• HAKI atau Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia adalah asosiasi profesi teknik sipil terbesar di Indonesia (sepengetahuanku lho). Oleh sebab itu, banyak alumni sarjana teknik sipil yang jika bekerja pada bidangnya akan berusaha menjadi anggota asosiasi ini. Apalagi saat ini dari pemerintah ada persyaratan akan perlunya “gelar insinyur profesional” yang dikeluarkan oleh asosiasi profesi, dimana salah satunya adalah dari HAKI. Oleh sebab itu keberadaan asosiasi seperti HAKI ini menjadi penting dan tidak bisa diabaikan lagi oleh para profesional teknik sipil yang bekerja di bidang konstruksi khususnya.

    hotel-borobudur
    Gambar 1. Hotel Borobudur, Jakarta (Sumber : http://www.booking.com)

    Kegiatan HAKI yang paling menonjol (menurutku) adalah rutin menyelenggarakan seminar ilmiah tahunan, yang biasanya (selalu) diadakan di bulan Agustus dan bertempat di hotel Borobudur, sebuah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta. Acaranya selalu konsisten di bulan tersebut tiap tahunnya, kecuali jika bentrok dengan hari lebaran.

    Karena selalu konsisten setiap tahuna dan mampu menarik perhatian para anggotanya yang jumlahnya ribuan dari seluruh tanah air, maka acara seminar HAKI akan sangat meriah, didatangi tidak kurang oleh 500-600 profesional, mulai dari mahasiswa sampai profesor, insinyur praktisi sampai owner proyek besar, dan juga ibaratnya datang dari Sabang sampai Merauke. Oleh sebab itu acara ini juga sangat diminati oleh para sponsor,  yang diberi kesempatan untuk membuka stand produk-produknya di lobby luar ruang pertemuan. Acaranya meriah, bahkan lebih meriah dibanding acara-acara seminar ilmiah di kampus. Jadi bisa ikut acara ini, baik menjadi peserta, apalagi kalau jadi pemakalah, adalah sangat istimewa. Maklum di acara ini berkumpul para profesional-profesional di bidangnya. Bisa jadi ajang bisnis, reunian maupun networking / marketing.

    Karena begitu strategisnya acara HAKI ini, maka sudah tiga kali berturut-turut, mulai tahun 2015, 2016 dan tahun 2017 ini, saya meluangkan waktu dan pikiran agar bisa berpartisipasi aktif, khususnya sebagai pemakalah (pembicara). Itu penting  karena penerbit buku-buku karyaku, LUMINA Press diberi kemudahan untuk membuka stand buku di acara tersebut. Satu sisi ada upaya dari penulis dan penerbit untuk memasarkan buku-buku produknya pada target pembacanya,  satu sisi untuk mengenalkan para profesional di bidang konstruksi dengan produk-produk buku yang dapat mendukung meningkatkan profesionalitasnya. Win-win solution lha.

    spanduk-seminar
    Gambar 2. Spanduk selamat datang ke peserta seminar (Sumber : Dhim’s Rudy)

    Karena tempat tinggalku di pinggiran Jakarta, maka untuk menghindari terlambat karena macet, maka pagi-pagi sekali sudah berangkat. Jadi tidak heran sebelum pk 7.00 sudah tiba di hotel. Kelihatannya termasuk klotter pertama peserta seminar yang datang, setelah menunggu akhirnya mendaftar ke panitia yang pertama. Ruang masih kosong, setelah men-tag tempat duduk, maka acara pertama adalah mendatangi stand LUMINA Press, melihat kesiapannya.

    (lebih…)

  • Besok adalah Kamis tanggal 17 Agustus 2017, kita bersama akan merayakan hari kemerdekaan NKRI yang ke-72.

    Sebagai warga negara yang sangat mensyukuri akan arti kemerdekaan, maka besok pada Upacara Proklamasi Kemerdekaan di kampus, saya akan tulus dan hormat pada Sang Saka Merah Putih, yang melambangkan KEMERDEKAAN INDONESIA !

