadang-kadang yang harus dilakukan adalah nampaknya berlawanan dengan ungkapan cinta kasih itu sendiri. Yaitu kekerasan, perkelahian serta persoalan hidup dan mati.

    (lebih…)

  • Menarik juga jargon-jargon dunia pendidikan, Kompas hari ini menampilkan iklan universitas tertentu (bukan uph) yang mencari dosen yang passionate about entrepreneurship di bidang bisnis, pariwisata, desain komunikasi visual, interior desain, IT dan psikologi.

    Apakah anda tahu, apa yang dimaksud ?

    Setahu saya, dosen yang ideal adalah dosen yang tahu ilmu teori, ditunjukkan dengan gelar legal (master atau doktor) yang didukung oleh produktivitasnya dalam bidang penelitian dan publikasi; serta ilmu praktek, pengalaman bekerja sebagai profesional pada bidang ilmunya sehingga tahu di lapangan bagaimana menerapkannya.

    (lebih…)

  • Bagi guru yang berpengalaman lama (senior), tentu dapat merasakan kehormatan menjadi GURU, diGUgu dan ditiRU , yaitu setiap kata ucapannya didengar (diperhatikan / dilaksanakan) dan menjadi teladan. Oleh karena itulah, untuk mempertahankannya maka para guru akan berusaha dan bersikap agar kehormatan tersebut tetap ada. 

    Padahal sikap hormat para murid (dan orang tua murid) ada pamrihnya, yaitu agar guru tersebut memberi nilai baik. Jadi ujung-ujungnya, kehormatan seorang guru adalah karena wewenangnya menilai murid. Hal tersebut diketahui benar oleh guru senior. Agar setiap penilaian yang diberikan di-amini maka tentu saja proses pembelajarannya harus benar, jika sampai diprotes dan gurunya ternyata yang salah maka tentu akan menurunkan martabat guru itu sendiri.

    Hubungan seperti itulah yang menyebabkan mengapa guru yang gajinya relatif kecil masih diminati.

    Tetapi apa yang terjadi dengan adanya UN (Ujian Nasional) ?

    Para guru yang telah berinteraksi bertahun-tahun dengan para muridnya akan mengenal betul setiap karakter muridnya, sehingga ketika ujian akhir maka yang akan dievaluasi adalah apa-apa yang telah dipelajari bersama selama itu. Harapannya tentu agar murid-murid semuanya lulus. Yang paling tahu materi yang telah dipelajari bersama, tentu saja gurunya itu sendiri.

    Tahu-tahu ada instruksi dari pusat : materi untuk evaluasi bukan dari guru yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran tetapi dari pemerintah berupa UN. Resikonya apa, ya bisa saja materi yang diujikan tidak sama (berbeda fokusnya) dengan materi yang telah dipelajari selama ini. Akhirnya apa.

    Terjadi ketidak-sambungan antara proses pembelajaran yang bertahun-tahun tersebut dengan proses evaluasi kelulusan yang hanya sesaat, tetapi menentukan itu.

    Kalau anda benar-benar menghayati sebagai guru, tentu akan merasa terhina, bahwa kerja keras anda selama proses pembelajaran tersebut tidak dihargai sama sekali. Eksistensi anda sebagai guru tidak dipercaya lagi.

    (lebih…)

  • The following pictures are of the same place but taken under different seasons !!

    There was a man who had four sons. He wanted his sons to learn not to judge things too quickly. So he sent them each on a quest, in turn, to go and look at a pear tree that was a great distance away.

    The first son went in the winter, the second in the spring, the third in summer, and the youngest son in the fall. When they had all gone and come back, he called them together to describe what they had seen.

    The first son said that the tree was ugly, bent, and twisted.

    The second son said no it was covered with green buds and full of promise.

    The third son disagreed; he said it was laden with blossoms that smelled so sweet and looked so beautiful, it was the most graceful thing he had ever seen.

    The last son disagreed with all of them; he said it was ripe and drooping with fruit, full of life and fulfillment.

    The man then explained to his sons that they were all right, because they had each seen but only one season in the tree’s life.

    He told them that you cannot judge a tree, or a person, by only one season, and that the essence of who they are and the pleasure, joy, and love that come from that life can only be measured at the end, when all the seasons are up.

    If you give up when it’s winter, you will miss the promise of your spring, the beauty of your summer, fulfillment of your fall.

    Moral :

    Don’t let the pain of one season destroy the joy of all the rest.
    Don’t judge life by one difficult season.
    Persevere through the difficult patches and better times are sure to come some time or later

    (lebih…)

  • GURU = di GU gu lan di ti RU , artinya orang yang diikuti petunjuknya dan patut diteladani, suatu artian yang penuh falsafah moril, sedangkan istilah dosen hanya sekedar sebutan profesi pengajar di perguruan tinggi. Jadi GURU mestinya lebih membanggakan dibanding DOSEN. Kenyataan, karena DOSEN umumnya ‘materi’-nya lebih kelihatan maka dianggap lebih hebat. Apa benar demikian, ya saya kira tergantung situasi dan kondisi (tidak berlaku umum).

    Itulah masyarakat kita, yang melihat kesuksesan seseorang selalu dilihat luarnya saja. Itu jugalah yang mendorong orang kalau ada kesempatan akan bertindak korupsi, atau untuk level tertentu mencontek juga tidak apa-apa asalkan nilai UN-nya di atas ambang lulus yang ditetapkan.  Itu khan yang terjadi saat ini.

    Hari ini KOMPAS membahas kecurangan yang terjadi selama UN. Mendengar kata ‘curang’ maka sepengetahuan kita tentulah adalah inisiatip murid atau joki yang ketahuan guru. Yah, kalau ada kesempatan dan gurunya tidak tahu mau apa ?