    Kemerdekaan ini bagiku sangat bermakna, khususnya kalau melihat perkembangan akhir-akhir ini di masyarakat yang kadangkala tidak bisa dinalar, khususnya jika dikaitkan dengan “keyakinan agama” . Kesannya, pokoknya kalau terkait agama, maka semuanya adalah benar adanya. Nggak perlu diperdebatkan. Persoalan itu tidak hanya terjadi di awam saja, bahkan telah  melibatkan orang-orang yang disebut awam sebagai tokoh agama. Adanya kondisi seperti itu tentu dapat dibayangkan jika negara ini tidak berdasarkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Jika itu terjadi, maka tentu golongan agama minoritas akan terdampak nyata dan bisa-bisa tidak bisa merasakan apa arti kemerdekaan ini.  Oleh sebab itu kalau masih ada teman-teman dari golongan agama minoritas yang tidak mensyukuri akan arti kemerdekaan ini, lalu apa lagi yang mau diharapkan.

    (lebih…)

  • Pelan tetapi pasti, semua produk yang akan digunakan di Indonesia harus memenuhi kriteria mutu tertentu, yang disebut SNI atau Standard Nasional Indonesia. Maksudnya penting agar masyarakat Indonesia terhindar dari produk abal-abal yang tidak menjamin keselamatan. Contoh penerapan SNI yang mulai digalakkan adalah produk helm :

    Kalau nggak berlogo SNI maka dianggap helm-nya tidak bermutu. Ini adalah logo resmi SNI yang dimaksud.

    1
    Logo SNI yang khas

    Adapun logo tersebut nantinya akan ditampilkan pada helm, untuk menunjukkan bahwa produk tersebut bermutu sesuai standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

    helmsni
    Helm berlogo SNI yang dicetak embosh

    Logo seperti pada helm tersebut penting, khususnya untuk membedakan helm-helm murah yang bertebaran dijual di pinggir jalan, yang bisa saja hanya indah untuk dilihat tetapi belum tentu berfungsi seperti yang diharapkan. Maklum, untuk mengetahui apakah bermutu, tentunya tidak mudah. Faktanya ada yang bagus dan ada pula yang jelek. Jadi adanya lambang SNI tersebut dapat menjadi tanda, bahwa mutunya sudah mengikuti standar minimum.

    Memang sih, tidak adanya logo SNI tidak berarti bahwa produk helm yang dimaksud adalah abal-abal.  Misalnya saja, helm mahal yang dipakai para pembalap asing profesional. Belum tentu ada logo SNI di helm mereka. Meskipun lombanya ada di sini. Mereka tentu akan lebih percaya helm mereka sendiri, meskipun tidak ada logo dimaksud.

    Terlepas dari logo pada kasus helm pembalap asing tersebut, maka pada umumnya di Indonesia ada kesan bahwa produk yang berlogo SNI, ada jaminannya.

    besitulanganbetonsni
    Tulangan baja dengan logo SNI

    Jadilah logo SNI sebagai salah satu aspek pemasaran penting, khususnya bagi merk dagang yang belum terkenal. Kalau yang sudah terkenal seperti produk Krakatau Steel misalnya, maka ada atau tidaknya logo SNI tentunya nggak terlalu ngaruh. Hanya saja tentu pemerintah berkepentingan untuk memastikan bahwa logo SNI harus juga dicantumkan pada produk unggulan yang ada, karena kalau nggak ada, maka nanti yang lain tidak merasa bangga memakai logo tersebut.

    (lebih…)

  • Selain sebagai seorang pengajar atau kerennya Dosen maka di sisi lain, saya adalah seorang Penulis. Bagi yang sering mengunjungi blog ini, tentu tidak perlu jelaskan lagi. Aku sering menulis rencana buku-buku yang akan diterbitkan. Sayang, tahun ini belum ada buku yang baru lagi. Di luar pembaca blog ini, memang banyak yang tidak tahu. Maklum buku-buku karanganku tidak dijual di toko-toko buku yang biasa. Adanya hanya di toko buku on-line saja, di sini.

    (lebih…)

  • Ini ada berita yang bikin heboh grup WA teman-teman di fakultasku. Dari kantor berita on-line, ini judul lengkapnya.

    Edisi 07-08-2017
    Publikasi Ilmiah RI Tiga Besar Dunia
    http://koran-sindo.com/page/news/2017-08-07/0/8

    Tahu sendiri khan, yang namanya teman-teman fakultas, itu berarti anggota-anggotanya adalah dosen. Bagi seorang dosen, yang namanya publikasi ilmiah adalah sesuatu yang penting. Bahkan bisa disebut penting sekali. Maklum dari publikasi ilmiah tersebut seorang dosen akan berbeda posisinya dari dosen yang lain. Bagi dosen, publikasi ilmiah berarti suatu kum penilaian. Bila mendapatkan kum yang tepat maka jabatan profesor bukanlah sesuatu impian lagi, karena memang begitu persyaratannya. Jadi intinya, dosen dan publikasi ilmiah adalah saling terkait.

    (lebih…)

  • Pertemuan tahunan ahli-ahli konstruksi se Indonesia yang paling besar adalah yang diselenggarakan oleh HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia), yaitu pada acara :

    Seminar Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia 2017

    Waktunya memang rutin, yaitu setiap bulan Agustus dan yang biasa diselenggarakan juga di Flores Ball Room, Hotel Borobudur, Jakarta. Lokasinya memang mudah dicapai, baik dari arah Timur (Bekasi) maupun Barat (Tangerang). Lokasi parkir juga gampang, apalagi jika datangnya pagi-pagi, pasti ada tempat.

    (lebih…)

  • Sorry, judulnya jangan di-complaint ya. Maklum bahasanya campur-campur, asing dan Indonesia sekaligus, terkesan tidak konsisten. Jadi yang merasa ahli bahasa pasti akan mencak-mencak. 😀

    Sebagai orang yang awalnya adalah engineer, lalu baru sekarang menjadi pemakai bahasa aktif (penulis) maka menerjemahkan hanya berdasarkan kaidah yang biasa ada, koq nggak sreg begitu. Erection merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris dan sebenarnya sudah diserap menjadi kata baku bahasa Indonesia sebagai ereksi. Tetapi saya koq rasanya merasa nggak begitu pas untuk menyandingkannya dengan kata baja . Kata ereksi koq cocoknya jika dikaitkan dengan dokter Boyke. Tul nggak ?!

    Tidak hanya itu saja, saya merasa bahwa kata ereksi merujuk pada suatu kondisi (statis). Adapun erection (dicetak miring) merujuk suatu proses (dinamis). Nah yang terakhir itu rasanya pas kalau yang memakai adalah seorang insinyur . He, he ini mungkin subyektifas pribadi ya.

    Nah terlepas setuju atau tidak setuju, yang jelas kata erection (dicetak miring) sudah aku gunakan pada buku karanganku berjudul Struktur Baja (edisi awal) maupun untuk buku edisi ke-dua, dan kelihtannya sudah menjadi referensi banyak engineer.

    (lebih…)

  • Jangan protes ya dengan judul. Maklum mungkin saja ada yang merasa kalau judulnya salah atau tidak tepat. Pasti deh itu yang masih muda-muda, yang merasa bahwa judul di atas tidak pernah dijumpai di sekolahnya. Juga pasti ada yang merasa kalau kelas 3 itu khan untuk anak-anak kecil, Sekolah Dasar. Adapun SMA adalah untu yang sudah remaja.

    Maklum aku menulis judul tersebut dengan cara pikir di jamanku dulu. Adapun yang kumaksud adalah pendidikan anak-anak yang setara dengan kelas XII di jaman sekarang. Tahapan pendidikan akhir untuk remaja menjelang masuk perguruan tinggi. Clear ?!