    Jadi gurunya yang harus waspada.

    Kenyataan yang terjadi ternyata kecurangan tersebut berasal dari para gurunya, kalau begitu lalu bagaimana ? Guru yang seharusnya jadi panutan bahkan yang memberi contoh, ternyata tidak demikian adanya.

    (lebih…)

  • Proses peer-reviewer saat ini sedang berlangsung, adapun yang bertugas menjalankan proses evaluasi makalah adalah:

    1. Structure and Construction with peer reviewers:
      *  Prof. Dr.-Ing. Karl-Heinz Reineck (Uni-Stuttgart, Germany)
      *  Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra (UPH, Indonesia)
      *  Dr. F.X. Supartono (Indonesia)
      *  Dr.-Ing. Ir. Andreas Triwiyono (UGM, Indonesia)

    2. Geotechnical Engineering, with peer reviewer:
      * Prof. Dr.-Ing. Pieter A. Vermeer (Uni-Stuttgart, Germany)
      * Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra (UPH, Indonesia)

    3. Construction and Project Management, with peer-reviewer:
      * Prof. Chan Weng Tat, Ph.D (NUS, Singapore)
      * Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra (UPH, Indonesia)

    4. Material, with peer reviewer:
      * Prof. Jenn-Chuan Chern, Ph.D (NTU, Taiwan)
      * Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra (UPH, Indonesia)

    5. Infrastructure, with peer reviewer:
      * Prof. Jurgen Hothan (Uni-Hannover, Germany)
      * Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra (UPH, Indonesia)

    Sampai malam ini, tanggal 26 April 2007, dimana seharusnya besok sudah diumumkan hasilnya, ternyata baru beberapa dari peer-reviewer yang memberikan hasilnya. Itupan ternyata ada beberapa yang diberikan catatan NA (Not ACCEPTED). Jadi ada beberapa yang ditolak oleh beliau-beliau tersebut.

    Jadi List of ACCEPTED Abstract yang akan akan kami buat akan berbeda dengan List of Incoming Abstract terdahulu. Untuk mengenang para pemakalah yang telah berpartisipasi aktif dalam  acara UPH tersebut yaitu dengan mengirim abstract-nya maka List of Incoming Abstract tetap disimpan sebagai kenang-kenangan di blog ini (karena pengelolanya sama).

    Selanjutnya List of Incoming Abstract di http://eacef.wordpress.com akan dihapus dan digantikan dengan halaman List of ACCEPTED Abstract. Terus terang pagi ini tanggal 27 April 2007 hasil pengumumannya belum ditampilkan, menunggu saran dari the Chairman (Prof. Harianto). Pada prinsipnya panitia berusaha agar semakin banyak peserta pembawa makalah yang diloloskan akan semakin baik, bagaimanapun juga konferensi EACEF ditujukan sebagai forum silaturahmi teman-teman seprofesi nasional dengan internasional, tetapi agar kualifikasinya memenuhi standar mutu internasional maka keputusan para peer-reviewer yang memang ahli dan bereputasi tersebut harus diikuti.

    Mohon maaf jika hasil dari proses evaluasi tersebut kurang berkenan, moga-moga di lain waktu akan lebih baik lagi. Salam.

    Ini rekaman para peserta yang menanggapi CALL of Paper EACEF, semuanya ada 145 paper. Terima kasih anda telah berupaya keras.

    (lebih…)

  • Ujian kualifikasi telah lama berlalu (feb 2006 lalu), meskipun demikian baru hari ini evaluasi resmi terhadap usulan riset disertasi mengkristal dalam sidang Ujian UP untuk akhirnya dapat dilakukan tindakan nyata.

    Mencari topik penelitian, memformulasi permasalahan dengan kualifikasi Ph.D ternyata tidaklah segampang menulis paper. Tahapan ini merupakan suatu proses penting, ibarat seseorang sedang merencanakan suatu perjalanan dan menentukan kota yang dituju. Tentunya akan ada pertanyaan, mengapa ke kota tersebut, apa yang dapat diperoleh jika ke kota tersebut, apakah cukup layak untuk ke sana atau harus ketempat lain. Semakin jauh kota yang dituju semakin berat, tenaga, waktu dan biaya yang harus dikeluarkan. Jika saja ada kota lain yang lebih dekat, lebih mudah perjalanannya tentulah hal tersebut dapat dipilih. Tetapi masalahnya adalah bagaimana menyakinkan hal tersebut bahwa ke kota yang (menurut kita gampang) itu sudah mencukupi.

    (lebih…)

  • Konferensi Internasional European Asian Civil Engineering Forum (EACEF) dengan alamat web di  http://eacef.wordpress.com , ternyata mendapat sambutan hangat rekan-rekan Asia (di luar Indonesia) untuk turut serta berperan aktif dalam acara tersebut dengan mengirimkan abstrak-paper.

    Hal tersebut tentu saja menggembirakan sekali 😉 🙂 .

    Selain kerja keras TIM dari UPH , maka peran DAAD sebagai sponsor yang memberi dukungan finansial yang signifikan tentu tidak dapat dipungkiri, itu juga berkat alumni Jerman di Indonesia.

    Menarik untuk ditelaah bahwa prosentasi rekan-rekan dari People Republic of CHINA cukup besar yaitu 15.2 % dari paper yang masuk (ada 19 dari 125 abstrak yang kami terima sampai tanggal 5 April ini). Jadi P.R. China menjadi negara pembawa makalah terbesar setelah Indonesia (semuanya ada 16 negara dari 1st author yang berpartisipasi). Sedangkan paper dari pemakalah Indonesia hanya sebesar 57.6%.  Yah cukup bisalah disebut Internasional.

    (lebih…)