    (lebih…)

  • Risih juga mendengar gonjang ganjing para politikus, apalagi itu pak mantan dengan komentar-komentarnya. Untuk komentar yang kubaca, di awalnya sih seperti ada kesan sebagai seorang penasehat lihai, yaitu memberi petunjuk sana-sini.  Padahal jika dipikir-pikir, dulu saja saat menjabat tidak banyak yang dapat dibanggakan.  Eh akhir-akhir ini, pak mantan koq komentarnya menjadi beda. Mungkin apa karena nasehat-nasehat yang disampaikan tidak dianggap ya . . . . . . koq jadi seperti kritik gitu lho.   😀

    Iya betul pak, “tidak dianggap” itu masalahnya !

    Wooo, segitunya ya. Tapi memang betul juga sih. Tidak dianggap itu adalah masalah besar bagi orang yang suka ngasih nasehat. Jujur saja, orang yang memberi nasehat umumnya berpikir dianya itu lebih baik (unggul) lho dari orang yang diberi nasehat. Selanjutnya jika yang diberi nasehat itu mendengarkan dan melaksanakan, apalagi bisa membuktikan bahwa yang nasehatnya manjur, misalnya masalahnya jadi selesai. Maka itu akan memberikan kepuasan bagi sang penasehat. Puas karena apa yang diberikannya dalam bentuk nasehat itu terbukti “kebenarannya” dan yang tak kalah pentingnya bahwa itu adalah pengakuan bahwa sang pemberi nasehat memang oye. Jika karena merasa “dianggap” dapat memberikan kepuasan, kelegaan maka jika “tidak dianggap” tentunya adalah kebalikannya. Bisa kecewa gitu lho . . . .

    Itu juga alasannya mengapa aku pilih-pilih jika akan memberikan nasehat. Kebanyakan adalah kepada muridku, maklum aku kerja di kampus dan mendapat sebutan guru atau kerennya dosen, yang secara formal menunjukkan bahwa yang bersangkutan berhak atau bahkan wajib memberikan atau mengajarkan nasehat-nasehat yang baik, khususnya di bidang yang dikuasainya atau ada kaitannya dengan pendidikan si murid. Jadi kalau para murid itu tidak mau mendengarkan, maka bisa-bisa tidak lulus risikonya. 😀

    Nah karena murid-muridku banyak yang ingin lulus dari perkuliahan yang aku ajarkan, maka mereka banyak mendengar dan mengikuti nasehat-nasehat yang aku berikan. Itu makanya, aku nggak koar-koar di berita untuk memberikan nasehat, seperti pak mantan. Maklum di kampusku sendiri banyak yang ingin mendengarkan nasehatku. He, he, << ge er mode ON>>

    (lebih…)

  • Hati-hati dengan pepatah di atas, itu benar-benar ada dan bahkan masih berlaku nyata sampai detik ini !

    Pepatah itu ingin menunjukkan bahwa adanya satu tindakan tidak benar, yang mungkin bisa saja semula dianggap sepele dan tidak terpikirkan, ternyata bisa berdampak menghilangkan semua hasil pekerjaan baik yang telah dilakukan selama bertahun-tahun lamanya. Jika hasilnya masih berupa barang material, tentunya tidak terlalu bermasalah karena bisa dicarikan gantinya, tetapi kalau yang hilang adalah immaterial. Woo, sangat susah untuk mendapatkannya.

    Hal immaterial yang dapat hilang adalah reputasi atau nama baik atau kehormatan. Tahu sendiri untuk mendapatkan kepercayaan orang akan reputasi atau nama baik atau kehormatan, itu perlu waktu dan kesempatan. Jadi tentunya untuk mendapatkannya lagi tidak mudah, apalagi usia orang yang kehilangan tersebut sudah berbeda, bertambah tua (semangat dan tenaga sudah berbeda).

    (lebih…)